Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*
Manusia adalah makhluk istimewa yang diberi kebebasan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan kecerdasannya dalam kehidupan. Namun, di sisi lain, manusia memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kebebasan tersebut dalam mengembangkan dan mengoptimalkan kecerdasannya, khususnya terkait teknologi artifical intelligence (AI). Teknologi selalu memiliki dua sisi dalam kehidupan manusia, bagaikan pedang bermata dua: di satu sisi membawa kebaikan dan manfaat, tetapi di sisi lain dapat merugikan sebagian besar kehidupan manusia. Paus Leo XIV dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas (Keagungan Martabat Manusia), menyampaikan panduan dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya tantangan yang disebabkan oleh kemajuan pesat teknologi digital atau AI.
Paus menyatakan bahwa kebebasan manusia untuk berinovasi harus selaras dengan kebaikan dan kepentingan bersama bagi umat manusia. Oleh karena itu, kebebasan manusia harus dikelola untuk melindungi kepentingan hidup bersama, bukan justru menimbulkan permasalahan yang besar. Paus Leo XIV mengacu pada pemikiran dasar Santo Agustinus mengenai konsep “dua kota”—kota manusia dan kota Allah. Paus Leo menegaskan, “Umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala keagungannya, saat ini menghadapi pilihan penting dalam menggunakan teknologi AI, yakni mau membangun Yerusalem Baru atau membangun Menara Babel Baru, tergantung pada niat dan tanggung jawab manusia yang menggunakannya.”
Yerusalem Baru
Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi AI harus digunakan dalam konteks untuk membangun Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah simbol kebaikan bersama. Istilah Yerusalem Baru berasal dari Kitab Wahyu 3:12 dan 21:2. Yerusalem Baru menggambarkan kehidupan umat beriman bersama Kristus di surga. “Dia akan tinggal bersama mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Allah akan bersama mereka” (Wahyu 21:3). Jadi, membangun Yerusalem Baru berarti membangun sebuah kehidupan bersama Allah dengan dasar cinta kasih, keadilan, dan kebenaran. Allah akan memberikan berkat di kehidupan Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah perwujudan sempurna kebaikan Allah.
Jadi, kalau dikatakan teknologi digunakan untuk membangun Yerusalem Baru, berarti teknologi tersebut digunakan untuk melayani kebaikan bersama, sebagai instrumen kemajuan yang memanusiakan. Keberadaan AI bukan untuk mengganti keberadaan manusia, tetapi untuk membantu agar produktivitas semakin meningkat, jika itu menyangkut manusia yang bekerja. Dalam membangun masyarakat Yerusalem Baru, teknologi sejati dalam AI diukur bukan dari seberapa cepat perkembangannya, tetapi seberapa efektif teknologi itu dapat mendukung martabat, otonomi, dan kesejahteraan masyarakat tempat ia beroperasi.
Menara Babel Baru
Kebebasan manusia untuk berinovasi dengan teknologi AI tidak secara otomatis selaras dengan kesejahteraan dan kebaikan bagi masyarakat. Bisa terjadi bahwa AI digunakan dan dikembangkan hanya untuk mengejar keuntungan segelintir pihak dan menguasai setiap lini kehidupan. Dalam ensiklik dikatakan bahwa AI dapat digunakan untuk membangun Menara Babel Baru. Menara Babel adalah simbol kesombongan. Kita pasti ingat kisah Menara Babel dalam Kitab Kejadian 11:1-9, kisah tentang manusia yang merancang dan membangun kota dengan menara yang menjulang hingga ke puncak langit. Manusia Menara Babel, dengan ambisi yang tidak terkendali, mau menguasai kehidupan, bahkan menguasai Allah, yang disimbolkan dengan merancang sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Mereka membangun sebuah kehidupan dengan mengandalkan kekuatan dan kepentingan untuk berkuasa, bahkan mengabadikan kekuasaan tanpa mau mendengarkan kehendak Allah dan kebenaran-Nya. Kita tahu kisah Menara Babel berakhir dengan kegagalan karena rancangan mereka melampaui batas kemanusiaan mereka yang memang terbatas.
Dapat terjadi bahwa AI digunakan untuk membangun “Menara Babel Baru”, artinya teknologi tersebut menjadi alat kekuasaan bagi para elit penguasa atau segelintir orang yang bermodal besar untuk menguasai kehidupan dalam segala bidang. Hal ini semakin meningkatkan ketidakadilan sosial dan menghambat, bahkan menghentikan perekonomian kelompok warga yang sederhana. Keadaan ini membawa kehancuran karena manusia membangun kehidupan tanpa fondasi etika yang benar dan tanpa pertanggungjawaban.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia 5:13-15, dikatakan bahwa kebebasan atau kemerdekaan manusia digunakan bukan untuk berbuat dosa dengan bertindak mengikuti ego, tetapi kebebasan digunakan untuk melayani Tuhan dan sesama. Dalam penerapannya, itu berarti bahwa “kebebasan” ilmuwan tidak lagi didefinisikan sebagai kebebasan untuk membangun apa pun tanpa mempertimbangkan efeknya bagi kemanusiaan, tetapi kebebasan dalam berinovasi untuk memecahkan masalah sulit dalam kerangka kerja yang memprioritaskan martabat manusia. Ini bukan tentang menghentikan inovasi; ini tentang mengarahkan inovasi atau kreativitas menuju hasil yang mementingkan kebaikan bersama, bukan membatasi kebebasan manusia.
Kita tidak harus anti terhadap kemajuan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan AI, tetapi teknologi harus dievaluasi dengan cermat. Paus Leo XIV menekankan bahwa teknologi harus tetap tunduk pada “kebaikan sejati umat manusia”, tidak hanya memprioritaskan efisiensi semata. Untuk memastikan teknologi melayani martabat kebebasan manusia, kita harus mempertahankan kebijaksanaan moral dan sosial.
Menjalani Proses
Siang itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu berisikan saran agar ia menggunakan teknologi AI dalam mengerjakan penulisan renungan. Ia melihat contoh penulisan yang menggunakan AI lengkap dengan ilustrasi gambar-gambar untuk mendukung kalimat-kalimat penting yang disampaikan. Hasilnya bagus dan sangat terstruktur.
Menulis itu bukan hanya tentang hasil tulisan yang dicapai, tetapi terutama tentang bagaimana proses tulisan itu dihasilkan. Baginya, tujuan menulis, selain ikut ambil bagian dalam panggilan pewartaan Kabar Gembira dan menyampaikan nilai-nilai rohani sebagai inspirasi bagi para pembaca, adalah bahwa ia terutama mau belajar terus-menerus untuk mengolah kehidupan rohaninya. Ia mau menjalani proses belajar itu, meskipun kadang hati dan pikiran harus bergulat untuk merangkai kalimat-kalimat yang terbaik ketika menuangkan sebuah perenungan gagasan. Ia ingin menjadi bagian dari setiap tulisan yang ia tulis. Dan ketika ia membaca kembali tulisannya, ia tetap bisa merasakan bahwa ia ada dalam tulisan itu.
Ada saat ia membaca buku atau artikel dan menuangkannya kembali dalam tulisan dengan bahasanya sendiri. Ia mengolah dalam proses perenungan dan memberi ruang bagi dirinya untuk menuangkan pemikirannya dalam tulisan berdasarkan pengalaman kehidupan rohani dan berdasarkan gaya bahasanya sendiri. Itulah yang disebut proses internalisasi diri. Jika seorang penulis telah melalui proses pergulatan batin dan internalisasi, sudah bisa dipastikan tulisan yang dihasilkan bersifat personal, sekalipun tema yang ia tulis pernah ditulis orang lain. Kalaupun kelak ia menggunakan teknologi AI, sifatnya hanya membantu secara teknis, misalnya membantu merapikan tata bahasanya, ketika ia menulis dalam bahasa yang bukan bahasa nasionalnya. Namun, ia tetap mau menjadi pikiran dan hati dari tulisan tersebut. Ia tidak ingin kebebasannya untuk mengaktualisasikan diri dalam tulisan digantikan oleh produk teknologi AI.
*Penulis adalah Rahib dan Imam Our Lady of Silence, Roscrea, Co. Tipperary, Irlandia.
