Bagi Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Aloys Budi Purnomo, Pr, Deklarasi Istiqlal mempunyai jejak kepemimpinan ekoteologis intereligius dan sangat penting dalam konteks agama-agama. Hal itu disampaikannya dalam webinar “Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Aksi Kemanusiaan”, 16 September 2026.
“Ini bagi saya sangat penting karena bagaimanapun juga dalam konteks agama-agama peran pemimpin itu masih sangat penting dan bersama seorang pemimpin hadir juga umat, jemaat yang bukan hanya puluhan, ratusan, ribuan, tetapi juga jutaan,” katanya.
Lebih lanjut, Romo Budi menyampaikan definisi kepemimpinan ekoteologi intereligus. “Kepemimpinan dalam kebersamaan dan kerja sama membuka jalan baru dengan keberpihakan, sikap ramah dan peduli lingkungan hidup dan semua orang sesuai tradisi teologis agama dan kepercayaannya demi perawatan bumi rumah bersama yang ditimpa krisis ekologi tanpa merugikan generasi mendatang,” demikian Romo Budi mendefinisikan kepemimpinan ekoteologi intereligus.
Menurutnya, ada lima ciri model kepemimpinan ekoteologis intereligius. Yang pertama, keberpihakan ekologis sebagai spirit inkarnatif kenosis.Kedua, kepekaan suara hati dalam perlawanan tanpa kebencian dan kekerasan. Dan yang ketiga, pengembangan visi ekologi integral. Keempat, pengalaman pertobatan ekologis yang diserukan demi terwujudnya peradaban kasih ekologis. Kelima, pilihan mengutamakan generasi mendatang daripada manfaat sesaat.
Deklarasi Istiqlal mempunyai arti tersendiri bagi Romo Budi. “Sebetulnya secara pribadi, setiap hari saya masuk ke ruangan kantor KWI tempat kami melayani itu selalu tergetar karena dokumen ini saat ini masih tersimpan di ruangan kami, di ruangan saya,” katanya.
Ia menemukan jejak kepemimpinan ekoteologi interreligius dalam Deklarasi Istiqlal tersebut sebagai teks. “Judul deklarasi sendiri meneguhkan kerukunan umat beragama untuk kemanusiaan. Ini satu bentuk kepedulian yang sangat istimewa,” katanya. Dua keistimewaan yang menarik dari dokumen itu adalah dua seruan menghormati martabat kemanusiaan bersama menjaga keutuhan ciptaan.
“Ketika seruan itu dengan dasar keprihatinan yang mendalam atas dehumanisasi dan degradasi ekologi, saya melihat betapa ajaran agama-agama terserap, tertampung sebagai inspirasi. Dan itu yang disebut ekoteologi interreligius, suatu teologi yang ramah dan peduli pada keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup sesuai agama masing-masing berdasarkan ajaran agama masing-masing, tetapi dilakukan bersama-sama. Bersama-sama itu minimal berdua dari yang berbeda,” katanya.
Menurutnya, setiap agama mengajarkan pentingnya merawat bumi. Di dalam Islam dikenal ungkapan Hablum Minallah, Hablum Minannas, dan Hablum Minal’alam. Kasih kepada Allah, kasih kepada sesama, kasih kepada alam semesta sebagai perwujudan sikap dasar untuk menjaga lingkungan dan menghargai sesama. Dalam tradisi Buddha, ada ungkapan Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia. Dalam Hindu ada Tri Hita Karana.
“Semua agama mengajarkan pentingnya cinta kepada Allah, cinta kepada sesama, dan cinta kepada alam semesta,” kata Romo Budi.
Menurut Romo Budi, baik Paus Fransiskus maupun Imam Besar Istiqlal Prof K.H. Nasaruddin Umar adalah figur yang memiliki kepemimpinan ekoteologi interreligius. “Secara figur saya menemukan jejak kepemimpinan ekoteologi intereligius itu dalam Deklarasi Istiqlal melalui baik Paus Fransiskus maupun Prof. Menteri yang pada waktu itu sebagai imam besar,” ungkapnya. Di dalamnya ada kenosis, pengosongan diri, dan kerendahan hati.
Romo Budi mengakui, dua figur ini sering dijadikan sebagai contoh ketika ia menjelaskan kurikulum cinta melalui foto dua tokoh yang fenomenal itu. Prof. Nasaruddin sebagai Imam Besar Istiqlal menerima dan menyambut Paus dengan ciuman penuh kasih. Lalu respon Paus Fransiskus mencium tangan Prof. Nasaruddin. “Di situ saya menemukan keteladanan jejak kerendahan hati dua pribadi,” katanya.
Menurutnya, tindakan Prof. Nasaruddin pada waktu itu sebagai Imam Besar Istiqlal mencium kening Paus Fransiskus adalah tindakan yang out of the box.
Demikian juga ketika Paus Fransiskus mencium tangan Prof. Nasaruddin merupakan contoh kerendahan hati Paus Fransiskus sebagai servus servorum, hamba segala hamba.
“Maka saling menghargai penuh hormat dalam ciuman kasih, persis itu bukan hanya teks yang dirumuskan dalam deklarasi melawan budaya kekerasan, tetapi menjadi teladan,” katanya.
Romo Budi dalam kesempatan itu juga menyampaikan upaya Komisi HAK KWI dalam mewartakan Deklarasi Istiqlal tersebut. Yang pertama, belajar menapaki jejak Kepemimpinan Ekoteologi Interreligius Deklarasi Istiklal” (KEIDI) dengan launching buku Refleksi Harapan dan Tantangan Seluas Indonesia dari Istiqlal ke Nusantara. “Buku ini mengelaborasi refleksi 22 para ketua komisi HAK, hubungan antar agama dan kepercayaan se-Indonesia dan delapan tokoh lintas agama,” katanya.
Kedua, Komisi HAK KWI membuat sosialisasi Deklarasi Istiqlal ke keuskupan-keuskupan se-Indonesia. “Dari tahun lalu, di bulan Februari sampai bulan Agustus yang lalu kami mengunjungi setidaknya 25 keuskupan dan antara lain pokok gagasan yang kami bagikan adalah tentang Deklarasi Istiqlal ini kepada para peserta animasi dan edukasi untuk hubungan antar agama dan kepercayaan KWI bersama keuskupan-keuskupan,” kata Romo Budi.
Ketiga, Ngopi Kerukunan yang dilaksanakan di KWI. “Melalui hal-hal yang sederhana itu, kami belajar sekali lagi untuk menghadirkan model kepemimpinan ekoteologis intereligius, terinspirasi dari deklarasi Istiqlal sehingga semangat untuk membela kemanusiaan dengan seluruh martabatnya yang mulia dan komitmen menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan dapat semakin diwujudkan,” katanya.
