Program Asung Pitulungan Diluncurkan, Berharap Umat Sehat dan Siap Berbagi Berkat

Posisi matahari sudah cukup tinggi. Satu per satu umat lansia di Wilayah IV Paroki Santa Maria Bunda Kristus, Wedi, Klaten mulai berdatangan di kompleks Lahan Pertanian Terpadu “Panjurung Pawon”, Desa Ngering, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Minggu, 28 Juni 2026. Setelah mengisi daftar hadir, mereka antre untuk memeriksakan kesehatan sambil melihat-lihat lahan pertanian terpadu. Para petugas kesehatan telah siap memeriksa umat lansia itu. Hari itu adalah jadwal peluncuran Progam Asung Pitulungan yang diselenggarakan dalam rangka 70 Tahun Paroki Wedi.

Edukasi merawat lingkungan

Beberapa saat setelah pemeriksaan kesehatan, tibalah saatnya prosesi peluncuran Program Asung Pitulungan. Setelah dibuka dengan lagu Indonesia Raya, acara pun dilanjutkan dengan sambutan. Ketua Wilayah IV, Agustinus Priyono menyampaikan apresiasi atas program Asung Pitulungan yang dibuka di wilayah IV, Ngering Raya, sebelum bergulir ke 5 wilayah lainnya. “Saya hanya bisa berterima kasih kepada panitia Asung Pitulungan yang diharapkan menjadi contoh, diharapkan bisa berkembang ke wilayah atau lingkungan yang lain,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Asung Pitulungan, Lukas Awi Tristanto dalam sambutannya menyampaikan, Asung Pitulungan mengusung 4 gerakan, yaitu pertanian terpadu, pemeriksaan kesehatan dan kunjungan kasih, bedah rumah, dan aksi karitatif. Pertanian terpadu, menurutnya, suatu metode untuk memadukan antara budidaya sayur, ternak, budidaya ikan, dan pengolahan sampah dengan bantuan maggot. Semua itu saling berhubungan membentuk rangkaian siklus. Dalam metode pertanian ini, limbah dari dapur setelah diolah sedemikian rupa menjadi pakan ternak atau pupuk, pada akhirnya kembali ke dapur dalam wujud pangan seperti telur, daging atau sayur.

Kunjungan kasih

Kepala Desa Ngering, Nicolaus Rahmanto menyampaikan apresiasinya  bahwa program dari Paroki Wedi ini telah membantu dan menyatukan masyarakat. “Kegiatan Asung Pitulungan tentu salah satu program dari Paroki Wedi berupa pertanian terpadu, pelayanan kesehatan, bedah rumah, karitatif, yang sungguh menyatu dengan warga masyarakat,” kata Rahmanto.

Terkait dengan lahan pertanian terpadu, Rahmanto melihat keadaan global sedang mengalami krisis. “Maka, kita bersama-sama masyarakat, mari Anda dan saya sama-sama dengan sungguh-sungguh memperhatikan tempat-tempat yang kurang efektif untuk produksi tanaman-tanaman sayur, supaya Anda juga tidak kesulitan kalau mencari sayur,” katanya. Ia pun mengajak, acara hari itu tidak hanya berhenti pada formalitas, namun tetap dilestarikan.

Dalam kesempatan itu, Rahmanto juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kerukunan demi kemajuan desa.

Peresmian Lahan Pertanian Terpadu Panjurung Pawon

 

Pastor Paroki Wedi, Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr menjelaskan, program Asung Pitulungan adalah salah satu dari program Panca Kridha dalam rangka 70 tahun Paroki Wedi yang bertema “Asung Pitulungan, Asung Pangapura”. Target dari program Asung Pitulungan adalah Brayat Sehat dari Berkat. “Tidak hanya sehat fisik, namun juga sehat rohaninya. Maka, wujudnya seperti apa? Yaitu bisa mengampuni sesama,” katanya.

Ia melanjutkan, 70 tahun Paroki Wedi bertema “Asung Pitulungan, Asung Pangapura” dan bersemangat “Brayat Sehat dadi Berkat” juga dilakukan dengan menjaga kerukunan, persatuan, dan perdamaian. Salah satu yang juga bisa dilakukan untuk bergerak dalam semangat itu adalah melakukan tindakan kreatif, mau mencipta.

Pemeriksaan Kesehatan

Terkait dengan pertanian terpadu, Romo Edy mengatakan, hal itu dimaksudkan untuk melatih mental merawat. “Sebenarnya kebun ini adalah melatih mental merawat,” katanya. Membangun mental merawat, menurutnya, tidak mudah terlebih saat ini budaya instan sangat mempengaruhi. Maka, menurut Romo Edy, mental merawat harus dilatih. “Mari kita belajar bersama, sinau bareng, dan kemudian yang mau kita hidupkan adalah mental merawat, ngopeni, itu yang perlu kita hadirkan,” katanya.

Romo Edy mengapresiasi umat Lingkungan Maria Goretti, Ngering, yang sudah berinisiatif untuk membuat jadwal untuk merawat lahan atau kebun. “Saya senang sudah ada jadwal yang ngopeni, semoga setia. Dan itu nanti, kita bisa berbagi berkat pada banyak orang,” katanya.

Kunjungan kasih dan pemeriksaan kesehatan

Ia berharap pihak desa dan Gereja bisa memotivasi anak-anak TK, PAUD atau SD dan PIA untuk berkunjung di tempat itu untuk belajar. “Belajar bersama di sini. Diajak foto dulu, setelah itu diajak menanam dan memelihara,” katanya.

Gerakan Asung Pitulungan di tempat itu akan berlanjut ke lima wilayah lainnya di Paroki Wedi. “Ini awal gerakan kita Asung Pitulungan di Wilayah IV ini, akan berlanjut ke lima wilayah yang selanjutnya, kita mohon rahmat Tuhan semoga program gerakan kita ini sungguh bisa terlaksana terlebih bisa memberi berkat,” harap Romo Edy.

Acara hari itu dilanjutkan dengan prosesi pemotongan pita dan pemanenan sayur di lahan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan edukasi kesehatan oleh Novita Dewi dan edukasi merawat lingkungan oleh Agnes Wahyu Setya Ratri. Novita menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan sehari-hari. Salah satunya dengan melakukan relaksasi tubuh dengan melakukan latihan gerakan-gerakan tubuh. Sedangkan Agnes Wahyu Setya Ratri menjelaskan pentingnya melakukan pemilahan sampah.

Acara hari itu dipuncaki dengan peninjauan ke lokasi bedah rumah dan kunjungan kasih bagi umat yang sakit dan membutuhkan sapaan.

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *