Oleh MARTINUS JOKO LELONO, PR*
Tulisan ini adalah pengembangan dari presentasi Professor Zlatko Skrbis, wakil konselor dan Presiden di Universitas Katolik Australia (ACU) yang disampaikan dalam kesempatan pertemuan ke-32 The Association of the Southeast and East Asian Catholic Collleges and Universities yang dilaksanakan pada 19-21 Agustus 2026 di Universitas Sanata Dharma dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tema yang diangkat adalah Education, Hope and Human Flourishing: Fostering Interculutral Encounter and Dialogue (Pendidikan, Harapan dan Manusia Paripurna: Mendorong Perjumpaan dan Dialog Lintas Budaya).
Tema ini dikembangkan di berbagai universitas dan sekolah tinggi Katolik yang tergabung di dalam asosiasi ini. Profesor Skrbis mencoba melihat kembali situasi pendidikan hari ini dan harapan untuk mendorong terciptanya kemanusiaan paripurna. Terjemahan Human flourishing menjadi kemanusiaan paripurna ini sendiri sebenarnya masih bisa diperdebatkan karena sebenarnya lebih menunjuk kepada proses menjadi kian sempurna. Namun, karena belum ditemukan padanan kata yang tepat, sementara kita menggunakannya, saya memberanikan diri mengembangkan ide tentang Human Flourishing ini dan menyampaikan pemahaman saya atas presentasi Skrbis di sini dengan tujuan agar pembelajaran yang saya dapatkan menjadi pembelajaran bagi kalayak yang lebih luas. Maka, saya harus mengakui bahwa pemikiran di dalam tulisan ini bukan sepenuhnya pemikiran Skrbis karena sudah saya kembangkan, tetapi juga bukan sepenuhnya pemikiran saya karena saya mendasarkan pada presentasi yang beliau sampaikan.
Kemanusiaan Paripurna sebagai Pertanyaan Abadi
Dalam sejarah manusia, pertanyaan tentang apa artinya mencapai manusia yang lebih sempurna terus menerus muncul. Maka, sebenarnya konsep kemanusiaan paripurna ini bukanlah konsep yang baru. Filsuf Yunani abad ke-4 SM bernama Aristoteles pernah memunculkan ide tentang Eudaimonia. Encyclpodia Brittanica menerangkan konsep ini sebagai etika Aristotelian yang berhubungan dengan berkembangnya manusia (Human Flourishing) atau dimaknai sebagai hidup dengan baik. Dalam bahasa Inggris ungkapan ini diterjemahkan sebagai Happiness (kebahagiaan). Namun, sebenarnya terjemahan ini kurang tepat sebab Aristoteles maupun sebagian besar filsuf kuno tidak memandang eudaimonia sebagai suatu keadaan batin atau perasaan puas dan senang sebagaimana sering dimaksud dengan kata kebahagiaan, melainkan sebagai kebaikan tertinggi manusia, satu-satunya kebaikan yang diinginkan manusia demi dirinya sendiri (sebagai tujuan pada dirinya sendiri), bukan demi sesuatu yang lain (bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lain).
Setiap generasi berhadapan dengan pertanyaan ini karena situasi baru. Perubahan-perubahan dan berbagai situasi baru, menantang manusia untuk menyesuaikan diri. Pada saat itulah, pertanyaan ini selalu relevan. Maka, dalam bahasa Skrbis, “Pertanyaan ini adalah pertanyaan lama, tetapi kondisinya selalu baru.” Maka, paripurna di sini lebih daripada kebahagiaan, melainkan proses menuju kepenuhan diri.
Pada masa awal kekristenan, St. Irenius mencoba memaknai kembali apa artinya menjadi manusia yang paripurna. Dia menulis ungkapan yang sangat terkenal, “Gloria enim Dei Vivens Homo; vita autem hominis visio dei” yang kira-kira artinya adalah “Sebab kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, sedangkan kehidupan manusia adalah penglihatan akan Allah.” Dalam pemaknaan rohani ini tampaklah gambaran umum tentang apa artinya kemuliaan Allah dalam hidup manusia. Ungkapan ini tidak berarti bahwa setiap bentuk keberhasilan atau kebahagiaan manusia otomatis merupakan kemuliaan Allah. Manusia sungguh menjadi hidup ketika ia berada dalam persekutuan dengan Allah. Oleh karenanya, kehidupan manusia yang bersumber dari Allah dan diarahkan kepada-Nya menjadi tempat di mana kemuliaan Allah dinyatakan (Against Heresies, Buku IV, Bab 20).
Pertanyaan tentang kepenuhan hidup manusia itu sekarang muncul lagi di hadapan manusia di abad 21 ini. Ketika berdampingan dengan teknologi, terutama Artificial Inteligence (AI), manusia dihadapkan dengan pertanyaan dasar, “Bagaimana menjadi manusia yang lebih baik?” Di tengah cepatnya pengetahuan AI yang semakin mustahil ditandingi oleh manusia, orang-orang kini bertanya, “apakah yang menjadikan manusia sungguh-sungguh manusia?”
Untuk membahas hal ini, perlu dipertanyakan apa artinya menjadi pribadi yang paripurna. David Riesman, sosiolog, pengajar dan komentator ternama tentang masyarakat Amerika, dalam buku The Lonely Crowd: A Study of the Changing American Character mengatakan, “Kita ini adalah generasi yang semakin terhubung daripada generasi sebelum kita, tetapi pada waktu yang sama, kita semakin kesepian.” Ambiguitas ini menghantar kepada sebuah usulan jawaban yaitu tentang kata hubungan yang kian hari kian menjadi titik lemah manusia. Pada waktu manusia semakin memiliki pengetahuan yang luas tentang alam, tentang dunia internasional, tentang teknologi, tentang akses kepada berbagai bentuk kebaharuan yang bisa ditawarkan dunia, manusia kehilangan hubungan mendalam dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dengan alam ciptaan yang lebih luas dan juga dengan Tuhan yang mahaagung. Semakin orang berkembang dalam banyak hal, semakin sering ditemukan kenyataan pribadi-pribadi yang tidak merasa berharga dan terasing dari dirinya sendiri. Di tengah semakin mudahnya komunikasi antar orang, ditemukan semakin renggangnya relasi sosial dalam masyarakat (keluarga, masyarakat, dsb). Di tengah semakin berkembangnya pengetahuan manusia, semakin terasinglah manusia dengan alam ciptaan. Akhirnya, dengan situasi yang demikian orang mengalami situasi yang terasing dari Tuhannya.
Skrbis menawarkan salah satu ide besar yang perlu diperjuangkan saat ini yaitu tentang pentingnya kepenuhan pribadi dicapai dalam kebersamaan dengan yang lain. Ungkapan yang ditawarkan adalah kata coexistence yang berasal dari bahasa Latin Co (cum) yang artinya bersama Existere (artinya mengada), kondisi atau keadaan di mana orang ada bersama-sama dengan yang lain. Dalam konteks yang lebih dalam, ada bersama tidak sekadar ada di tempat yang sama, tetapi saling mendukung, saling menolong, saling menguatkan, saling menemani, dan sebagainya. Manusia perlu menjadi pribadi yang menguatkan dirinya sendiri; manusia saling menguatkan orang-orang di sekitarnya; manusia merawat relasinya dengan alam melalui sikap saling mendukung; dan akhirnya manusia memerlukan Tuhan untuk menolongnya, sementara ia ada untuk melakukan kehendak Tuhan. Tentang yang terakhir, ada satu lirik lagu yang indah yang mengatakan, “Yesus tak punya tangan lagi (bisa diganti kaki, hidung, mulut, dsb), tangan kitalah yang menjadi tangan-Nya, untuk melakukan kebaikan kepada orang masa kini.”
Sayangnya, pada zaman sekarang, manusia menghidupi apa yang disebut sebagai semangat saling memanfaatkan dalam arti bahwa diri sendiri, sesama, alam ciptaan dan Tuhan hanya akan menjadi berharga sejauh itu memenuhi ego dan kepentingan pribadi. Skrbis menyatakan dengan tegas, “Tidak ada orang yang berkembang mencapai kepenuhan seorang diri.” Setiap orang bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dalam kebersamaan dengan yang lain.
Kepenuhan dalam Pendidikan
Saat ini yang muncul dalam konteks pendidikan kita adalah, “Apa yang bisa ditawarkan oleh dunia pendidikan kepada manusia pada generasi ini mengingat segala informasi sudah bisa ditawarkan oleh AI?” Dalam hal inilah perjumpaan para pendidik, tenaga pendidik dan para mahasiswa dari Universitas dan Sekolah Tinggi Katolik di Asia Tenggara dan Timur ini menjadi penting. Skrbis mengatakan bahwa apa yang bisa ditawarkan adalah kemampuan untuk memaknai kehidupan, membangun relasi, karakter, dan menemukan tujuan hidup. Dengan melihat dari sudut pandang Kristiani, maka gambar besarnya tampak berbeda. Kalau dunia pada umumnya melihat bahwa situasi semakin kaya berarti sama dengan semakin sempurnanya kehidupan, maka pendidikan Kristiani bisa melihat dari sudut pandang yang lain. Moral Kristiani tentang relasi dengan diri sendiri, sesama, alam semesta dan Tuhan bisa menjadi katalisator apakah suatu hal benar-benar membawa kebahagiaan. Manusia kristiani mengenal apa artinya berbagi hidup, belas kasih, berkorban untuk kebahagiaan sesama, memberi tanpa mengharap kembali, dan juga menghidupi kehidupan sebagai pengabdian kepada Tuhan. Skrbis mengatakan, “Timbangan yang kita pilih untuk menghitung suatu hal menentukan apa yang bisa kita lihat!” Di sinilah pendidikan kian penting.
Paus Leo XIV dalam Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence, menerangkan bahwa AI mengangkat kembali pertanyaan mendasar dalam diri manusia tentang apa artinya menjadi manusia yang kian sempurna. Di tengah berbagai arus informasi yang ada dan kenyataan bahwa manusia kebanjiran informasi, manusia perlu mengingat kembali kata kebijaksanaan. Dalam hal ini, teknologi harus melayani manusia dan manusia perlu tetap berada di pusat segalanya. Jangan biarkan teknologi menentukan arah hidup kemausiaan kita. Kemudi moral manusia bernama kebijaksanaan perlu ditempatkan di dalam posisi yang tepat mengingat tantangan yang sedang kita hadapi bukanlah tantangan teknologis, melainkan tantangan antropologis. Tentang hal ini Paus memaknai ajaran sosial Gereja sebagai sarana discernment kolektif,
“Dipelihara oleh dialog yang subur antara Injil dan pengetahuan manusiawi ini, Gereja secara progresif telah mengembangkan Ajaran Sosialnya, sambil memupuk dalam sejarah suatu pusaka kebijaksanaan yang ditandai oleh koherensi teologis dan antropologis yang berakar dalam pemahaman Kristiani tentang pribadi. Justru karena pusaka ini timbul dari iman dan visi realitas yang bersesuaian, ia bukanlah sebuah repertoar solusi-solusi teknis atau sebuah model ekonomi atau politik yang harus dipertentangkan dengan model-model lain. Sebaliknya, ia termasuk dalam tatanan yang berbeda, yakni tatanan prinsip-prinsip yang membimbing penafsiran peristiwa-peristiwa dan menopang pemahaman injili tentang proses-proses historis serta pilihan-pilihan yang ditimbulkannya. Di sinilah letak fungsi yang tepat dari Ajaran Sosial, yang tidak mengklaim untuk menggantikan tanggung jawab politik atau institusi, melainkan menawarkan dirinya sebagai fondasi bagi discernment kolektif, dengan membantu mengenali dan memajukan apa pun yang melayani martabat pribadi, vitalitas komunitas, dan kebaikan bersama (MH, Art 24).”
Dalam konteks pendidikan, maka universitas perlu menjadi pemersatu pengetahuan. Selain pengetahuan dalam arti ingatan, universitas perlu menjadi tempat di mana orang-orang muda membentuk keberanian menimbang dengan benar, memiliki karakter dengan berbagai macam prinsipnya dan kebijaksanaan yang seringkali menatapkannya pada pilihan yang melampaui pertimbangan benar atau salah. Skrbis mengatakan, “Pendidikan tinggi perlu menawarkan waktu bersama dan relasi yang penuh dengan kepercayaan.” Hal ini menggemakan ungkapan Paus Leo XIV yang mengatakan, “Di universitas-universitas, tantangan utama terletak pada integrasi pengetahuan, sambil memupuk baik kapasitas untuk menghubungkan dan menyintesiskan pengetahuan guna memahami kompleksitas, maupun keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memverifikasi fakta-fakta” (DH Art 137).
Dalam gambaran ide di atas, maka pendidikan Katolik menemukan titik pentingnya. Titik penting yang senada dengan pemikiran Paus Leo XIV,
“Sekolah adalah tempat di mana generasi-generasi baru dapat belajar untuk mencari dan mengasihi kebenaran, untuk merefleksikan makna kehidupan, dan untuk mengakui martabat setiap pribadi. Karena alasan ini, banyak orang tua, yang menginginkan anak-anak mereka bertumbuh dalam kapasitas untuk membentuk relasi, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan merangkul nilai-nilai yang kokoh, menaruh harapan besar pada sekolah sebagai mitra yang berharga dalam pendidikan anak-anak mereka. Namun orang tua memiliki hak utama dan tak dapat dialihkan untuk memilih jenis pendidikan dan pembentukan bagi anak-anak mereka, dengan cara yang konsisten dengan keyakinan moral, kultural, dan religius mereka (MH143).”
Skrbis menyimpulkan paparannya dengan mengatakan bahwa pendidikan adalah tindakan harapan. Melalui pendidikan, kita bisa menawarkan kacamata baru, cara pandang tertentu.
Seperti halnya St. Irenius yang mengharapkan hidup manusia sebagai sarana untuk memancarkan kemuliaan Allah semoga kehidupan manusia zaman ini, dalam kacamata ilahi, menemukan cara-cara untuk mencapai kesempurnaan pribadi masing-masing.
*Penulis adalah Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang
Pengajar di Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
