Agama Untuk Menuju Kehidupan yang Jauh Lebih Baik

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid melihat ada dua problem besar yang digumuli dalam Deklarasi Istiqlal yakni dehumanisasi dan kerusakan lingkungan hidup. Hal itu disampaikannya dalam webinar “Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Dari Dialog Lintas Agama Menuju Aksi Kemanusiaan”, 16 September 2026.

“Dua problem besar yang betul-betul ada di depan mata kita,” katanya. Sejalan dengan pemikiran Paus Leo IV melalui ensiklik Magnifica Humanita, dalam perkembangannya ada isu yang juga sangat penting yakni Artificial Intelligence (AI). “Kemungkinan AI akan merusak kemanusiaan begitu,” katanya.

Dalam Jaringan Gusdurian yang dipimpinnya bersama anggota jaringan dari seluruh Indonesia, Alissa sedang menekuni isu perempuan, agama dan lingkungan. Ia dalam kesempatan itu juga menyampaikan, pasca penandatanganan Deklarasi Istiqlal beberapa kali menghadiri acara di Vatikan terkait dengan membangun persaudaraan seperti yang dibahas dalam Deklarasi Istiqlal dan Ensiklik Fratelli Tutti. “Jadi bagi saya Deklarasi Istiqlal itu jadi maknanya jauh lebih personal juga karena kemudian apa-apa yang saya, saya tekuni itu termuat atau termaktub di dalam Deklarasi Istiqlal itu,” katanya.

Tema Deklarasi Istiqlal dalam 2 tahun ini, menurutnya, adalah dari intensi menjadi aksi. “Kita berhadapan dengan situasi di mana kita sedang menerima konsekuensi dari apa-apa yang kita lakukan sebelumnya secara kolektif sebagai sebuah peradaban,” katanya.

Terinspirasi Prof. Otto Scharmer, Allisa menyampaikan, sekarang ini kita menghadapi tiga jurang: jurang ekologis, jurang sosial, dan jurang spiritual. Menurutnya, kita saat ini disconnect dengan alam karena kita menggunakan alam untuk kepentingan kita tanpa melihat kewajiban kita kepada alam itu dan tanpa melihatnya sebagai makhluk ciptaan.

Yang kedua, ia juga melihat terjadinya social devide. “Social divide itu adalah jurang kita dengan orang-orang lain yang berakibat pada dehumanisasi kalau di dalam konteks Deklarasi Istiqlal,” katanya.

Dan yang  lebih parah lagi, menurutnya, adalah spiritual divide atau jurang spiritual di mana kita sendiri tidak mengenali diri kita sebagai ciptaan Tuhan, sebagai manusia utuh dengan kemanusiaannya. “Kita lebih mengikuti ego dan kepentingan-kepentingan yang sesaat,” ungkapnya.

Terinspirasi dari Gus Dur, ia menyambung, sebuah masyarakat tanpa spiritualitas hanyalah akan berujung pada penindasan, ketidakadilan, pemerasan, dan perkosaan atas hak-hak asasi warganya. “Saya rasa dalam bahasa Deklarasi Istiqlal ini kita sebut sebagai dehumanisasi, ketika kita tidak melihat manusia sebagai manusia dan itu asalnya adalah dari lemahnya spiritualitas kita,” kata Allisa.

Tiga jurang itu, menurut Allisa, disampaikan dalam Deklarasi Istiqlal yang move-nya adalah memaksimalkan dampak atau impact dari kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia.

Paus Fransiskus, menurutnya, harus diakui pada saat itu adalah pemimpin agama yang paling berpengaruh di dunia saat. “Sangat aktif, kehadirannya sangat dirasakan. Istilah-istilah seperti pertobatan ekologis dan lain-lain itu menjadi wacana besar dan beliau sangat clear posisinya di mana begitu. Kalau kita membaca misalnya Laudato Si, saya sebagai seorang aktivis saya puas sekali gitu dalam tanda kutip membacanya. Karena semua hal yang selama ini menjadi concern kita dibahas oleh beliau di Fratelli Tutti maupun di Laudato Si. Di Laudato Si ada satu istilah yang bagi saya sampai sekarang ini istilah yang sangat apa menghunjam begitu yaitu throw away society. Bagaimana kita sebagai masyarakat sekarang ini bergerak menjadi masyarakat yang berkultur membuang. Bahkan termasuk ketika kita berhadapan dengan para lansia kita, kita tidak siap, kita posisinya membuang begitu. Nah, throw away society ini menciptakan persoalan yang lebih besar,” katanya.

Karakteristik Masyarakat Keagamaan

Ada gejala masyarakat menilai kekuatan maupun agenda dari masyarakat keagamaan untuk masyarakat yang lebih sekuler  tidak terlalu terlihat.  Sebaliknya, Alissa justru melihat, belakangan dengan filantropi dan lain-lain muncul kesadaran bahkan global bahwa ternyata yang melakukan upaya-upaya paling ke akar rumput, yang jangkauannya paling jauh adalah masyarakat keagamaan.

“Kenapa? Karena masyarakat keagamaan ini memiliki beberapa karakteristik yang sangat, sangat kuat. Satu, sifatnya komunal, ikatan yang kuat antar anggota komunitas. Ini bisa baik, bisa tentu saja bisa digunakan atau disalahgunakan untuk hal-hal yang justru debasing humanity atau melakukan dehumanisasi itu. Lalu kemudian yang kedua, masyarakat keagamaan itu value centered gitu. Jadi meletakkan nilai-nilai luhur itu sebagai ajaran utama begitu. Misalnya kemanusiaan, compassion, cinta, kerja keras, kolaborasi, dan lain-lain. Lalu kemudian karena leadership driven, karena ada para pemuka agama, maka para pemuka agama ini memiliki hubungan yang dekat dengan umat atau jemaahnya,” kata Alissa.

Dengan meminjam istilah dari Gus Dur, sambung Alissa, para pemuka agama bisa berperan menjadi cultural broker. Para pemuka agama menjadi pendorong perubahan. Di Indonesia, menurutnya, sangat khas, para pemuka agama tidak hanya  bicara di mimbar-mimbar tetapi melakukannya secara langsung dalam situasi-situasi atau kondisi-kondisi yang ada di lapangan.

Yang terakhir, menurutnya, program dan layanan berbasis inisiatif masyarakat agama cukup kuat. “Kita mau pergi ke mana pun di Indonesia ini kita akan ketemu dengan layanan-layanan yang diberikan oleh  lembaga-lembaga agama. Termasuk ketika ke daerah-daerah terdapat banyak layanan yang diinisiasi agama adat. Menurutnya, itu semua adalah opportunity atau kesempatan bagi agama-agama untuk mengambil perannya.

Alissa pun bercerita, berbekal Deklarasi Istiqlal, tahun 2024 pihaknya melalui Jaringan Gusdurian langsung menindaklanjuti dan mendapatkan dukungan dari Kementerian Agama dan beberapa pihak. “Waktu itu kita, Jaringan Gusdurian bersama Tri Hita Karana Forum dan United In Diversity itu bekerja sama dengan Kementerian Agama kita menyelenggarakan Bali Interface Movement, Gerakan Bersama untuk Lingkungan yang itu menjadi bagian dari Tri Hita Karana Universal Reflection Journey di mana Paus Fransiskus waktu itu mengirimkan, apa namanya, video pendek juga di sana,” katanya.

Dalam kerjasama ini, berbagai program kerja lapangan dilakukan oleh Jaringan Gusdurian bekerja sama dengan Kementerian Agama melalui perguruan tinggi keagamaan di seluruh Indonesia dari berbagai agama. “Jadi ini banyak sekali inisiatif yang kita lakukan dan sampai saat ini kita masih terus bergerak,” kata Alissa.

Selain itu, pihaknya juga dilibatkan dalam level global terkait agama dan lingkungan. “Saya diundang untuk Women of Faith Leading Change. Ini terkait dengan climate dan gender justice waktu itu gitu dan sampai sekarang masih terus berjalan,” kata Alissa.

Sementara itu, menurutnya, Jaringan Gusurian sendiri membuat gerakan JAGAT, Jaringan Agama untuk Alam dan Toleransi yang sudah berjalan sekitar 4 tahun ini. Pada waktu Harlah Gus Dur, Jaringan Gusdurian mengangkat pembicaraan tentang alam dan kemanusiaan. “Ini kita lakukan di berbagai tempat dan sampai saat ini kita punya jaringan yang cukup kuat semuanya jaringan lintas iman di tingkat lapangan,” kata Alissa.

Dengan mengutip Gus Dur, Alissa mengatakan, peran agama sejatinya adalah untuk menyadarkan setiap orang bahwa ia adalah bagian dari kemanusiaan.

Menghadapi dunia dan peradaban yang berubah, Alissa mengutip Prof. Otto Scharmer mengatakan, “Something is dying, but something else is a rising.”

“Jadi, kita perlu mengenali apa yang dying dan apa yang tumbuh. Dan bagi saya pribadi agama adalah modal untuk menyelesaikan yang dying ini supaya selesai dengan baik, supaya kita bisa tumbuh menuju kehidupan yang jauh lebih baik,” pungkasnya.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *