Oleh YOHANES GUNAWAN, PR*
Pada tahun 2006, Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya Jangli-Semarang merayakan ulang tahun ke-25 alias pesta perak. Untuk menandai perayaan itu, diterbitkanlah sebuah buku yang berisi 25 kisah yang inspiratif dan menarik dari perwakilan setiap angkatan. Kumpulan kisah-kisah itu diberi judul “Penyelenggaraan Tuhan Sungguh Indah! (25 Kisah Rohani)” dan diedit oleh Romo Aloysius Budi Purnomo Pr (Yayasan Pustaka Nusatama, 2006).
Dalam catatan pengantarnya, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr mengungkapkan, “….kesaksian yang digoreskan terangkai dalam benang merah: pengalaman rohani yang berharga selama bergumul di Tahun Orientasi Rohani Jangli! Indah untuk dikenang, dibuang sayang, meneguhkan langkah di rembang petang menuju Sang Sumber Kasih Sayang”.
Keindahan karya Tuhan, lanjut Romo Budi Purnomo, memang tidak habis-habisnya untuk diselami dan direguk. Karya-karyan-Nya menjadi kegembiraan kita bersama dalam perjalanan menuju kesempurnaan hidup panggilan, entah menjadi awam maupun imam.
Pada tahun 2026 ini, Seminari TOR Jangli merayakan Ulang Tahun ke-45. Tepatnya pada tanggal 3 Juli 1981 sejarah Seminari TOR Sanjaya Jangli dimulai. Seminari yang berlokasi di Jalan Jangli No. 2 Semarang ini diresmikan oleh Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono. Rencananya, peresmian akan dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 1981. Mengingat tanggal 4 Juli bertepatan dengan awal puasa bagi umat muslim, maka peresmian dimajukan pada tanggal 3 Juli 1981 untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
Dari peristiwa ini, ada pesan yang formatif dan inspiratif yang diwariskan oleh para pendahulu, yakni: dalam hidup bermasyarakat kita perlu menjalin hidup bertoleransi dan harmoni dengan pemeluk agama lain. Para frater sebagai bagian dari masyarakat ditumbuhkan dan dibiasakan sejak awal untuk hidup bersaudara, menghargai dan bertoleransi dengan masyarakat sekitar. Jangan sampai para frater terpisah dari masyarakat dan tinggal di menara gading.
Kasih Allah Tak Berkesudahan
Merefleksikan perjalanan 45 tahun ini, saya secara pribadi bersyukur dan bergembira menjadi bagian dari Seminari TOR ini. Saya bangga pernah dididik di sini dengan bimbingan Romo Fl. Hartosubono Pr (Rektor) dan Romo Alb. Priyambono Pr (Socius) pada tahun 2002-2003. Kami sebagai angkatan XXII (ke-22) dengan 15 frater waktu itu.
Pada saat ini saya diutus dan dipercaya Bapak Uskup (Mgr. Robertus Rubiyatmoko) untuk mendampingi para calon imam di tempat ini. Perutusan saya di almamater ini sejak 1 Juli 2022. Saya menyadari kasih Allah tak akan ada akhirnya dan tak ada batasnya.
Orang mengatakan, “Star has five ends; Square has four ends; Triangle has three ends; Line has two ends; Life has one end; but our life in God has no end”. Hidup kita dalam Tuhan tidak ada akhirnya. Kasih Allah dan penyertaan Allah untuk Seminari TOR ini juga tak ada akhirnya sampai usia 45 tahun saat ini dan sampai kapan pun. Penyelenggaran Ilahi (Providentia Dei) melintasi ruang dan waktu. Selalu baru setiap hari.
Siapa pun Romo Rektor Seminari TOR Jangli ini, Roh Kudus -Sang Formator Utama- akan terus berkarya memberikan bimbingan dan inspirasi dalam proses dan dinamika mendampingi para frater dari zaman ke zaman dengan kasih setia-Nya. Meminjam istilah penulis Kitab Ratapan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-23).
Tempat Formasi Awali
Seminari TOR Jangli ini merupakan tempat formasi awali bagi calon Imam Diosesan (Praja). Seminari TOR ini bagai sebuah “rahim” bagi sang bayi. Lamanya pembinaan (formatio) para frater di Seminari TOR Jangli dilakukan selama satu tahun. Waktu setahun ini digunakan untuk mengarahkan perhatian para frater kepada Tuhan yang memanggil. Di sini para frater diajak untuk lebih mendalami jalan panggilan menjadi Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS). Seminari TOR Jangli adalah Seminari TOR pertama atau “Novisiat Imam Praja” pertama di Indonesia.
