Aksi Ngudi Makmur Se-Rayon Klaten Demi Ketahanan dan Solidaritas Pangan

Hari semakin panas pada pertengahan bulan Desember 2025. Petrus, Untung, Marjo dan beberapa petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Ngudi Makmur Wedi sedang mengolah media tanam untuk dimasukkan dalam 1000 polibag. Keringat deras tampak mengucur dari wajah mereka. Tak hanya satu hari itu, proses penyiapan media tanam itu dilakukan beberapa tahap yakni pengomposan yang di dalamnya berisi campuran kotoran hewan, arang sekam, dolomit dan bakteri pengurai. Kemudian proses itu dilanjutkan pencampuran kompos dengan tanah setelah 2 minggu masa dekomposisi.

Ketika kompos siap, kompos yang dicampur dengan tanah kemudian dimasukkan dalam polibag. Setelah itu penanaman bibit cabai dan terong pun dilakukan.

Penyiapan media tanam

Kegiatan ini adalah bagian dari gerakan ketahanan pangan dan solidaritas pangan bertajuk “Aksi Ngudi Makmur” yang didukung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Komisi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PSE). Gerakan ini melibatkan 10 paroki di Rayon Klaten.

Rencananya, kegiatan dimulai dengan pertama, membentuk jejaring petani serayon Klaten di 10 Paroki setiap paroki dengan target minimal ada 10 petani teranimasi. Kedua, melakukan pelatihan (animasi) pertanian terintegrasi (Integrated Farming) di 10 paroki. Ketiga, melakukan praktik pembuatan pupuk kompos di 10 paroki. Keempat, membuat kebun sayur 1000 dengan media polibag di masing-masing paroki. Kelima, melakukan aksi solidaritas petani terhadap warga KLMTD melalui kebun sayur yang dibuat, minimal 50% dari hasil tanam di masing-masing paroki. Dan keenam, menyediakan produk pertanian yang sehat.

Perawatan Tanaman

Meskipun demikian tidak semua kegiatan itu berjalan dengan baik mengingat koordinasi yang cukup sulit karena jarak antar paroki yang relatif jauh. Meski demikian sebagian besar paroki bisa melakukannya, bahkan sampai tahap aksi solidaritas dengan berbagi tanaman yang telah siap berbuah kepada warga KMLTD.

Penanggungjawab projek Aksi Ngudi Makmur, Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr mengatakan, semula projek tersebut sebenarnya akan dilakukan hanya di Paroki Wedi. Mengingat, paroki-paroki di Rayon Klaten masih banyak area pertanian dan banyak umat yang berprofesi sebagai petani, projek tersebut akhirnya diperluas menjadi se-Rayon Klaten. “Paroki-paroki di Rayon Klaten masih terdapat lahan pertanian dan umat Katolik di dalamnya banyak yang masih berprofesi sebagai petani,” katanya.

Menurut Romo Edy, projek tersebut bertujuan untuk menggerakan pertanian di Rayon Klaten, membentuk dan menggerakan paguyuban tani di masing-masing paroki serta membentuk jaringan petani se-Klaten.  Diharapkan pula bahwa projek ini bisa menjadi suara Gereja di Klaten.

Pendistribusian tanaman ke umat berkategori KLMTD

Meskipun demikian, Romo Edy menyadari adanya tantangan yang menghadang seperti sulitnya  mencari orang untuk bergerak. Ini membutuhkan keterbukaan hati. “Landasannya adalah hati yang bergerak,” katanya. Supaya dinamika itu hidup dan para petani berdinamika, maka dibuat projek Aksi Ngudi Makmur di Rayon Klaten diawali dengan pelatihan, menanam 1000 tanaman, merawat dan mendistribusikanya kepada warga KLMTD.

Karena berbagai kesulitan dan tantangan, gerakan ini tidak dilakukan secara serentak. Ada yang mulai dulu, ada yang terlambat, bahkan ada yang tidak bergerak. Sampai bulan Juni 2026 ada yang masih berproses dalam penanaman.

Meski demikian, menurut Romo Edy, ini adalah proses pembelajaran dan pendampingan yang sangat berharga. Dari sana, para petani bisa saling menimba pengalaman dan menjalin persaudaraan.

 

 

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *