Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*
Ia menatap langit yang gelap tanpa kerlipan bintang sambil berjalan pelan. Belum pernah ia merasakan sunyi, sesunyi malam ini. Temaram lampu di jalan sedikit membantunya menyusuri jalan penghubung antara gerbang utama dengan bangunan megah bermenara yang menjulang ke langit. Sudah lebih dari seratus duapuluh kali bulan purnama, ia telah berada di tempat ini, ruang hidupnya. Ia sangat mengenal udaranya yang menyegarkan meskipun di saat mentari dengan teriknya menyinari bumi. Ia sangat mengenal curahan hujan yang rajin menyirami bumi membuat rerumputan dan pepohonan indah menghijau. Ia sangat mengenal hembusan angin yang menembus dalam dingin di kulitnya. Ia sangat mengenal salib di ujung menara terhiasi langit biru dan terkadang terhias kabut putih. Ia sangat mengenal pilar-pilar dalam gereja yang menghias megah namun dalam kesederhanaan, tanpa warna. Ia sangat mengenal setiap kaca patri yang terlukis tiga puluh para kudus menghias indah seperti jendela yang memberi kesempatan sinar mentari masuk untuk menyinari ruang dalam. Ia sangat mengenal penduduk sekitar yang datang sejenak untuk memanjatkan doa dengan menyalakan lilin kecil. Ia mengenal semuanya karena tempat itu adalah ruang hidupnya. Ruang hidup yang memberinya nyaman, namun kini harus ia lepaskan.
Ruang Kehendak
Dalam perjalanan hidup ini, kita lebih dilatih untuk mencapai, meraih atau mendapatkan sesuatu dengan usaha semaksimal yang bisa kita lakukan. Misalnya, sejak dari sekolah dasar hingga di universitas, kita sudah diminta orang tua kita untuk belajar sebaik mungkin agar bisa berhasil dengan baik. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal itu, bahkan boleh kita katakan hal itu memang sudah sewajarnya. Namun di sisi lain, kita perlu menyadari bahwa dalam perjalanan hidup di dunia ini, bukan hanya tentang bertindak untuk mendapatkan apa yang kita harapkan tetapi juga mengajar kita untuk melepaskan banyak hal yang menghambat perjalanan hidup rohani.
Kehidupan terkadang hadir tidak seperti kita harapkan. Dan reaksi awal kita terhadap situasi tersebut adalah penolakan, bahkan jika kita merasa terjadi ketidakadilan akan muncul sebuah perlawanan. Dalam konteks seperti inilah melepaskan adalah aspek yang penting dalam perjalanan hidup rohani. Melepaskan adalah tindakan meletakkan kehendak kita ke kehendak Tuhan. Bukan berarti kita tidak memiliki kehendak. Kita tetap memiliki kehendak, namun kita percaya bahwa jika kehendak kita tidak sejalan dengan kehendak Tuhan, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi karena kita percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana yang terbaik untuk umat-Nya, meski tidak sesuai dengan kehendak kita. Itu sebabnya tindakan melepas adalah tindakan iman. Tuhan sendiri berfirman kepada kita umat-Nya melalui nabi Yeremiah; “Bukankah Aku sendiri tahu rencana-rencana-Ku bagi kamu Rencana-rencana itu bukan untuk mecelakakan kamu, tetapi untuk kesejahteraanmu dan memberi kepadamu masa depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)
Namun sebagai manusia, tidak selalu mudah untuk meletakkan kehendak kita ke kehendak Tuhan. Ada kecenderungan dalam diri kita sebagai manusia berdosa untuk berjalan sesuai dengan kehendak dan rencana kita sendiri. Hal itu sudah dilakukan lebih dahulu oleh dua manusia pertama Adam dan Hawa sehingga membuat mereka jatuh dalam dosa. Maka kita harus selalu memohon agar kehendak kita selaras dengan kehendak Allah meskipun tidak selalu mudah bagi kita manusia berdosa ini. Sang pemazmur meneguhkan kita dengan doa; “Ajarilah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku. Engkau baik hati dan akan membimbing aku di jalan yang benar (Mazmur 143:10)
Dalam sikap melepaskan kehendak, kita belajar dari Yesus Kristus di saat Dia sedang berada di taman Getsemani. Ia berseru dalam doa: “Abba Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu. Jauhkanlah cawan ini dari-Ku, namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu” (Markus 14:36). Dari teladan Yesus kita menyadari bahwa melepaskan kehendak sebagai tindakan iman bukanlah ketiadaan rasa takut; melainkan ketaatan meskipun ada rasa takut.
Ruang Luka
Kehidupan terkadang berjalan dengan tidak adil dan ketidakadilan bisa meninggalkan luka di hati. Ketika manusia terikat pada luka di dalam ruang hati, perjalanan hidupnya terasa sangat berat. Pengampunan adalah sarana ampuh untuk melepaskan dari keterikatan pada luka, emosi kemarahan dan pada akhirnya membawa pada kehidupan yang dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita di hati. Melepaskan keterikatan pada luka dengan sikap mau mengampuni, bukan berarti kita menyetujui tindakan ketidakadilan yang terjadi tetapi karena kita percaya bahwa Tuhan akan memberikan hati yang damai dalam keterlukaan di ruang hati kita dan kita berkembang dalam perjalanan hidup rohani.
Saat di kayu salib, Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:43). Sebuah doa yang keluar dari hati yang penuh kasih meskipun hati-Nya terluka. Melalui teladan-Nya ini, kita dipanggil untuk mengampuni, agar hati kita diubah dari hati yang terluka menjadi hati yang mengasihi dan mengampuni. Kita membutuhkan rahmat bantuan-Nya karena mengampuni itu tidak selalu mudah.
Tindakan melepaskan tidak terjadi dalam semalam tetapi dalam proses bertahap yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Proses itu akan membuka pintu menuju penyembuhan dan transformasi diri yang mendalam. Melepaskan keterikatan pada luka di ruang hati melalui tindakan mengampuni adalah sebuah tindakan dalam iman
Malam semakin sunyi dan merasuki hatinya dalam rasa sepi. Harapan yang pernah ia lambungkan tidak selaras dengan kenyataan yang dihadapi saat ini. Hal ini membuatnya merasakan kehilangan. Langkahnya memutar dan menjauh dari gerbang utama, terus menyusur secara perlahan hingga mendekat kembali ke menara gereja. Ia menatap ujung menara itu. Meski tidak terlihat karena tiada cahaya, ia mengetahui ada tanda salib di ujung sana. Ia hening sejenak sambil terus menatap salib yang tidak terlihat itu. Lalu ia mendengarkan dirinya terdalam yang berbisik tanpa suara memintanya untuk ikhlas melepaskan. “Sebab di bumi ini tidak ada tempat tinggal yang kekal untuk kita, kita mencari tempat tinggal yang akan datang”. (Ibrani 13:14). Ada kesedihan dan ada keikhlasan berdampingan di dalam ruang hatinya, namun tiada lagi ruang untuk negosiasi yang berandai-andai di sana
*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.
