Pukul dua siang. Udara cukup panas di kompleks Lahan Panjurung Pawon, Lingkungan St. Maria Goretti Ngering, Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus (SPMBK) Wedi, Kamis, 9 Juli 2026. Bahan-bahan dan alat-alat sudah disiapkan di meja. Para petani dan umat telah menunggu dengan sabar siang itu. Mereka bersiap untuk belajar bersama mengembangbiakkan agen hayati yang berguna untuk pertanian.
Ketua Lingkungan St Maria Goretti, Agung menyambut para peserta dengan antusias. Dalam sambutannya ia bercerita mengenai lahan Panjurung Pawon yang menerapkan sistem pertanian terpadu. Ada budidaya sayur, ikan, dan ternak ayam. “Lahan yang semula ada sampah, beling, tidak terkelola, bisa diubah menjadi lahan pertanian terpadu,” katanya.
Pastor Paroki SPMBK, Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr menyatakan gembira dengan agenda belajar mengembangbiakkan agen hayati. “Saya gembira kumpul sinau bareng. Ini yang penting. Ini yang kemudian menjadi ancangan kita bersama. Di siang hari ini, ini mempertemukan gerakan-gerakan,” kata Romo Edy dalam sambutannya.
Ia mengapresiasi acara siang itu mengingat upaya itu merupakan langkah untuk merawat tanah yang menjadi sarana dalam pertanian. Terinspirasi dari Paus Fransiskus, menurutnya, tanah, bumi adalah saudara kita semua. Maka, menurutnya, kita semua dipanggil untuk merawatnya. “Paus Fransiskus itu mengingatkan, tanah, bumi ini saudara kita,” katanya. Baik bumi maupun manusia mesti dirawat meski berbeda cara merawatnya.
Ia mengatakan, merawat tanah merupakan gerakan lama yang sebenarnya sudah dilakukan Gereja yang dikenal dengan gerakan pertanian organik. Di Keuskupan Agung Semarang, gerakan ini pernah dirintis oleh Romo Gregorius Utomo, Pr yang biasa dikenal sebagai Romo Tomo. Gerakan ini bahkan menghasilkan Deklarasi Ganjuran yang terkenal pada 16 Oktober 1990.

“Ini gerakan lama, tetapi agak surut di Gereja di Pertanian Organik,” kata Romo Edy. Ia dalam kesempatan itu mengajak petani supaya memiliki kemandirian dan bertani secara murah, namun tidak murahan. “Yang penting itu kemandirian dan kita upayakan. Kita juga petani murah, tapi ora murahan, punya daya tawar. Ini yang mau diusahakan,” katanya. Ia pun mengajak para petani untuk memraktikkan hasil belajar itu dalam pertaniannya.
Agen hayati adalah organisme yang sangat berperan dalam keberhasilan pertanian. Dalam kesempatan itu, F.X. Agus Sapari berbagi cara mengembangbiakkan agen hayati. Ia memberi penjelasan tentang cara mengembangkan mikroorganisme pertanian (Moretan), plant growth promoting rhizoma (PGPR), dan jamur trichoderma. Semua organisme itu sangat berguna bagi pertanian.
Pelatihan mengembangbiakkan agen hayati merupakan tindak lanjut dari program Aksi Ngudi Makmur se-Rayon Klaten. Sebelumnya paroki-paroki di Rayon Klaten melalui petani dan relawan melakukan gerakan ketahanan pangan dan solidaritas pangan. Dengan dukungan Komisi PSE KWI, mereka menanam bibit tanaman sayur dalam polibag dan membagikannya pada umat berkategori kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD).
