Hari mulai senja di Omah Sedulur Credit Union Kridha Rahardja (CUKR), Wedi, Klaten, Jawa Tengah, 24 Juli 2026. Layar bekas backdrop MMT telah dibentangkan. Proyektor dan komputer telah disiapkan bersamaan dengan beberapa kursi yang ada di garasi rumah itu. Senja itu, Komunitas Teritori (Komter) Wedi Timur mengadakan temu teritori yang dikemas dalam acara Nonton Bareng (Nobar) Film Dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi”. Selain terbuka untuk anggota CUKR, acara itu juga terbuka untuk khalayak umum.
Beberapa saat setelah azan Magrib berkumandang, pemutaran film pun dimulai. Sebelumnya Staf Pemberdayaan CUKR, Dewi Musfiroh melalui sambutannya, mengajak para peserta untuk bersama-sama menyimak dan belajar dari film tersebut.
Film “Besok Kita Nanem Lagi” mengeksplorasi tantangan lintas generasi petani beras di Indonesia. Sardi, seorang generasi baby boomer yang tangguh, tumbuh dengan nilai-nilai pertanian tradisional. Dan Ryan, seorang gen Z yang bersemangat bergulat dengan teknologi, perubahann iklim, dan tuntutan pasar yang terus berubah.
Sardi dan Ryan tumbuh di era yang berbeda yang menghasilkan pola pikir, tantangan, dan peluang yang berbeda. Namun keduanya menghadapi tekanan serupa seperti perubahan tata ruang, rendahnya generasi petani, krisis iklim, hingga kebijakan proteksionis dan populis.
Film ini diproduksi oleh Center for Indonesian Policy Studies (CHIPS), lembaga think tank non profit dan non partisan di Jakarta, di bawah kampanye Masa Depan Pangan (MAPAN).
Pemangku Teritori Wedi Timur, Lukas Awi Tristanto, mengajak peserta tidak hanya menonton film tersebut, namun membacanya sebagai salah satu objek belajar. “Tidak hanya menonton, namun, kita berusaha menggali inspirasi atau nilai yang ada di dalam film tersebut untuk kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Terlebih saat ini, di pekarangan Omah Sedulur sedang disiapkan lahan pertanian terpadu versi sederhana dengan memadukan budidaya sayur, ternak ayam, budidaya ikan, dan pengolahan sampah.
Begitu pemutaran film usai, ia pun memfasilitasi diskusi yang digali dari film tersebut.
Seorang anggota CUKR, Alfrid dari Klaten menyampaikan perlunya memanfaatkan lahan-lahan yang belum tergarap untuk dimanfaatkan dalam budidaya tanaman pangan. Ia pun mendorong CU melakukan edukasi misalnya sampai ke tingkat RT maupun RW untuk memotivasi warga dalam memanfaatkan lahan pertanian.
Seorang petani dari Delanggu, Budi Santoso menyampaikan, kerap kali petani berada dalam posisi yang tidak menguntungkan seperti jatuhnya harga komoditas ketika panen.
Pengawas CUKR, L. Sukamto dalam kesempatan itu menyoroti salah isu pertanian yaitu menyempitnya lahan pertanian. Ia pun mengajak peserta untuk melihat dan menyadari aset yang dimiliki seperti tanah yang ada untuk kemudian memanfaatkan dan mengoptimalkannya. Ia berbagi kisah bahwa di pekarangan rumahnya, ia menanam berbagai macam sayur dengan metode pertanian alami ala Korea yanga disebut JADAM.
Demikian halnya dengan Yunanto, ia telah memulai praktik mengoptimalkan lahan pekarangan yang ada untuk dimanfaatkan dalam budidaya tanaman pangan, ikan dan unggas.
Komite Pendidikan CUKR, Cicilia Yiyin, berbagi pengalaman menarik. Ia mengalami trauma ketika kakek dan neneknya bertani. Biaya bercocok tanam yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan penjualan hasil panen. Rugi. Sejak itu, ia tidak ingin menjadi seorang petani. Harapannya terkabul. Ia tidak menjadi petani, namun menjadi guru. Dalam perkembangannya, terlebih dalam rumah tangga, ternyata ia banyak bersentuhan dengan pangan seperti sayur. Ia pun tersadarkan bahwa bertani itu sangat penting. Mulai dari kebiasaan merawat bunga, ia pun mulai menanam sayur, terlebih ketika ia telah mengikuti pelatihan bertani dengan metode JADAM. Meski ia harus bergelut dengan aroma pupuk yang tidak sedap, namun ia menyukainya.
Diskusi yang terinspirasi dari film tersebut cukup hangat. Tak terasa jarum jam dinding menunjuk angka setengah delapan. Udara makin dingin di malam pada musim kemarau bulan Juli ini. Setidaknya ada satu benang merah, bahwa lahan seberapapun luasnya tidak dibiarkan begitu saja. Namun, dengan lahan yang ada meskipun terbatas, mesti dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan dan ketahanan pangan.
