Setelah Peristiwa di Bukit Zaitun  

Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Sebuah perbukitan kapur yang sangat terkenal dengan tiga puncak yang membentang dari utara ke selatan. Puncak tertinggi sekitar delapan ratusan meter. Banyak gua pemakaman terdapat di sana. Sebelum penggundulan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sebagian besar di lereng perbukitan itu terdapat perkebunan zaitun. Itulah sebabnya bukit itu disebut bukit zaitun. Terdapat jalan setapak ke tempat penggilingan zaitun. tempat proses pembuatan minyak zaitun. Minyak zaitun yang dihasilkan menopang perekonomian masyarakat sekitar

Dalam arti rohani, pohon zaitun melambangkan kekuatan, keindahan serta perdamaian. Yesus sering datang ke bukit zaitun, sehingga Ia sangat mengenal bukit tersebut. Ketika Yesus mengunjungi tiga sahabat-Nya, Lazarus, Maria dan Marta di Betania, Yesus pasti melewati bukit zaitun. Berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Yesus terjadi di bukit zaitun. Yesus memberikan pengajaran-Nya di bukit zaitun (Matius 24-25). Yesus memulai perjalanan dari bukit zaitun dengan mengendarai keledai ke Yerusalem (Matius 21:1-11). Yesus pergi ke bukit zaitun di taman Getsemani untuk berdoa setelah perjamuan terakhir dan ditangkap. (Matius 26:36-56). Setelah empat puluh hari dari kebangkitan-Nya, Yesus berkumpul dengan para murid-Nya dan Ibu-Nya di bukit zaitun. Ia memberikan pesan terakhir dan janji tentang Roh Kudus, kemudian memberkati mereka lalu Ia terangkat ke surga. (Kisah Para Rasul 1:6-11).

Memandang Langit

Tiga belas pasang mata terus terfokus menengadah melihat Yesus yang secara perlahan terangkat ke langit. Mereka sangat takjub akan peristiwa di luar nalar yang mereka alami. Tidak lama, awan putih menutupi-Nya sehingga tidak terlihat lagi oleh mereka (Kisah Para Rasul 1:6-11). Peristiwa ini membuat mereka teringat akan saat-saat kebersamaan bersama Guru mereka, Sang Penyelamat dunia. Mereka teringat akan nilai-nilai kehidupan yang mereka terima, baik melalui pengajaran maupun teladan hidup-Nya. Sebuah momen yang membuat mereka menyadari bahwa telah banyak pengajaran yang selama ini mereka terima untuk fondasi kehidupan mereka sebagi murid-murid Sang Putra yang telah mengorbankan diri untuk keselamatan mereka dan seluruh umat manusia. Dalam pengalaman bersama di bukit zaitun, mereka menemukan kembali rasa kebersamaan yang bersemangat yang beberapa waktu hampir hilang karena sebuah kematian di salib. Kini mereka memiliki pegangan untuk kehidupan mereka selanjutnya.

Kita hidup di dunia yang lebih memprioritaskan dan mengejar kekayaan, kesuksesan dan status yang mengakibatkan pertumbuhan nilai-nilai rohani seperti kejujuran, kerendahan hati, kesetiaan, cinta kasih, pengampunan menjadi terabaikan. Kenaikan Yesus mengundang kita, mengikuti jejak iman para rasul, untuk hidup berakar pada iman akan Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga, yakni dengan menghayati nilai dan keutamaan dalam kitab suci, terutama injil. Penghayatan ini akan membentuk pola pikir dan tindakan kita dalam kehidupan, sehingga kemudian bisa “naik” bersama Yesus dalam pilihan-pilihan nilai hidup kita sehari-hari.

Menjadi Misionaris

Kenaikan Yesus adalah pengingat bahwa misi Gereja terus berlanjut. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat kepada para pengikut-Nya untuk menjadi saksi-Nya hingga ke ujung bumi. Sama seperti para rasul yang dipercayakan dengan misi mewartakan injil, kita pun dipanggil untuk menjadi misionaris yang setia, memberitakan kabar baik dan mewujudkan kasih Kristus di dunia yang hancur dan menderita karena ambisi para penguasa. Kita para pengikut-Nya dipanggil menjadi misionaris dalam kata-kata, tetapi terutama dalam tindakan.

Ketika kita mendengar kata misionaris, kita membayangkan seseorang yang mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus yang terbangkit dan telah naik ke surga. Di satu sisi pemahaman itu benar tetapi melaksanakan tugas misi bukan hanya dalam pengertian seperti itu. Menjalankan misi bisa kita lakukan dalam hidup dan pekerjaan harian kita. Dalam misi harian itu, kita lakukan dalam semangat misioner yakni mewartakan nilai-nilai Injil dalam tindakan. Dengan semangat dan komitmen misioner kita ikut ambil bagian secara aktif dalam rencana penebusan Allah bagi dunia.

Perjalanan misi ini, seringkali memerlukan perjuangan dan penderitaan, karena kelemahan diri dan sesama, tetapi harapan yang ditawarkan melalui kenaikan Yesus memberikan kekuatan dan motivasi. Kita terkadang merasa putus asa karena Tuhan tidak secara ajaib campur tangan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan di dunia ini, tetapi Roh Kudus memampukan kita menghadapi pergumulan hidup maupun untuk mengerti kehendak Tuhan. Dalam hidup, kita tidak pernah sendirian karena kita memiliki Juruselamat Pembela kita. Kita usahakan untuk mempercayakan hidup kita kepada-Nya, membiarkan diri kita dibimbing oleh-Nya dalam misi kita dimanapun berada.

Dari pusat tata surya, sebuah benda langit berbentuk bulat menyinarkan cahayanya ke bumi yang setia mengitarinya. Cahaya yang memungkinkan adanya kehidupan di bumi. Cahaya yang menghalau dingin dan kegelapan yang menyelimuti bumi. Dan ia membiarkan cahaya pagi itu menyinari dirinya. Waktu menunjuk pukul sembilan tepat, ia mengangkat kotak dos berisi apel jus ke toko untuk dijual. Tiap dos berisi selusin botol lapel jus. Inilah misi kecil hariannya sebagai bentuk partisipasi di dalam misi Tuhan Yesus yang telah naik ke surga. Meskipun Ia telah naik ke surga, Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu selalu” (Matius 28:20). Penyertaan-Nya melalui Roh Kudus hadir dalam berbagai cara

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *