Menanam Dan Merawat Menjadi Satu Kesatuan

Benih-benih padi ditanam di media galon-galon bekas dengan sistem sumbu kapiler pagi itu di halaman belakang pastoran Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus (SPMBK) Wedi, 15 Juni 2026. Beberapa waktu sebelumnya, para relawan telah membuat kompos dari kotoran hewan. Setelah kompos siap, lalu dimasukkan ke media galon bekas. Galon didesain sedemikian rupa dengan memotongnya menjadi 2 ukuran. Potongan bagian atas dibalik, diberi sumbu yang terbuat dari serat kulit luar kelapa. Serat kulit luar kelapa itu berfungsi untuk menyedot air dengan sistem kapiler dari potongan galon bawah yang berisi air menuju ke potongan galon atas yang berisi media tanam.

Romo Paroki SPMBK, Basilius Edy Wiyanto, Pr mengatakan, benih padi itu disiapkan untuk menyambut dan dipersembahkan dalam rangka puncak hari ulang tahun paroki yang ke-70 pada bulan Oktober 2026 nanti.

Selain dalam rangka HUT, kegiatan itu, menurut Romo Edy bisa menjadi sarana berkumpul. “Ini bisa menjadi sarana untuk berkumpul, selain juga untuk menikmati hasil ternak yang sudah dilakukan selama ini,” katanya. Kegiatan itu juga merupakan tanggapan atas ajakan Keuskupan Agung Semarang yang mengajak menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Ide menanam padi dalam media galon, ia temukan ketika kunjungan umat di keluarga Rambana. “Saya tertarik waktu kunjungan ke umat, kemudian memaknai 70 Tahun Paroki, mengumpulkan galon minum. Dipersiapkan untuk budidaya padi dalam galon, dan menginspirasi ada gerakan. Kebun di belakang itu tidak gelap lagi,” katanya.

Meski telah didoakan usai penanaman benih pagi itu, malam harinya Romo Edy dan sejumlah relawan mengadakan acara doa bersama yang berakar pada budaya Jawa yang disebut Neduni.

Malam hari itu, mereka berdoa bersama dengan melingkari uba rampai makanan yang tersaji seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, kulupan sayur, pisang, bubur abang putih, dan aneka jajanan.

Seorang relawan, Alex Andoyo, malam itu mengatakan, acara itu disebut Neduni. “Untuk daerah Klaten itu bancakan yang bertujuan untuk menghaturkan terima kasih kepada Tuhan dan memohon yang kita tanam tersebut bisa bertumbuh dengan baik dan menghasilkan. Maka, hari ini kita berharap, semoga yang sudah kita tanam pagi hari tadi bisa menjadi tanaman yang baik dan menghasilkan padi yang baik,” kata Alex.

Doa bersama

Terkait sejarah Neduni, menurut Alex, masing-masing daerah memang berbeda-beda. “Kalau di sini, istilah Neduni itu dari kata medun, yang berarti kita bersama-sama turun ke tanah dan bekerja bersama-sama  menggarap tanah. Secara filosofisnya, tujuannya untuk mengungkapkan syukur terima kasih kepada Tuhan atas segala yang sudah kita terima dan yang akan kita terima. Dan kedua, kita diajak menjaga keutuhan alam semesta. Kita sebagai petani tidak hanya menanam dan menghasilkan panenan yang banyak, tetapi kita mempunyai kewajiban memelihara tanah yang dianugerahkan kepada kita. Semua yang diberikan kepada kita seperti tanah dan bumi kalau kita rawat untuk kebaikan tentu bisa menjadi sarana Tuhan memberikan rejeki pada kita semua. Syukuran ini menjadikan kita berbagi rejeki, kita semua menikmati makanan bersama-sama yang bisa menjadi kekuatan kita,” ungkap Alex.

Menghidupi mentalitas merawat  

Romo Edy mengingatkan pentingnya menghidupi mentalitas merawat yang berjalan beriringan dengan program Asung Pitulungan (Berbagi Bantuan-Pertolongan) dalam rangka 70 Tahun Paroki Wedi. “Ini sebenarnya juga terdorong apa yang dilakukan oleh paroki, Asung Pitulungan, yaitu menghadirkan keluarga sehat jadi berkat. Ketika orang pengin menjadi berkat, orang itu perlu menemukan hal berharga dalam dirinya, yang ini berkat Tuhan dan kemudian dimaknai, dirawat. akhirnya ketika itu dirawat, dimaknai maka akan menumbuhkan gerakan untuk berbagi berkat,” katanya.

Asung pitulungan, menurutnya, bisa dikaitkan dengan kondisi alam yang belum terawat yang berujung pada mentalitas merawat. “Kita sering mengadakan gerakan menanam pohon biar ada tumbuh tanaman baru, ada buah baru. Tapi ini perlu ada rangkaian. Programnya bukan menanam pohon tetapi menghasilkan buah dari pohon baru. Dan ini, menurut  saya, bisa kita mengatakan menjadi perhatian pada mentalitas. Ketika kualitas merawat itu perlu ditumbuhkan supaya ada buah baru yang tumbuh, bagi saya, di situlah kita perlu menumbuhkan mentalitas merawat,” katanya. Ia juga menggarisbawahi pentingnya gerakan. Dari keprihatinan lahan kosong yang tak terawat, lalu digunakan untuk menanam itu sudah menjadi gerakan.

Baginya, gerakan menanam pohon belum termasuk cinta lingkungan sepenuhnya. Ia mengritisi, dengan dalih cinta lingkungan, orang langsung latah menanam pohon. Gerakan menanam pohon itu dianggap sudah cinta lingkungan. “Bagi saya belum. Bisa jadi loh, itu menjadi melukai lingkungan karena menanam dan tidak dirawat akhirnya mati. Alam ciptaan, keutuhan ciptaan itu tidak dilestarikan, tapi justru ketika dipindah mati, kan dibunuh. Maka ini perlu ada kualitas pribadi yang ditumbuhkan, kualitas merawat. Maka, ketika kita mau mengajak saudara alam ini juga bergerak bersama untuk kelestarian keutuhan ciptaan, bagi saya, sebagai manusia yang bisa memanen, itu juga perlu ada proses sebelumnya, merawat. Menanam dan merawat menjadi satu kesatuan. Bukan hanya menanam,” ungkapnya.

Untuk menanam dan  merawat, menurutnya, membutuhkan tenaga dan sesama yang bersama-sama hadir dan berproses bersama dari waktu ke waktu. Tidak hanya menanam, foto bersama, lalu ditinggal tanpa perawatan.

“Untuk itu butuh merawat, butuh ngopeni dan itu nanti pasti kita akan menuai panenan dan syukur-syukur dari panenan kita itu migunani. Ya ngopeni itu penuh harap akan migunani bagi kita dan sesama. Ini yang kemudian kita tumbuhkan dan ini menjadi gerakan asung pitulungan itu ada di sana ya. Ternyata mau menolong orang lain itu juga perlu memperhatikan dan menolong diri untuk menumbuhkembangkan semangat merawat ngopeni,” katanya.

Menurut Romo Edy, budaya kehidupan adalah budaya merawat. “Kalau kita mau mempunyai kerendahan hati, mencipta itu bagian Allah, dan kemudian kita meneruskan untuk menumbuhkembangkan ciptaan. Tetapi tanggungjawab menumbuhkan ciptaan itu perlu kualitas merawat, ngopeni. Ini yang kemudian ya itu butuh ketekunan, kesetiaan. Dan itulah kita akan menumbuhkan kualitas diri sebenarnya,” katanya.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *