Minggu, 4 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XVII
Bacaan I : Yes. 5:1-7
Bacaan II : Flp. 4:6-9
Bacaan Injil : Mat. 21:33-43
Tidak Lekat pada Harta Kekayaan
Dalam Ajaran Gereja Katolik ada yang namanya dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnnya. Menurut Santo Gregorius Agung, dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, ada 7 dosa pokok, yaitu: kesombongan, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan, iri hati, dan ketamakan.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana para penggarap kebun anggur dikuasai ketamakan. Mereka ingin menguasai semua hasil kebun anggur. Mereka tidak mau menyerahkan hasil kebun anggur itu kepada sang tuan pemilik. Mereka tidak tahu bersyukur dan berterimakasih. Mereka ingin mengambil bagian yang bukan hak mereka.
Saat ada para utusan datang ingin menagih hasil kebun anggur, para penggarap malah menangkap, memukuli, melempari batu dan membunuh para utusan itu. Bahkan anak tunggal yang menjadi ahli waris pun dibunuh.
Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9).
Santo Paulus mengatakan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya bahaya dosa pokok ketamakan ini.
Orang seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa harta akan mampu membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakikatnya apapun yang kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya Sang Pemilik. Kita hanya diitipi. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari sikap Ayub atas harta kekayaan.
Harta yang ditimbun hanya untuk kepentingan pribadi akan sia-sia. Harta perlu disalurkan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Berbagi itu membahagiakan. Jangan sampai kita diperbudak oleh ketamakan akan harta.
Kita mempunyai teladan pribadi yang tahu bersyukur dan yang tidak diperbudak oleh harta duniawi. Pada hari ini (4 Oktober) Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi (1182-1226). Ia lahir, berkarya, meninggal dunia dan dimakamkan di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah. Ia wafat dalam usia 44 tahun.
Meskipun berasal dari keluarga pedagang kain yang kaya raya, dia tidak dimabukkan oleh kekayaan orangtuanya. Dia adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat sampai kini. Kebesarannya terletak pada dua hal, yaitu: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana dan cintanya yang merangkul seluruh ciptaan sebagai saudara-saudari.
Ia dijuluki “Sahabat alam semesta” karena cintanya yang besar terhadap alam ciptaan Tuhan. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai ‘saudara-saudari’: saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.
Pertanyaan refleksinya, apakah kita pernah dikuasai ketamakan dalam hidup ini? Bagaimana sikap kita terhadap harta kekayaan (uang, kendaraan, bakat atau talenta) yang dimiliki?#
Yohanes Gunawan, Pr
Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,
Jangli – Semarang
