Cahaya Yang Menerangi Dunia

Oleh Bavo Benedictus Samosir, OCSO

Lingkungan keluarga, budaya, sekolah, dan pertemanan dapat membentuk perilaku bahkan kepribadian seseorang, khususnya pada masa perkembangan atau usia pencarian diri. Baik dan buruknya situasi lingkungan bisa memengaruhi pribadi seseorang. Seseorang yang hidup dalam lingkungan sosial yang buruk akan membentuk kepribadiannya menjadi buruk, dan sebaliknya, lingkungan sosial yang baik akan membentuk kepribadiannya menjadi baik.

Meninggalkan Dunia

Ketika Benediktus muda sedang berkuliah di Roma, ia melihat kemerosotan moral di kalangan kaum muda. Sebagian anak muda, entah di zaman St. Benediktus yang hidup di abad kelima maupun zaman sekarang, lebih memilih mengikuti arus kehidupan duniawi daripada mempertahankan iman, hanya supaya mereka bisa diterima di lingkungan mereka. Tanpa mereka sadari, mereka telah mengorbankan identitas mereka sebagai pengikut Kristus. Identitas mereka tertutup oleh kegelapan kehidupan duniawi. Namun, keadaan seperti ini tidak terjadi pada diri St. Benediktus. Ia tidak ingin dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak kondusif. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kehidupan dunia, termasuk menghentikan pendidikannya dan hidup menyepi sendiri di sebuah gua di Subiaco, Italia. St. Benediktus menjalani hidup sebagai pertapa eremit tahun 497, ketika berusia di awal dua puluhan. Oleh karena itu, sangatlah penting ketika membuat keputusan tidak berdasarkan keuntungan atau kesenangan duniawi yang bersifat sesaat, melainkan sangat perlu mempertimbangkan etika, moral, dan nilai-nilai iman yang kita yakini, agar kita tidak salah langkah dalam menjalani kehidupan.

Menjadi Cahaya

Meskipun St. Benediktus telah menarik diri dari kehidupan dunia, banyak orang tertarik pada kesucian hidupnya. Mereka datang ke pertapaan eremitnya untuk meminta nasihat dan bimbingan rohani untuk perjalanan hidup. Gereja saat itu mengalami “kegelapan.” Di abad ke-empat, Gereja tidak lagi mengalami penganiayaan. Kekristenan menjadi agama yang diakui dan Gereja mengalami kebebasan beragama. Situasi kenyamanan ini ternyata membuat Gereja tidak lagi berkomitmen dalam iman, seperti Gereja Kristen perdana. Dalam internal Gereja terjadi ketegangan karena Gereja terlibat jauh dalam politik dan kekuasaan sehingga Gereja mengabaikan perannya dalam iman dan kerohanian, namun fokus pada urusan duniawi. Jalan hidup yang dipilih St. Benediktus menjadi jalan alternatif untuk menghidupi iman kristiani dengan sungguh-sungguh. Seumpama sebuah cahaya, St. Benedictus memberikan cahaya bagi setiap orang yang ingin keluar dari situasi krisis di dalam Gereja.

Tanpa mengabaikan bahwa di beberapa tempat di Indonesia masih ada kesulitan dalam menjalankan ibadah, negara Indonesia memberi kebebasan kepada setiap umat beragama untuk menjalankan hidup beragama. Boleh kita katakan kita hidup dalam situasi nyaman sebagai umat beragama. Namun, sebagaimana terjadi pada abad keempat, ketika kenyamanan membuat Gereja terlena sehingga kurang berkomitmen dalam menjalankan imannya, hal itu juga dapat terjadi pada masa ini. Kita bisa jatuh pada sikap suam-suam kuku atau setengah hati dalam menjalankan penghayatan iman dalam kehidupan sehari-hari. Sikap suam-suam kuku terjadi karena kenyamanan hidup yang kita alami. (Wahyu 3:15-17)

Kehidupan St. Benediktus mengingatkan kita semua akan panggilan menjadi cahaya bagi dunia. “Demikian hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16). Cahaya itu tampak dalam perbuatan-perbuatan baik di kehidupan sehari-hari.  Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan bersumber dari kebaikan Tuhan yang telah kita terima terlebih dahulu. Cahaya kebaikan itu akan bersinar dalam ketulusan.

Bukan Bagian dari Dunia

St. Benediktus menjalani kehidupan eremit di gua Subiaco hanya tiga tahun. Pada tahun 530, atas permohonan para murid, ia mendirikan biara Benediktin Monte Cassino, yang terletak di puncak bukit antara Roma dan Napoli. Mereka menjalani hidup kerahiban dalam sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang abas. Mereka mengasingkan diri dari dunia untuk menghidupi semangat Injil melalui kehidupan sehari-hari yang biasa di dalam doa dan kerja. Kehidupan yang mereka jalani menyuarakan bahwa tujuan kehidupan bukanlah di dunia, tetapi menuju kehidupan yang akan datang di surga. Kehidupan yang mereka jalani adalah bentuk kritis terhadap kehidupan Gereja abad keempat yang dipengaruhi oleh semangat duniawi.

Yesus pernah bersabda, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi Aku meminta kepada-Mu untuk melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan milik dunia, sama seperti Aku bukan milik dunia.” (Yohanes 17:15-16) Jadi, berdasarkan sabda itu, St. Benediktus dan para pengikutnya hidup dalam sebuah pertapaan untuk mengambil jarak dari semangat keduniawian, namun tetap hidup di dunia dan terlibat dalam kehidupan dunia, terutama melalui doa dan kerja harian.

Tidak semua orang harus mengikuti jalan kehidupan seperti St. Benediktus dan para pengikutnya. Namun, semua orang Kristen, apa pun itu panggilan hidupnya dan profesinya, memiliki kewajiban untuk meninggalkan semangat duniawi dalam menjalani kehidupan di dunia ini karena mereka bukan bagian dari dunia.

Harus Menghentikan

Waktu telah menunjuk pukul sembilan malam. Mentari di musim panas belum mau menghentikan cahayanya menyinari bumi. Dan cahaya itu menampakkan diri melalui jendela kaca di ruang perpustakaan, seakan menyapa dirinya yang sedang menekuni sebuah buku tua tentang kehidupan pelopor kehidupan monastik di Gereja Barat. Waktu sudah harus membuatnya membaringkan diri di peraduan, namun cahaya mentari di musim panas menggodanya untuk terus membuka lembaran-lembaran halaman itu. Di sisi lain kesepakatan dalam aturan komunitas mengharuskannya untuk berhenti membuka lembaran buku itu. Akhirnya ia melepaskan kacamata dan mengusap-usap matanya yang sesungguhnya sudah lelah. Ia merenggangkan tubuhnya sesaat lalu berdiri dan menutup buku itu, Kakinya melangkah menuju kamar untuk istirahat malam.

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *