102 Tahun, WKRI Diajak untuk Merawat Bumi Sebagai Rahim Kehidupan

Kita bersyukur bahwa WKRI sebagai organisasi bisa bertahan satu abad lebih 2 tahun. Dan perjalanan sejak tahun 1924 pasti mengalami berbagai macam tantangan, situasi zaman yang tidak mudah sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan, pasca kemerdekaan dan sekarang di zaman modern. Penasihat Rohani DPP Wanita Katolik RI, Romo Paulus C. Siswantoko, Pr menyampaikan hal tersebut dalam homili misa hari ulang tahun (HUT) Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) ke-102 di Paroki Santo Andreas Kim Taegon, Jakarta, 26 Juni 2026.

“Tapi bahwa WKRI bisa bertahan itu kenapa? Karena kuat di dalamnya. Yang membuat kuat di dalam itu apa? Tidak lain dan tidak bukan adalah iman,” katanya. Menurutnya, dari iman  tersebut lahirlah spiritualitas WKRI yaitu asih, asah, asuh, solidaritas dan subsidiaritas (3A 2S). “Itulah gambaran dari kekuatan sebuah organisasi perempuan satu-satunya milik Gereja Katolik yang membuat bisa bertahan sampai satu abad lebih. Dan kita harus bersyukur juga bahwa selama satu abad itu WKRI telah berperan begitu luar biasa dalam banyak bidang,” kata imam yang biasa disapa Romo Koko itu.

Ia melanjutkan, pada tahun ini WKRI ingin fokus pada satu bidang yaitu bidang lingkungan hidup, sehingga tema yang direnungkan selama setahun ke depan adalah “Melanjutkan Langkah Harapan: Merawat Rahim Kehidupan Demi Mewujudkan Perempuan Berdaya dan Anak Terlindungi”. “Inilah fokus kita untuk tahun ini. Dan tema ini menjadi sangat kontekstual, menjadi sangat relevan kenapa? Memang saat ini rahim kehidupan yang adalah bumi sedang sakit. Bumi kita sedang menangis. Bumi kita sakit dan menangis karena sedang rusak. Dirusak oleh tindakan-tindakan anaknya sendiri, manusia-manusia ini yang lahir dari bumi ini dengan keserakahannya yang membuat bumi ini menjadi seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Maka, menurutnya, kebersamaan WKRI yang sudah terjalin satu abad lebih, ini merupakan kekuatan yang luar biasa untuk turut merawat, turut menyembuhkan, dan memulihkan bumi, ibu kita yang sedang sakit dan menangis. “Dan rasanya kalau kita melakukan hal itu, itu sama dengan juga seperti Yesus dalam bacaan Injil tadi. Yesus bertemu dengan orang yang sakit, orang yang menangis, yaitu orang yang sakit kusta. Yesus tidak hanya prihatin, tapi Yesus kemudian membuat tindakan. Yesus membuat langkah-langkah nyata. Langkahnya apa? Yaitu dengan menyembuhkan orang yang sakit kusta itu. Demikian juga kita sebagai organisasi prihatin baik, sedih baik, tapi lebih baik lagi kalau kita melakukan aksi-aksi yang nyata. Melakuan tindakan-tindakan yang konkret untuk membuat ibu kita, bumi ini, rumah kita itu tidak kembali menangis, tetapi tersenyum. Kalau kita melakukan itu, sebenarnya kita menjadi pelaksana firman,” kata Romo Koko.

Ia menambahkan landasan biblis tentang merawat bumi dari Kitab Kejadian 2:15 yang mengisahkan Adam dan Hawa ditempatkan Allah di Taman Eden. “Untuk apa? Untuk dua hal. Satu, mengusahakan dan memelihara atau merawat Taman Eden,” katanya.

Ia pun menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan WKRI untuk membantu bumi supaya sembuh dari sakitnya. Yang pertama, kita diajak untuk semakin berani bersuara. Bersuara untuk merawat dan menjaga bumi. “Suara kita itu kalau seluruh anggota WKRI yang saat ini 100 ribu lebih itu bersuara, satu suara, dari Sabang sampai Merauke, yang ikut juga misa streaming ini bersuara, pasti gemanya akan luar biasa. Mereka yang akan punya niat untuk mengeksploitasi bumi mendengar suara WKRI, kemudian mengurungkan niatnya tidak melanjutkan keinginannya. Atau mereka yang sudah terlanjur merusak bumi dengan mencemari bumi, mencemari air, mencemari udara, dengan kemudian membuang sampah sembarangan, atau kemudian menggunduli hutan, mendengar suara kita dari Sabang sampai Merauke, mereka mungkin akan berhenti untuk mengeksploitasi bumi. Itulah suara ekologis WKRI yang perlu disuarakan bersama juga dengan lembaga-lembaga lain, ormas-ormas lain yang punya keprihatinan sama,” ungkapnya.

Romo Koko mengajak WKRI untuk tidak takut bersuara. “Tidak usah takut karena Yohanes Pembaptis pun juga bersuara juga di padang gurun. Kita juga diajak tetap bersuara, di dengar ya syukur, tidak juga ndak papa. Yang penting bersuara. Pasti ada orang yang mendengar. Gerakan bersama ini, suara ini akan bergema di seluruh, seantero Nusantara,” katanya.

Yang kedua, setelah bersuara WKRI diajak untuk lebih bersemangat dalam bertindak dan beraksi. “Aksinya seperti apa? Aksinya bisa dari lingkungan kecil, dari keluarga, tetangga, masyarakat, kemudian lebih luas lagi ke pemerintahan, kita bisa berperan di sana. Perempuan memiliki peran-peran strategis di manapun juga. Memang untuk  bisa mau bertindak itu membutuhkan tekad, membutuhkan niat dan keberanian apalagi menghadapi masalah ekologi yang sudah sangat kritis seperti sekarang ini. Tetapi itulah sebenarnya yang menjadi panggilan kita. Kita diajak untuk bertindak dari hal yang kecil, yang sederhana tapi dengan cinta yang besar, itu pasti akan membawa dampak,” katanya.

Pada bagian tersebut, Romo Koko melandaskan pada inspirasi yang dibawa Paus Fransiskus dalam dokumen Evangelii Gaudium tahun 2015. “Dia mengatakan bahwa, “Saya menyukai Gereja yang kotor, Gereja yang memar, Gereja yang tercemar karena pergi ke jalan-jalan”. Nah, inilah kita ingin mewujudkan mimpi almarhum untuk membawa wajah Gereja menjadi Gereja yang di jalan-jalan, Gereja yang berkeringat, Gereja yang mau berkotor-kotor, berlelah-lelah, bercapek-capek karena apa? Ingin menyelamatkan ibu kita, ibu bumi ini. Sudah banyak di luar sana, berbagai macam organisasi yang bersuara dan bertindak untuk menyelamatkan lingkungan,” tambahnya.

Yang ketiga, WKRI diajak untuk hadir sebagai sahabat masyarakat adat dan korban kerusakan ekologi. “Kita ingat betul bahwa kerusakan alam itu punya dampak dan membawa begitu banyak korban. Misalnya dengan penggundulan hutan, banyak masyarakat adat yang terpinggirkan. Banyak masyarakat lokal yang disisihkan. Sementara hidup mereka dari alam, ketika alam rusak berarti mencabut kehidupan orang-orang di sana. Mereka adalah saudara kita yang masa depannya tidak jelas karena alamnya rusak. Kita diajak untuk hadir sebagai sahabat masyarakat adat, masyarakat lokal dan untuk menemukan kembali kearifan-kearifan lokal yang mungkin juga ikut tercerabut dengan rusaknya alam. Belum lagi, mereka yang menjadi korban bencana alam karena hutan yang rusak kemudian terjadi tanah longsor, banjir, mereka juga belum medapatkan kehidupan yang layak setelah bencana. Kita hadir sebagai sahabat untuk membantu memulihkan mereka,” katanya.

Menurutnya, ada begitu banyak hal yang bisa dibuat WKRI untuk menyelamatkan bumi sebagai rahim kehidupan. “Kita bersyukur bahwa Tuhan selalu menemani kita selama satu abad lebih, 102 tahun. Kita juga yakin Tuhan akan mendengarkan niat-niat baik kita, menemani perjuangan kita untuk menyembuhkan dan memulihkan ibu kita, bumi kita, rumah kita yang sedang sakit,” katanya memberi peneguhan.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *