Renungan Harian 3 Juli 2026

Hari ini kita merayakan pesta St. Thomas Rasul. Dia lahir di Galilea dari keluarga nelayan dan bekerja sebagai nelayan buruh, bukan sebagai pemilik perahu. Hidupnya serba kekurangan sehingga kecil hati, dan tidak mudah percaya kepada orang lain. Hal itu juga melatarbelakangi pernyataannya: tidak percaya akan kebangkitan Yesus, ketika Dia menampakkan diri kepada para rasul.

Dalam pelayanannya, Thomas melayani umat di daerah Syria, Armenia, Persia, dan sampai ke India. Dia mati sebagai martir di India.

Melalui Ef 2: 19-22 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari para kudus dan para anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia, kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Yohanes dalam injilnya (Yoh 20: 24-29) mewartakan: Tomas, seorang dari 12 murid Yesus, yang disebut Didimus, tidak bersama dengan mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata para murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Sebaliknya, Tomas berkata: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”

Delapan hari kemudian para murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Tomas menjawab: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus: “Karena telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Hikmah yang dapat kita petik:

Satu, Paulus menegaskan bahwa umat Allah itu bagaikan rumah yang dibangun dengan batu dasar para rasul dan Kristus sebagai Batu Penjuru (Batu Utamanya). Maka, patutlah kita berterima kasih kepada para rasul yang meneruskan iman kepada Yesus yang mereka alami, kepada kita. Hendaknya kita pun patut bersyukur dan bangga atas iman yang diwariskan kepada kita, dan terdorong untuk meneruskannya kepada anak cucu kita.

Dua, Yesus mampu mengubah orang yang kecil hati, mudah kecewa dan curiga, dan sulit percaya menjadi utusan-Nya kepada banyak bangsa. Kelemahan dan dosa manusia, tidak bisa dan tidak mampu membendung kasih Allah kepada umat-Nya. Malahan melalui orang-orang yang demikian, kasih dan kuasa Allah benar-benar bekerja. Seperti yang dilakukan kepada Thomas, Allah mampu mengubah isi hati manusia dan hidup manusia menjadi baru, dan menjadi saluran kasih yang mengagumkan. Amin.

Mgr Nico Adi MSC

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *