Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Hironimus. Dia berjasa dalam menterjemahkan kitab suci berbahasa Ibrani dan Yunani ke bahasa Latin. Dengan demikian, banyak orang dapat mengerti isinya. Sekian puluh tahun lalu, setelah Konsili Vatikan II, Kitab Suci diterjemahkan ke banyak bahasa, sehingga bangsa-bangsa dapat memahami isi ks dalam bahasa mereka sendiri. Marilah kita bersyukur atas kurnia Roh Kudus ini.
Melalui 2 Tim 3: 14-17 Paulus menyapa Timoteus: “Anakku yang terkasih, hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Semua tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Matius dalam injilnya (Mat 13: 47-52) mewartakan: “Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Para malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Maka berkatalah Yesus: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, meski Timoteus sudah dewasa dan melayani banyak orang, bimbingan dan dukungan tetap diberikan Paulus kepadanya. Paulus menyadari bahwa peran sebagai guru iman dan teladan kepada anak asuhnya, tidak berhenti. Hendaknya para orangtua, para pembina atau pun koordinator di bidang apa apun, menyadari bahwa generasi muda tetap butuh teladan, kesaksian iman, sapaan dan dukungan mereka. Tulisan dan surat atau pun catatan peibadi, atau buku sebagaimana dilakukan Hironimus, amat berguna bagi pertumbuhan iman banyak orang sepanjang zaman.
Dua, Yesus menyatakan bahwa apa yang diajarkan orang Farisi, baik adanya dan dapat diterima. Yang dicela atau ditolak adalah perilaku mereka yang tidak sesuai dengan isi ajaran itu. Hendaknya apa yang kita ajarkan juga kita laksanakan. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
