Di tengah cuaca yang cukup panas pada bulan Juni 2026, Agung dan umat Lingkungan Santa Maria Goreti, Ngering, Paroki Wedi bergotong royong menyiapkan lahan umat yang akan dipakai untuk pertanian terpadu. Dengan wajah riang dan penuh semangat,mereka bahu membahu membersihkan lahan itu dari rumput, sampah maupun pohon-pohon yang mengganggu.
Siang itu, Agung tampak memunguti sampah-sampah plastik dan beling. Yang lain tampak sibuk menyiapkan kandang ayam berukuran 2×6 meter. Yang lain lagi sibuk memperbaiki kolam lele berukuran 2×1 meter. Tempat budidaya maggot juga dibuat. Pagar keliling dipasang supaya tidak kemasukan hewan liar yang bisa merusak tanaman. Sebagian yang lain mencangkul lahan dan membaginya dalam 10 bedeng.
Ibu-ibu tak ketinggalan. Mereka ikut membantu gotong royong itu. Ada yang mengangkut batu bata dan juga menyiapkan media tanam dalam galon. Proses gotong royong dalam lahan 8,5×14,5 meter itu dilakukan dari pertengahan Mei hingga Juni. Ketika media tanam siap,mereka pun menanami lahan itu dengan berbagai macam sayur.
Pertanian terpadu dilakukan sebagai salah satu gerakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun (HUT) Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi yang ke-70 yang mengangkat tema Asung Pitulungan, Asung Pangapura.
HUT Paroki Wedi dikemas dalam Pancakrida yaitu pertama, Asung Pitulungan, Brayat Sehat Dadi Berkat yang meliputi pangan, papan, kesehatan dan aksi karitatif yang diwujudkan dalam pertanian terpadu, bantuan sembako, bedah rumah dan pemeriksaan serta penguatan kesehatan. Kedua, pemaknaan syukur 70 Tahun berupa tirakatan, novena, buku kenangan dan sapaan pada para tokoh yang pernah terlibat di Gereja Wedi. Ketiga, Fun Run, Mary Run yang diisi dengan kegiatan lari dan zumba, pasar murah, stan UMKM, hiburan,dan doorprize. Keempat, pertunjukan wayang kulit. Kelima, misa syukur sebagai puncak acara HUT.

Romo Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Basilius Edy Wiyanto, Pr menyampaikan, perlunya setiap umat di rumahnya masing-masing menyadari adanya potensi lahan yang belum tergarap untuk ketahanan pangan. Terkait dengan program Asung Pitulungan yang bermakna harafiah, memberi pertolongan, umat diajak untuk menyadari mereka yang layak untuk dibantu atau ditolong. Menurut Romo Edy, mereka yang layak dibantu adalah mereka yang masuk dalam kategori kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD).
Romo Edy juga menyampaikan, perlunya kesadaran umat dalam merawat dan mengoptimalkan lahan sebagai salah satu gerakan merawat lingkungan. “Ada kok lingkungan yang juga perlu diperhatikan. Ya salah satunya adalah ketika kita sadar rumah saya itu ada di tanah seperti apa, oh ada sisa, atau bisa sebenarnya ada bagian tanah yang belum dimanfaatkan,” katanya. Cara pemanfaatnya bisa dilakukan dengan dengan model pertanian terpadu seperti yang sudah Romo Edy praktikkan di halaman pastoran dengan konsep dari dapur kembali ke dapur.
Ia pun menjelaskan, Asung Pitulungan adalah gerakan yang terintegrasasi dari 5 matra, yaitu pangan-sandang, papan, lingkungan dan kesehatan. Tentang pangan, ia menjelaskan kalau gerakan itu tertuju untuk mereka yang tidak mampu untuk makan dengan mudah dalam satu.Tentang papan, gerakan ini tertuju pada rumah umat baik Katolik maupun bukan Katolik yang tidak layak huni. “Maka, ada gerakan bedah rumah di satu rumah itu satu wilayah,”katanya.
Tentang kesehatan, Romo Edy melihat perlunya memperhatikan kesehatan fisik umat. “Mana yang lemah secara fisik, maka perlu kita kunjungi, dipastikan kesehatannya, disembayangke, dikunjungi, dirawat, kalau kemudian kalau kita mampu ya diobati,” katanya.
Tentang lingkungan, Romo Edy mengajak supaya lingkungan itu disapa dan dirawat. Yang menjadi pilihan dalam gerakan Asung Pitulungan adalah gerakan pertanian terpadu yang memadukan budidaya tanaman-sayur, ternak, ikan, dan pengelolaan sampah. “Bagaimana di lahan kosong kita juga menanam, tapi juga memelihara ternak dan itu dari tanaman-ternak, itu di rantai makanan diputar gitu ya. Dari situ akan kembali ke dapur, dari dapur itu juga ada sisa-sisa tapi bagi tanaman, bagi ayam itu nutrisi,” katanya.
Supaya diingat, maka,gerakan itu diberi tagline Brayat Sehat, Dadi Berkat. “Keluarga yang kemudian menjadi penggerak. Kita tidak perseorangan, namun keluarga, kelompok, lingkungan, wilayah, itu bergerak,” katanya.

70 Tahun Paroki Wedi
Tahun 2026, Paroki Wedi merayakan ulang tahun yang ke-70 berdasarkan pada pembentukan PGPM (Pengurus Gereja dan Papa Miskin) pada 13 Juni 1956. Tema yang diangkat adalah Asung Pitulungan. Semangat yang diangkat adalah Asung Pitulungan, Asung Pangapura. “Apa yang menjadi arah Keuskupan ini dikontekskan pada 70 Tahun paroki, maka diberi semangat. Semangatnya adalah Asung Pitulungan, Asung Pangapura,” kata Romo Edy.
HUT Paroki Wedi ini bertepatan dengan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang sedang mengawali Ardas IX 2026-20230 “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan”. Dalam Ardas itu, ada empat strategi yang ditempuh untuk mewujudkannya. Umat Allah KAS dengan berbagai karisma, pertama, mengembangkan formasio iman yang fundamental, eklesial, total, dan integral serta terarah kepada hidup beriman yang cerdas, tangguh, misioner, dan dialogis. Kedua, mengambil langkah pertama untuk mewujudkan hidup bermasyarakat yang lebih menghormati hak asasi manusia,mengedepankan aneka dialog, dan melestarikan keutuhan ciptaan. Ketiga, membangun semangat bela rasa dan kerjasama dengan semua pihak di pelbagai bidang untuk meningkatkan mutu kehidupan bersama terutama saudara-saudari yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Keempat, mengembangkan reksa pastoral yang efektif dan adaptif dengan kemajuan teknologi.
Fokus tahun 2026 adalah “Berjalan Bersama Mewujudkan Ardas IX”. Berdasar Nota Pastoral 2026-2030, hal itu ditempuh dengan 5 butir fokus pastoral. Pertama, sosialisasi dan konsientisasi ARDAS IX beserta NOPAS. Kedua, pemetaan kualitas praktik sinodalitas dalam komunitas-komunitas gerejawi, dan struktur-struktur pelayanan pastoral di KAS serta ditemukannya model-model baru pengembangannya. Ketiga, penentuan baselines capaian/kondisi awal tim-tim pelayanan dan komunitas-komunitas. Keempat, penguatan kapasitas pelayan pastoral melalui pengembangan manajemen SDM dan gaya kepemimpinan pelaku pastoral, buıdaya relasional kebaikan dan terciptanya komunitas inklusi (terbukanya akses bagi semua pihak), dan literasi dan piranti/aplikasi sistem digital. Kelima, edukasi mengenai maksud bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan sebagai semangat pastoral bagi para pimpinan, pelaku pastoral, dan umat.
Sebagai strategi untuk menuju pada Fokus tahun 2026 “Berjalan Bersama Mewujudkan Ardas IX”, Paroki Wedi membingkainya dalam Sambang Srawung Sedulur (S3). S3 ini menjadi satu kesatuan dengan gerakan Asung Pitulungan. Ketika ada rangkaian kegiatan dalam rangka ulang tahun, semangat asung pitulungan, asung pangapura diwujudkan dan diedukasikan kepada umat. Jika S3 dimulai dengan perayaan Paskah bersama 2 Lingkungan, maka, Asung Pitulungan salah satunya dengan aksi karitatif, pemberdayaan dan bedah rumah yang sudah biasa dilakukan di Paroki Wedi. Demikian pula dengan pemberdayaan umat melalui Gerakan Membangun Keluarga Sehat secara utuh dan menyeluruh (Brayat Sehat Dadi Berkat) oleh tim PSE, KCLH dan Kesehatan. Harapannya, umat mengalami dan merasakan kesehatan secara holistik, sehat fisik, sehat rohani, sehat lingkungannya.“Merawat lingkungan sekaligus bisa menghidupi dirinya. Dilakukan secara terintegrasi supaya tidak parsial,” kata Romo Edy. Salah satu yang menjadi sasaran adalah pendampingan ketahanan pangan sehat dengan membentuk pilot project mengingat berbagai keterbatasan yang ada. “Yang paling menentukan adalah pendampingan dan sampai ada kesadaran, ada dampak penting sehingga yang terlibat itu memperjuangkan, bukan memperjuangkan dapat dana. Tapi ini memperjuangkan hidupku. Ini yang perlu interaksi. Tidak bisa kita hanya edukasi klasikal,” ungkap Romo Edy. Yang utama, menurut Romo Edy adalah mau mengembangkan bersama, mau saling berdiskusi sehingga berkembang sesuatu, dan persaudaraan muncul.
