Merajut dan Merapikan “Jala Kehidupan” di Lembaga Pendidikan

Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia (KOSDIK) II yang diselenggarakan di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta pada 24–26 Juni 2026 telah usai. Para pemimpin pendidikan Katolik dari seluruh Indonesia yang berkumpul dalam kegiatan bertema “Berjalan Bersama, Membangun Harapan Pendidikan Katolik Berkelanjutan” telah membawa oleh-oleh konferensi. Namun, ada hal yang menarik yang disampaikan Ketua Yayasan Xaverius Tanjungkarang dan Ketua Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Tanjungkarang, RD Andreas Sutrisno, saat misa penutupan. Ia menegaskan perlunya bergerak bersama, berjalan bersama, memutuskan bersama dan untuk kemudian menjalankan bersama.

Berikut ini petikan homilinya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam permenungan ini, saya juga akan melanjutkan permenungan dari refleksi Pak Eka Priyatma berkaitan dengan kapal. Dan biasanya nelayan itu kan pasangannya dengan jala. In Verbo Tuo Laxabo Rete (Tetapi karena sabda-Mu kutebarkan jala juga  (Luk 5:5)), itulah moto Bapak Uskup Vinsensius Setiawan Triatmojo, uskup kami, Keuskupan Tanjungkarang. Maka, dalam permenungan ini, saya beri judul “Merajut dan Merapikan Jala Kehidupan di Lembaga Pendidikan”.

Saudara-saudari yang terkasih, kita sekarang ini menyadari, ibarat jala kita saat ini, mungkin, ada yang sedang robek. Karena robek, maka banyak ikannya yang lari, yang tidak masuk dalam sekolah kita. Begitu juga jala kita mungkin jebol, seperti Yerusalem dijebol oleh tentara Nebukadnezar. Sekolah kita hancur seperti Yerusalem. Itulah gambaran bagaimana sekolah kita, lembaga pendidikan saat ini. Belum lagi juga yang lebih sederhana, mungkin kusut relasi kita di antara lembaga pendidikan yang tidak harmonis, relasi kita dengan romo paroki yang tidak harmonis ataupun juga dengan lembaga-lembaga pendidikan. Atau juga mungkin jala kurang modern, yang kalah dengan sekolah-sekolah yang sekarang lebih modern. Inilah gambaran Yerusalem yang tidak baik. Inilah gambaran sekolah kita yang juga tidak baik dengan ataupun tidak mulus. Ibaratnya, saudara sekalian, kita ini seperti orang kusta yang mungkin kadang merasa terasing, yang mungkin juga kadang kita tidak merasa berdaya di dalam menghadapi tantangan-tantangan ataupun kesulitan-kesulitan yang ada berkaitan dengan pendidikan kita, lembaga pendidikan kita.

Tetapi kita disadarkan Saudara sekalian, lewat bacaan Injil hari ini, “Tuhan jika mau sembuhkanlah aku!” Suatu gerakan hati yang sungguh luar biasa, yang ada dalam diri orang yang kusta ini. Kesadaran bahwa dirinya tak berdaya, kesadaran dirinya yang adalah terasing, tetapi masih ingat akan Tuhan.

Maka, kalau kita merenungkan proses perjalanan KOSDIK  I dan II ini Saudara sekalian, ini adalah proses perjalanan untuk mohon kesembuhan. Perjalanan untuk bisa merajut kembali jala yang sudah robek. Jala yang kusut kita rapikan. Dan mungkin juga jala itu harus kita perbarui. Kita buat lebih modern lagi. Maka dari sini Saudara sekalian bisa kita sadari bagaimana dalam proses KOSDIK baik satu maupun dua ini, gerakan hati yang tumbuh di dalam diri kita. Gerakan hati yang ingin kita itu disembuhkan seperti orang kusta ini. Di situlah gerakan hati kita bisa menangkap. Hati kita dimulai dari terbuka, mau menerima undangan tawaran. Lalu dari hati yang terbuka ini kita mau kemudian berkumpul untuk saling mendengarkan, saling berbagi, saling mengungkapkan kegelisahan ataupun hal-hal yang baik, yang terjadi di dalam sekolah ataupun yayasan kita. Kita datang di tempat ini, baik KOSDIK yang pertama, maupun yang hari ini. Dan di sinilah kita bersyukur. Kita mampu dikuatkan dan kita didengarkan oleh Allah. Allah menyentuh diri kita. Allah menyentuh hati kita. Allah menyentuh pikiran kita. Allah menyentuh badan kita untuk bergerak bersama, untuk berjalan bersama, untuk memutuskan bersama dan untuk kemudian menjalankan bersama.

Inilah Saudara-saudari yang terkasih, merajut, memperbaiki jala kehidupan kita, jala dalam lembaga pendidikan kita.

Dengan bersinergi ini, dengan komitmen yang telah kita dengarkan tadi, di situlah letaknya, di situlah Roh Pembaru, di situlah Roh penyemangat, di situlah Roh kita mau belajar dan Roh berani untuk bangkit, untuk kemudian memperbaiki sekolah ataupun yayasan kita.

Saudara-saudari yang terkasih, sentuhan dari  Allah sungguh terasa pada hari ini. Keterbukaan hati kita sungguh juga dirasakan oleh kita. Dan yang lebih penting adalah pertobatan yang akan terus kita hidupi untuk memperbaiki jala yang kusut ini atau jala yang sudah rusak ini atau jala yang sudah robek ini dan kita bertekad ingin memperbarui jala ini supaya kita bisa tetap hadir sebagai sekolah, sebagai yayasan untuk memberikan keselamatan bagi semua orang. Tuhan memberkati kita semua!

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *