Hari ini kita merayakan pesta kelahiran Bunda Maria. Beliau lahir dari orangtua yang bernama Yoakhim dan Anna. Mereka adalah orangtua yang saleh dan taat kepada hukum Taurat. Meski nama mereka tidak disebut dalam Kitab Suci, mereka telah turut serta dalan karya keselamatan Tuhan. Pesta ini baru dirayakan sejak abad ke-6, sebagai ungkapan syukur dan hormat umat Allah kepada Maria yang telah melahirkan Yesus – Penyelamat dunia.
Dalam Mik 5: 1-4a dikisahkan beginilah firman Tuhan: Hai Betlehem di Efrata, engkau yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, darimu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.
Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya. Mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.
Matius dalam injilnya (Mat 1: 18-23) mewartakan: Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, bagi manusia, orang kecil, tidak terkenal dan tidak menjanjikan, sering disepekan atau bahkan ditinggalkan. Tidak demikian adanya, bagi Allah. Meski kecil dan tidak menarik, di tangan Tuhan, mereka akan punya arti dan peran yang besar bagi kehidupan umat manusia. Mereka tetap berharga. Kita pun digugah untuk menghargai dan mencintai mereka, serta dalam nama Tuhan mengikutsertakan mereka dalam sejarah keselamatan, bukan hanya melibatkan yang besar-besar, menarik dan memberikan imbalan.
Dua, keberanian dan ketaatan Maria kepada kehendak dan rencana Allah, dengan mengorbankan aneka perasaan yang bergemuruh di dalam batinnya, kesiapannya menghadapi Yusuf – tunangannya – dan “komentar-komentar miring karena dia hamil sebelum menikah. Hal itu di satu sisi merupakan beban kejiwaan yang amat berat, di sisi lain berbuah manis.
Bahkan sampai hari ini aneka gelar dan rasa hormat dan syukur diberikan kepadanya. Dia dinyatakan dikandung tanpa noda dosa, diangkat ke surga dengan mulia, dan menjadi bunda Allah – bunda Gereja. Serta melalui Yesus, Anaknya, dia menjadi perantara Allah dan manusia.
Hari lahirnya pun dirayakan umat Allah dengan sukacita di seluruh dunia. Hendaknya kita tidak serta merta menolak tugas/perutusan/tanggung jawab yang berat sebagaimana diteladankan bunda Maria. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
