Kemah Pengarep, Remaja Katolik Rayon Klaten Diajak Menjadi Berkat Bagi Yang Lain

Para remaja dari 10 Paroki di Rayon Klaten itu berdinamika bersama dalam Kemah Pengkaderan Remaja Katolik Penggerak (Pengarep) di Lapangan Ngangkruk, Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, 26-28 Juni 2026. Siang itu, 27 Juni 2026, dalam cuaca yang cukup terik, mereka berdinamika bersama. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok bekerja sama memindahkan bola dari satu gelas berisi air ke gelas berikutnya dengan cara ditiup. Mereka saling menyemangati anggotanya yang sedang mendapat giliran meniup bola.

Menurut Koordinator PIA-PIR Rayon Klaten, Yohanna Tri Emy Handayani, Kemah Pengarep ini dilakukan untuk pembinaan pada remaja Katolik di Rayon Klaten. Pembinaan model ini lahir ketika belum ada pemisahan pembinaan antara Pendampingan Iman Anak (PIA) dan Pendampingan Iman Remaja (PIR). Setelah dilakukan pemisahan, PIA banyak berjalan di paroki-paroki, namun tidak terjadi dengan PIR. Para remaja Katolik tidak mendapat pendampingan memadai. Pengarep berusaha menjawab kebutuhan pembinaan dan pengkaderan remaja Katolik.

“Yang PIA kebanyakan berjalan di kebanyakan paroki. Tapi di kebanyakan Paroki PIR-nya tidak jalan. Pendampingan iman untuk remajanya ini kurang berjalan,” katanya dalam acara bertema “Shine in his Joy-Uripmu Dadi Pepadhang” itu.

Pendampingan Pengarep ini dilakukan dengan merekrut 4 Orang Muda Katolik (OMK) di paroki-paroki untuk disiapkan menjadi formator. Mereka disiapkan untuk menjadi mendampingi para remaja yang berjumlah 20 orang di setiap paroki. Mereka pula yang akan menggerakkan dinamika remaja di paroki. Dari waktu ke waktu mereka menjalani pendampingan.

Kemah Pengarep dilakukan untuk melengkapi dan meneguhkan pendampingan itu. Kemah ini mempertemukan para remaja yang sebelumnya berproses di paroki masing-masing untuk kemudian bersatu dan berdinamika bersama dalam satu rayon Klaten. Peserta Pengarep terdiri dari 10 remaja laki-laki dan 10 remaja perempuan dari masing-masing paroki.

Kemah ini, menurut Emy, bertujuan untuk membentuk remaja Katolik yang militan. “Militan itu dia bisa mengembangkan potensinya sendiri, tapi juga membagikan potensi itu untuk orang lain, mengajak teman-temannya untuk menjadi saksi Kristus itu dengan menggerakkan kegiatan-kegiatan remaja di parokinya masing-masing,” katanya. Kemah, lanjutnya, baru awal kegiatan. “Tujuannya mereka nanti bergerak di paroki masing-masing,” tambahnya.

Meski bertujuan baik, program ini pun diliputi tantangan yang membutuhkan perhatian lebih untuk menyikapinya. Menurut Ketua Panitia Pengarep, Theresia Denny Kurnianingsih, tantangan terbesar itu justru berasal dari diri remaja dan orang tuanya. Perekrutan peserta tidak mudah karena di antara para remaja sudah terjalin circle pertemanan yang semuanya saling tergantung. “Dalam merekrut anak itu ada yang mau, ada yang tidak mau. Jadi, kalau ada yang mau harus sama dengan ini, harus sepaket dengan temannya. Jadi, sebenarnya dia mau, tapi temannya tidak mau. Bestie-nya tidak mau, maka dia pun tidak mau. Itu tantangan dari dalam, dari anak sendiri,” kata Denny.

Sedangkan dari sisi orang tua, tidak semua orang tua mau memberikan dukungan. Menyikapi hal itu, pihaknya harus mempersiapkan acara dengan baik dan bisa meyakinkan orang tua para peserta. “Ya, itu merupakan tantangan bagi kami. Berarti kami harus lebih mengoptimalkan waktu atau acaranya kita bagaimana biar terkemas dengan bagus,” imbuhnya.

Meski demikian, pihak kevikepan dan para imam dari paroki-paroki Rayon Klaten mendukung acara tersebut. Salah satunya dengan memfasilitasi pendanaan acara tersebut. “Ketika kami minta bantuan kepada paroki juga kepada kevikepan itu kami dibantu dengan sepenuhnya karena romo-romo juga beranggapan bahwa ini adalah kegiatan yang sangat baik,” ungkap Enny.

Menurutnya, yang paling menantang justru dari remaja itu sendiri. “Tantangan kami yang paling berat ya itu dari anaknya sendiri. Biasa kan, anak-anak sekarang manja dan sebagainya. Dengan seperti ini, anak-anak bisa karena seleksi alam. Jadi yang benar-benar mampu, mau, bisa, ikhlas, itu masih bertahan sampai sekarang,” katanya.

Selama kemah, para peserta mendapat materi yang menarik. Hari pertama, mereka diajak untuk mengenal potensi diri. “Jadi, dia pede dengan dirinya. Merasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Dengan segala kondisi dirinya itu dia bersyukur. Tidak harus pede tapi bersyukur. Setelah bersyukur berbangga dengan dirinya, dia akan bisa memberikan potensi itu kepada orang lain,” kata Enny.

Hari kedua, para peserta diajak untuk bisa berbagi dan membangun harapan. “Walaupun apa yang kamu miliki itu kecil, tapi itu tetap kamu bisa memberikan ke orang lain. Jadi, hari kedua ini, mereka diharapkan bisa mengarahkan besok aku dengan ini saya akan berbuat seperti ini,” katanya.

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *