Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Ignasius Loyola.
Melalui 1Kor 10: 31-11:1 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.
Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.
Lukas dalam injilnya (Luk 14: 25-33) mewartakan: Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jangan-jangan ketika sudah meletakkan dasarnya ia tidak dapat menyelesaikannya. Lalu semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan 10 ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan 20 ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Paulus yang telah mengikuti Yesus, bertekad meneladan motivasi dan cara hidup Yesus, yaitu bekerja dan melayani sesama demi kebaikan dan ketenteraman hidup mereka, dan bukan lagi untuk dirinya sendiri.
Pengorbanannya tidak lagi dibarengi dengan tuntutan demi popularitas dan kedudukannya. Hendaknya kita pun demikian, melayani dengan rela hati.
Dua, tuntutan Yesus bagi mereka yang hendak mengikuti Dia, amat jelas dan mutlak, yaitu meninggalkan segala sesuatu. Pikiran, semangat, dan perasaannya disatukan dengan pikiran, semangat dan perasaan Kristus. Dialah yang menjamin untuk melengkapi dan mencukupkan kebutuhan kita. Hendaknya kita percaya penuh kepada Kristus dan janji yang disampaikan itu, sebab Dialah Anak Allah yang selalu setia pada janji-Nya. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
