Belajar Dari Sosok Perintis Jalan Tuhan

 Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Ia masuk ke ruang perpustakaan yang berdinding kayu cokelat dengan guratan-guratan seperti seni lukis surealis. Nuansa ruangan membuat rasa hangat dan nyaman di hati. Sebuah tempat yang paling sunyi dan tenang dibandingkan dengan ruangan lainnya. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia berkunjung di ruangan ini. Ruangan yang sudah berumur lebih dari seratus tahun ini selalu menyambut kedatangan setiap orang yang ingin memperdalam pengetahuan, seperti dirinya yang berkunjung pagi ini. Cahaya pagi memancar dari jendela kaca menerangi ruangan seakan ikut menyambutnya. Ia segera menuju bagian ruang atas perpustakaan melalui tangga yang melengkung indah, mencari sebuah buku. Tidak sulit mencarinya karena ia sudah pernah melihat posisi buku tersebut di antara puluhan ribu buku lainnya. Setelah mendapatkannya, ia kembali ke bawah menuju ke sebuah meja dan membaca.

Buku tersebut mengisahkan tokoh yang lahir pada awal abad pertama Masehi, sezaman dengan Yesus Kristus. Seorang pengkotbah yang kehadirannya menggemparkan masyarakat sezamannya dengan mengajak orang-orang untuk bertobat dari dosa sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan Sang Penyelamat. Setelah banyak orang mau diajak untuk bertobat, sosok tersebut membaptis mereka di Sungai Yordan (Lukas 3:3). Mendengar kata membaptis, tentu kita mengetahui siapa tokoh yang dimaksud. Ya, benar, sosok tersebut bernama Yohanes Pembabtis. Seruan pertobatan dari sang perintis jalan Tuhan ini, tentu masih sangat relevan untuk kita semua hingga saat ini karena kita semua adalah makhluk yang tidak luput dari dosa dan kesalahan.

Disambut dengan Gembira

Seperti kelahiran bayi pada umumnya selalu disambut dengan gembira, demikian juga kelahiran Yohanes Pembabtis. Bayi Yohanes Pembabtis disambut dengan gembira oleh kedua orang tuanya, Zakharia dan Elizabeth. Di rumah pasangan yang sudah memasuki usia senja ini  terjadi sukacita yang tak terlukiskan karena akhirnya mereka memiliki seorang anak dan kegembiraan itu semakin berlipat-lipat karena anak itu adalah seorang putra (Lukas 1:5-15,36) yang akan meneruskan garis keturunan mereka. Bukan hanya kegembiraan, tetapi kekaguman yang luar biasa menaungi hati orang banyak. “Maka ketakutan melanda seluruh penduduk desa, dan segala hal itu menjadi bahan pembicaraan di seluruh daerah Pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengar hal itu merenungkannya dalam hati mereka, dan mereka berkata, ‘Apakah yang akan terjadi pada anak ini?’ Sebab sesungguhnya tangan Tuhan menyertai dia” (Lukas 1:65-66).

Kita harus mengakui bahwa tidak semua kelahiran seorang bayi disambut dengan gembira oleh orang tuanya, seperti yang dialami Yohanes Pembabtis. Ada orang tua yang menolak darah daging mereka sendiri dengan berbagai macam alasan yang tampaknya masuk akal, tetapi secara moral tidak adil dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan ada manusia yang kehilangan hati nuraninya, melakukan perbuatan dengan menghentikan kehidupan seorang bayi sebelum ia lahir ke dunia ini. Apapun persoalan yang melatarbelakangi perbuatan itu, sangat tidak dapat dipertanggungjawabkan karena kehidupan adalah milik Allah yang dikaruniakan kepada manusia (Kejadian 9:6, Mzr 36:9). Sabda Allah mengatakan bahwa janin yang belum dilahirkan adalah manusia yang hidup. Dalam Mazmur 139:16 dikatakan; “Mata-Mu melihat bahkan saat aku masih janin.” Jadi janin dalam kandungan sudah dianggap sebagai manusia. Bahkan kehadiran manusia di dunia ini merupakan panggilan dari Tuhan, bukan hanya secara kebetulan muncul. Nabi Yesaya menyampaikan dengan jelas: “Tuhan memanggilku sebelum aku lahir; ketika aku masih dalam kandungan ibuku, Ia memberi nama kepadaku” (Yes 49:1). Maka, kita semua dipanggil untuk menjaga dan memelihara kehidupan sejak dari janin hingga ia hadir ke dunia ini.

Kesederhanaan

Yohanes Pembabtis hidup sangat sederhana. Ia mengenakan pakaian dari bulu unta dan hidup dari belalang dan madu liar (Markus 1:6, Matius 3:4). Dilihat dari sisi sosial pada masa itu, Yohanes mengkritisi kebiasaan makan bersama yang dilakukan antara para pemegang kekuasaan dan para pendukungnya. Ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dalam praktik ini sehingga membuka ruang nepotisme di sebuah pemerintahan atau organisasi. Yohanes Pembaptis mengkritik hal tersebut serta menyerukan pertobatan.

Kita tidak harus berpakaian dan makan seperti Yohanes Pembaptis, namun pesan yang disampaikan dari kesederhanaan hidup Yohanes Pembaptis adalah mengajak kita untuk mengendalikan diri dan disiplin diri. Kita bisa jatuh ke dalam ketidakmampuan mengendalikan diri dalam hal makan. Seharusnya makan untuk hidup menjadi hidup untuk makan. Seharusnya makan membuat sehat, namun makan membuat  tidak sehat karena kita makan dengan berlebihan tanpa pengendalian diri.

Kerendahan Hati

Bagi orang-orang sezamannya, Yohanes Pembabtis adalah seorang nabi yang terkenal luas, yang suaranya bergema di seluruh Yudea, tetapi ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ia mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri kepada Yesus. Ketika orang banyak mulai bertanya-tanya apakah Ia adalah Mesias, Yohanes meyakinkan mereka bahwa ia bukanlah Mesias. (Yohanes 1:20) Ia menyatakan bahwa dirinya hanya mempersiapkan kedatangan Sang Penyelamat (Yohanes 1:23)

Yohanes menyadari bukan dia yang seharusnya dimuliakan, tetapi Yesus saja, dan dia tidak mau menerima kemuliaan Tuhan untuk dirinya sendiri. Hidup Yohanes sangat singkat, tetapi dia menjalani dengan maksimal karena seluruh hidupnya dipakai untuk melakukan panggilannya untuk menyiapkan jalan sebelum kehadiran Yesus Kristus, Sang Mesias. Dia yang harus makin bertambah, aku harus makin berkurang. Dalam diri kita masing-masing, ketika dalam tugas pelayanan, kita diminta untuk meneladan St. Yohanes Pembabtis dalam kerendahan hatinya.

Kebenaran

Yohanes adalah nabi yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan serta menentang amoralitas. Ia berani menegur bahkan mengutuk Herodes yang mengambil istri saudaranya sendiri menjadi istrinya. Sayangnya, suara kenabiannya dibungkam dan berujung pada kematiannya dengan pemenggalan kepala di penjara (Matius 14:1-12). Mewartakan kebenaran atau hidup sesuai kebenaran bukanlah hal yang mudah. Sudah menjadi rahasia umum di negara kita, jika seorang yang mau hidup benar dan jujur akan segera disingkirkan dalam hidup pemerintahan. Sejak zaman Yohanes hingga saat ini, kebenaran, keadilan, kejujuran sangat mahal harganya.

Kita mungkin tidak sampai mengorbankan hidup demi kebenaran, tetapi teladan hidup Yohanes Pembabtis memanggil kita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan kita sehari-hari di manapun kita berada. Hal itu harus kita mulai dari diri sendiri. Hidup yang benar dan bersikap adil mengarahkan kita kepada Yesus Kristus, satu-satunya sumber kehidupan sejati. Santo Yohanes Pembabtis, doakanlah kami!

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *