Minggu, 1 November 2026
Hari Raya Semua Orang Kudus
Bacaan I : Why. 7:2-4.9-14
Bacaan II : 1Yoh. 3:1-3
Bacaan Injil : Mat. 5:1-12a
Panggilan Menuju Kekudusan
Pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Hari raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya merambatkan iman Kristen.
Di lingkungan Gereja Barat, khususnya di Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadat kafir untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah gereja. Gereja ini dipersembahkan kepada Santa Maria bersama para Rasul. Lama-kelamaan Hari Raya ini menjadi populer untuk menghormati para Kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum atau tidak diketahui.
Hari Raya ini dirayakan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat-jemaat perdana disebut Persekutuan para Kudus, yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah sampai akhir hidupnya.
Dalam dokumen Gereja Seruan Apostolik “Gaudete et Exsultate” (Bersukacita dan Bergembiralah, 19 Maret 2018) tentang Panggilan menuju Kekudusan dalam Dunia Masa Kini. Paus Fransiskus Mengungkapkan, “Dia menghendaki kita kudus, dan tidak mengharapkan kita puas diri dalam sikap tawar hati, suam-suam kuku, tidak konsisten.” (No. 1).
Lebih lanjut Paus Fransiskus mengungkapkan, “Saya suka merenungkan kekudusan yang hadir dalam kesabaran umat Allah: dalam diri para orang tua yang membesarkan anak-anak mereka dengan kasih yang besar, dalam diri pria dan wanita yang bekerja keras untuk mendukung keluarga-keluarga mereka, dalam diri orang-orang sakit, dalam diri kaum religius yang berusia lanjut yang tidak pernah kehilangan senyuman mereka. Dalam ketekunan mereka sehari-hari saya melihat kekudusan militansi Gereja” (No. 7).
Kekudusan tidak jauh dari kita. Orang yang kudus biasanya membawa damai. Kedamaian menjadi dambaan setiap orang. Santo Fransiskus Asisi mewariskan doa yang sangat bagus dan inspiratif pada kita, yakni “Jadikanlah Aku Pembawa Damai” (Puji Syukur No. 221).
Kita semua dipanggil untuk menjadi pembawa damai. Dalam bacaan Injil hari ini tentang 8 Sabda Bahagia, Tuhan Yesus mengungkapkan “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Orang yang membawa damai adalah anak-anak Allah. Sebaliknya orang yang membawa perpecahan (teror, ketakutan, permusuhan, kebencian, berita hoax atau palsu, dsb) adalah anak-anak setan.
Menurut Paus Fransiskus, Sabda Bahagia itu bukan buah kepasifan dalam menghadapi kenyataan. Sabda Bahagia bukan juga nubuat malapetaka para nabi yang hanya berusaha menyebarkan kekecewaan. Sabda Bahagia juga tidak dilahirkan dari fatamorgana yang menjanjikan kebahagiaan dengan “klik” tunggal, dalam sekejap mata. Tetapi Sabda Bahagia itu lahir dari hati Yesus yang berbelas kasih, yang berjumpa hati pria dan wanita yang sedang mencari dan mendambakan kehidupan yang bahagia. Sabda Bahagia lahir dari hati yang penuh belas kasih yang tidak pernah kehilangan harapan.
Yesus datang untuk menghalau kelumpuhan orang-orang yang tidak lagi memiliki iman akan kuasa Allah Bapa. Sabda Bahagia adalah hari baru bagi semua orang yang melihat ke masa depan, yang terus bermimpi, yang membiarkan diri mereka dijamah dan diutus oleh Roh Allah. Dalam Sabda Bahagia, berulang-ulang dikatakan ”berbahagialah”, yang dalam bahasa Yunaninya: makarios, yaitu kebahagiaan yang lengkap, utuh, sempurna.
Pada tahun 2026 ini, Bapak Uskup mengajak kita untuk menghidupi Ardas IX Keuskupan Agung Semarang (2026-2030) untuk “Menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.” Menjadi Gereja yang bahagia berarti Gereja yang bersumber pada sukacita Injil, yang tidak hanya dialami secara pribadi, melainkan dibagikan dalam persekutuan, partisipasi (pelayanan), dan perutusan (misi).
Menjadi Gereja yang menginspirasi berarti Gereja yang mampu memberi teladan dan menggerakkan, menyalakan semangat, serta membangun jejaring yang mendorong terjadinya pembaruan di tengah masyarakat. Sedangkan Menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti Gereja yang hadir nyata memperjuangkan kesejahteraan umum, memberi perhatian pada kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD), serta melestarikan keutuhan ciptaan.
Pertanyaan refleksinya, dari 8 sabda bahagia itu, sabda bahagia mana yang menyentuh hati kita saat ini? Apa yang perlu kita usahakan agar dapat menjadi pribadi yang berbahagia (kudus) dalam hidup ini?#
Yohanes Gunawan, Pr
Direktur Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,
Jangli – Semarang