Pembinaan di Seminari TOR Jangli menjadi salah satu tahapan perjalanan pendidikan Imam Diosesan KAS. Tahapan pendidikan ini dianggap penting dan integral dengan proses selanjutnya justru karena di dalamnya para calon imam dihantar masuk ke dalam penghayatan hidup dan karya imam Diosesan. Dalam pendidikan di Seminari TOR para calon imam dibimbing agar memiliki gambaran yang cermat mengenai imamat, dan mempunyai motivasi yang tepat dalam menanggapi panggilan Tuhan. Maka, masa di TOR adalah masa tahun Yesus Kristus. Artinya, selama setahun para frater dibimbing untuk semakin mengenal, mengagumi, mencintai dan akhirnya mengikuti Yesus Sang Gembala Baik.
Kesulitan terbesar zaman sekarang bukan Tuhan tidak berbicara, melainkan hati manusia yang terlalu bising dan kurang peka. Masa di TOR menjadi kesempatan untuk melatih keheningan, mendengarkan Sabda Tuhan, terbuka dalam bimbingan rohani, mengasah kepekaan suara hati, dan menumbuhkan jiwa caring dan tanggung jawab lewat berbagai kegiatan harian (kerja tangan, berkebun, merawat ternak dan tanaman, berbelanja di pasar, memasak, dll). Selain itu, Seminari TOR menjadi masa untuk belajar rendah hati, belajar siap sedia dibentuk, belajar taat, dan belajar menyangkal diri.
Data Alumni: 2 Uskup dan Ratusan Imam
Bermula dari 20 frater yang dididik sebagai angkatan pertama, para staf formator Seminari TOR Jangli terus bertekun mendampingi para frater dari tahun ke tahun untuk memahami kehendak Allah dan menegaskan arah hidup panggilan mereka. Sampai pada ulang tahun ke-45 ini sebanyak 736 frater yang dididik di Seminari TOR Jangli ini.
Sejak awal berdiri sampai tahun 2000 Seminari TOR Jangli merupakan seminari interdiosesan. Artinya, mendidik para calon imam dari berbagai keuskupan, antara lain: Semarang, Purwokerto, Bandung, Ketapang, dan Palembang. Kemudian mulai tahun 2001, Seminari TOR Jangli hanya mendidik calon imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Mengapa? Karena beberapa keuskupan sudah mempunyai Seminari TOR sendiri atau mereka bergabung dengan seminari yang ada di regionya.
Dari data per 1 Juli 2026, sudah ada 257 orang yang ditahbiskan menjadi imam. Ada dua alumni yang ditahbiskan menjadi uskup, yaitu Mgr. Robertus Rubiyatmoko (Uskup KAS, angkatan ke-4) dan Mgr. Pius Riana Prapdi (Uskup Ketapang, angkatan ke-7).
Angkatan terakhir yang ditahbiskan adalah angkatan 37. Mereka ditahbiskan pada hari Senin, 29 Juni 2026 di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Ada empat imam baru (neomis) yang ditahbiskan, yaitu: Romo Fransiskus Xaverius Merry Christian Putra Pr, Romo Patrik Diego Arbi Arwendi Pr, Romo Feremenatos Oktafilio Adi Prasetya Pr, dan Romo Yohannes Bramanda Ryan Kharisma Pr.
Pada tanggal 5 Juli 2026, para frater Angkatan 46 mulai berformasi di Seminari TOR Jangli. Angkatan 46 ini ada 13 orang. Data jumlah para frater yang pernah dididik di Seminari TOR Jangli per angkatan dari tahun ajaran 1981/1982 s/d. 2025-2026 ada di tabel 1.

Terus Memahami Kehendak Allah
Gagasan awal didirikannya Seminari TOR Jangli dimunculkan pada tahun 1980 oleh almarhum Bapak Justinus Kardinal Darmojuwono (1914-1994). Bapak Kardinal Darmojuwono berpendapat bahwa perlunya waktu bagi seminaris atau calon imam untuk beristirahat sejenak dari studi. Beliau menggunakan waktu istirahat dengan istilah “ngunjal ambegan”. Masa tersebut diletakkan di jenjang studi antara Seminari Menengah dan Seminari Tinggi.
Dalam perjalanan sejarah pembinaan calon imam selama ini, tidak semua frater yang dididik di seminari itu memutuskan menjadi imam. Seiring berjalannya waktu, ada di antara mereka yang akhirnya memilih panggilan sebagai awam. Setiap saat selalu ada proses diskresi bersama para formator dalam bimbingan Roh Kudus sebagai Sang Formator Utama.
Motivasi panggilan selalu terus dimurnikan dari hari ke hari lewat pemeriksaan batin (examen), refleksi harian, meditasi, bimbingan pribadi (colloqium) dengan Romo Rektor, dan retret selama 8 hari sebanyak tiga kali dalam setahun.
Dalam dinamika kegiatan rohani untuk memahami kehendak Allah dan menegaskan arah tersebut, para frater menjalani tiga kali retret, yakni: (1) Retret awal tahun pembinaan dengan tema “Kesiapsediaan Mendengarkan Panggilan” (Agustus), (2) Retret pertengahan tahun dengan tema “Discernment of Spirits” (Januari), dan (3) Retret akhir tahun dengan tema “Vocatio Interna: Penegasan Hidup Panggilan” (Juni).
Retret Awal dilaksanakan pada masa orientasi dalam dinamika hidup Rohani di Seminari TOR sebelum penjubahan. Dengan Retret Awal ini diharapkan para frater telah mempunyai kesiapsediaan dibimbing untuk berformasi. Kemudian Retret tengah tahun dimaksudkan agar para frater semakin mencintai keheningan dan hidup doa, semakin mengasah kemampuan discernment of spirits, serta semakin mengenal kehendak Allah yang sesungguhnya dalam dirinya atas hidup panggilan imamat.
Retret Akhir bertujuan khusus untuk meneliti apakah panggilan imamat telah mulai dirasakan sebagai panggilan pribadi (vocatio interna). Maka, para frater perlu menggunakan waktu untuk berdoa secara pribadi dengan Tuhan yang memanggil supaya mampu mengenal-Nya lebih dalam, mengikuti-Nya lebih dekat, dan mencintai-Nya lebih mesra.
Para frater dibimbing untuk mengenali gerakan batin (consolation dan desolation), pemeriksaan batin, dan berani mengambil keputusan bersama Tuhan dengan lepas bebas dan merdeka. Akhirnya, diharapkan para frater memperoleh buah-buah yang meneguhkan kesiapannya untuk menjalani pembinaan calon imam lebih lanjut di Seminari Tinggi.
Kerjasama dengan Tarekat Suster
Seminari TOR Jangli ini merupakan bagian dari Seminari Tinggi St. Paulus Yogyakarta. Para pendamping di TOR meliputi para imam diosesan dan para suster. Ada tiga kongregrasi suster yang pernah mendampingi para frater, yaitu para suster Abdi Kristus (AK) yang membantu di bagian rumah tangga dan mengajar etika selibater, para suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) yang mengajar Bahasa Inggris, dan para suster Carmelite Misionary (CM) yang mengajar Bahasa Inggris.
Para suster Abdi Kristus (AK) yang pernah berkarya di Seminari TOR Jangli, yaitu: Sr. M. Philippa AK, Sr. M. Antonia AK, Sr. M. Fransiska AK, Sr. M. Borromea AK, Sr. M. Yudith AK, Sr. M. Yanuaria AK, Sr. M. Marcelina AK, Sr. M. Atanasia AK, dan Sr. M. Dionisia AK.
Ada dua suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) yang membantu mengajar Bahasa Inggris, yaitu Sr. M. Brigid Conboy OSF dan Sr. M. Rafina OSF. Suster Brigid Conboy OSF berasal dari Amerika Serikat. Dalam perkembangannya pendampingan Bahasa Inggris diberikan oleh para suster Carmelite Misionary, yaitu: Sr. M. Ninfa Timbal CM, Sr. M. Aemilia Tea CM, dan Sr. M. Zenda CM. Daftar para rama yang berkarya di Seminari TOR Sanjaya selama ini ada di tabel 2.

Panggilan bukan sekedar menemukan jalan yang kita sukai, melainkan berjalan dengan sukacita di jalan yang telah Allah siapkan. Arah hidup menjadi jelas ketika hati mau mendengarkan Tuhan. Dalam Tuhan selalu ada jalan keluar, bukan jalan buntu.
Semoga kami staf formator dapat menjadi teman seperjalanan panggilan para frater dengan ngopeni, nresnani, lan nggemateni (merawat, mencintai dan menyayangi) panggilan para frater dengan lebih baik. Diharapkan benih panggilan dalam diri frater makin tumbuh dengan subur di dunia masa kini. Pada saatnya nanti mereka ditahbiskan menjadi imam untuk mengabdi Tuhan dan melayani umat dengan setia dan gembira. Dirgahayu 45 tahun Seminari TOR Sanjaya Jangli.#
*Penulis adalah Rektor Seminari TOR Jangli
