Setia dalam Pelayanan, Sunyi dalam Doa

Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Ia membuka penanggalan liturgi di bulan September duaribu duapuluh enam. Matanya tertuju tepat di tanggal lima. Hari itu hari biasa, namun ada penjelasan bahwa pada hari itu juga hari peringatan fakultatif untuk seorang kudus, Mother Teresa dari Kalkuta. Ia bertanya dalam hatinya, mengapa Bunda Teresa yang memiliki pengaruh yang besar di era modern ini hanya dirayakan setingkat fakultatif saja? Lalu ia pergi ke sebuah perpustakaan yang sangat modern, di mana setiap orang bisa mengaksesnya. Ah, akhirnya ia menemukan jawabannya; untuk orang kudus di era modern memang ditempatkan sebagai perayaan fakultatif karena kepadatan kalender liturgi dengan perayaan para kudus, seperti para rasul, martir awal, Bapa Gereja atau pendiri ordo yang pengaruhnya sudah teruji berabad-abad lamanya di dalam Gereja. Meskipun pada tingkat Gereja universal bersifat fakultatif, Gereja lokal, seperti Keuskupan, Paroki, khususnya yang memiliki devosi atau terinspirasi dari spiritualitasnya dapat meningkatkan dari fakultatif menjadi perayaan wajib atau pesta. Bagi para suster Kongregasi Misionaris (Missionary of Charity), Bunda Teresa sebagai Ibu pendiri kongregasi, mereka rayakan sebagai perayaan hari raya.

Ia pribadi, setiap kali ia mengingat Bunda Teresa yang tergambar dalam benaknya adalah sosok yang sedang melayani orang-orang yang sekarat di tempat kumuh. Melayani orang yang termiskin dari yang termiskin. Gambaran yang kedua adalah sosok yang berdoa dengan tangan mengatup berhias rosario.

Pelayanan dari Tempat Kumuh

Suatu hari ditanggal 10 September 1946, Bunda Teresa – saat itu masih usia muda bernama Suster Maria Teresa, sedang berada di kereta api menuju Darjeeling dari Kalkuta untuk mengikuti retret tahunan di biara St. Mary. Dalam perjalanan itu, Bunda Teresa melihat ke luar jendela ke arah kemiskinan daerah kumuh Kalkuta. Pengalaman itu menggerakkan hatinya untuk meninggalkan tembok biara dan melayani Yesus di antara orang-orang miskin yang terlupakan dan tidak diperhitungkan serta tersisih dari masyarakat. Ia mengimani bahwa Yesus yang di kayu salib memintanya untuk melayani orang-orang terpinggirkan dengan kasih. Momen penting itu sering disebut sebagai moment panggilan di dalam panggilannya.

Perjalanan pelayanannya tidak mudah. Sejak awal, ketika suster Teresa menyampaikan panggilan kepada pimpinan untuk melayani orang-orang di daerah kumuh di Kalkuta, dianggap sebuah kemustahilan. Namun hal itu tidak melemahkan dirinya karena ia mengimani bahwa panggilan itu bukanlah berasal dari dirinya tetapi merupakan panggilan dari Yesus. Akhirnya di bulan Agustus 1948, Suster Teresa memulai perjalanan panggilannya yang baru.

Dalam perjalanan pelayanannya, khususnya ketika pelayanannya bersama para pengikutnya menjadi besar dan dunia mengenalnya, ia mengalami suatu perjalanan yang sangat kompleks dengan bermacam permasalahan dengan beberapa organisasi dan partai politik yang salah memahami misinya. Mereka paling keras mengkritik Bunda Teresa dengan mengatakan bahwa dia adalah simbol penderitaan yang diromantisasi secara dogmatis. Namun bagi para pendukungnya, Bunda Teresa adalah seorang pelayan tanpa pamrih bagi mereka yang tertindas dan tersingkirkan. Bunda Teresa menolak untuk berpihak pada partai politik, gerakan, atau ideologi apa pun. Baginya bahwa sistem politik bisa berubah dan gagal, tetapi perintah untuk mengasihi sesama secara langsung dan pribadi adalah kekal.

Permasalahan yang dihadapi Bunda Teresa, khususnya ketika dunia mulai mengenal pelayanannya adalah bentuk pemurnian terhadap dirinya dan pelayanannya bersama para saudarinya di Kongregasi Misionaris Cinta Kasih. Kini pelayanan Misionaris Cinta kasih yang bermula di tempat kumuh di Kalkuta telah berkembang di seluruh dunia. Namun, baik melalui sentuhan sederhana di jalanan Kalkuta atau mengoperasikan mesin canggih di bangsal rumah sakit modern, faktor penentu tetaplah niat di balik tindakan tersebut—menanamkan martabat dan kepedulian manusia yang tulus dalam setiap tindakan pelayanan.

Doa yang Sunyi

Berdasarkan pelayanannya yang luar biasa kepada orang-orang yang hidup dalam realitas kehidupan yang kumuh, kita tentu berasumsi bahwa Bunda Teresa dikarunia pengalaman doa yang luar biasa menghibur, menguatkan, menenangkan dan meneguhkan setiap hari dari Tuhan. Namun kenyataan yang terungkap dari catatan hariannya dan juga surat-surat kepada pembimbing rohaninya yang dipublikasikan setelah kematiannya, terungkap bahwa pengalaman doanya bukan penghiburan tetapi pengalaman ditinggalkan oleh Tuhan. Bunda Teresa merasa seolah-olah ditinggalkan, ditolak atau tidak merasakan kehadiran Tuhan sama sekali selama puluhan tahun.

Sebagian besar tradisi rohani mengajarkan bahwa doa membawa kedamaian, kehangatan emosional, atau rasa kehadiran ilahi yang nyata, penghiburan yang biasanya diandalkan manusia untuk merasa aman. Namun selama beberapa dekade, Bunda Teresa mengalami hal yang hampir sebaliknya: kegelapan batin, di mana Tuhan terasa sepenuhnya absen, diam, dan jauh. Meskipun doanya terasa kering, hampa dan tanpa penghiburan, Bunda Teresa tetap memilih setia dalam doa dan terus melayani orang-orang miskin di Kalkuta. Ketika seseorang tetap melangkah dan percaya di tengah kekeringan, imannya telah naik ke tingkat yang jauh lebih matang. Para pembimbing spiritual akhirnya membantunya memahami bahwa kegelapan yang menyakitkan ini bukanlah tanda pengabaian ilahi, melainkan partisipasi spiritual dalam penderitaan dan kehausan Yesus di kayu salib, serta identifikasi dengan kesengsaraan spiritual yang mendalam dari kaum miskin yang dilayaninya.

Dalam buku The Cloud of Unknowing dikatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami, dimengerti sepenuhnya melalui akal, logika manusia. Tuhan sesungguhnya sangat dekat, namun kedekatan itu melampau kemampuan akal menangkapnya sehingga terasa sebagai kehampaan. Dalam konteks ini, pengalaman jauh dari Tuhan yang dialami Bunda Teresa adalah pengalaman kedekatan yang paling medalam dengan misteri Ilahi. Tuhan dialami bukan sebagai konsep yang bisa dijelaskan dengan kata-kata, melainkan sebagai Misteri Agung yang hanya bisa dihayati lewat penyerahan diri.

Eit Tunggu Dulu

Tidak semua pengalaman merasa jauh dari Tuhan, padang gurun atau kekeringan rohani, kita artikan sebagai pengalaman mistik seperti yang dialami Bunda Teresa, di mana Tuhan sesungguhnya hadir paling dekat dalam diri manusia, namun panca indera manusia tidak mampu menangkapnya. Bunda Teresa mengalami malam gelap iman yang menunjukkan kedalaman relasinya dengan Allah. Dalam konteks seperti ini, manusia memerlukan rahmat kesetiaan meski mengalami ditinggalkan oleh Tuhan.

Namun, dapat terjadi pengalaman kekeringan rohani atau merasakan jauh dari Tuhan karena kita kurang memperhatikan hidup rohani, terlalu sibuk dengan urusan duniawi sehingga melalaikan waktu untuk doa pribadi. Dalam hal ini, rasa jauh dari Tuhan sebagai sinyal atau teguran kasih dari Tuhan agar kita kembali memperhatikan kehidupan rohani kita dengan memperbaiki dan memperbarui relasi kita dengan Tuhan yang selama ini kita abaikan. Kita memerlukan rahmat kerendahan hati untuk mengakui kerapuhan diri dan selalu bergantung pada Tuhan.

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *