Keuskupan Agung Semarang (KAS) sedang mengupayakan agar umat Katolik dan masyarakat dapat mengalami hidup yang bahagia, inspiratif dan sejahtera. Untuk itu, semua paroki di KAS berusaha keras mewujudkan apa yang menjadi arah dasar menggereja dan memasyarakat tersebut dapat dicapai. Paroki Santo Yusup, Baturetno, Wonogiri juga sedang bersemangat mewujudkan umat Katolik dan masyarakat yang bahagia, inspiratif dan sejahtera. Senin, 29 Juni 2026, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ, Pastor Paroki Santo Yusup Baturetno dan Yusuf Hidayat, mentor bawang merah, bersama sejumlah umat dan warga melaksanakan penanaman benih bawang merah di lahan milik umat. Penanaman ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap pelatihan budidaya bawang merah.
Yusuf Hidayat menjelaskan, secara geografis wilayah Paroki Santo Yusup Baturetno terletak di beberapa wilayah kecamatan yang terdapat hamparan persawahan dan perkebunan yang luas. “Sehingga sebagian besar umat adalah petani dan berkebun. Berdasar observasi, diketahui bahwa umat yang bertani dan berkebun rata-rata menanam padi dan jagung. Seiring dengan kondisi cuaca yang tidak menentu akhir-akhirnya hasil panen tidak maksimal karena berbagai macam gangguan, di antaranya tanaman terserang wereng, jamur, tikus, monyet dan lainnya,” kata Yusuf.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, berdasarkan hal tersebut maka perlu terobosan atau inovasi bagi petani untuk memilih jenis tanaman yang secara hasil panen lebih menuntungkan dan dapat menopang perekonomian keluarga. “Dari beberapa jenis tanaman yang memiliki prospek bagus yaitu jenis tanaman hortikultura bawang merah. Dengan pertimbangan usia tanam relatif singkat, sekitar 60 hari, tidak memerlukan air yang berlebih, prospek pasar cukup menjanjikan, lahan tidak harus luas dan bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumah,” katanya.
Umat dan sejumlah warga cukup antusias menanggapi pelatihan budidaya bawang merah yang diselenggarakan oleh Paroki Santo Yusup, Baturetno. Pelatihan budidaya bawang merah ini dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama, pemahaman awal (10 Mei 2026). Pada tahap ini peserta mendapat materi terkait budidaya bawang merah dari tahap pra tanam, tanam dan pasca tanam. Pra tanam terdiri dari proses penyiapan lahan, proses pengolahan, pemupukan awal dan pemilihan bibit. Proses tanam terdiri dari penanaman, proses perawatan sampai dari usia 0-60 hari setelah tanam (HST). Pasca tanam merupakan proses pemanenan, proses penyimpanan, dan pemasaran. Pada tahap ini juga disampaikan potensi gangguan yang menyebabkan gagal panen sekaligus cara penanganannya.
Tahap kedua, pendalaman praktis dan observasi (15 Mei 2026). Pada tahap ini peserta diajak ke lahan yang sudah ditanami bawang merah untuk melaksanakan observasi. Dengan demikian, peserta mengetahui secara langsung kondisi lahan secara umum sehingga memperoleh gambaran tentang budidaya bawang merah.

Tahak ketiga, praktik menanam. (29 Juni 2026). Pada tahap ini peserta diajak kembali ke lahan untuk melaksanakan praktik langsung penanaman, sehinga peserta mampu melaksanakan penanaman secara mandiri.
Di hadapan 45 orang peserta pelatihan, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ mengungkapkan harapannya, bahwa melalui pelatihan ini, umat diharapkan semakin bersemangat menanam di lahan-lahan yang ada dan bekerja sama dengan banyak pihak. “Melalui pelatiihan ini, semoga umat dapat makin bersemangat untuk melanjutkannya di lahan-lahan yang ada. Umat dan warga dapat bekerja sama untuk melakukan budidaya bawang merah ini sehingga mendapatkan hasil yang menguntungkan dan menyejahterakan keluarga sekaligus merawat lingkungan hidup serta keutuhan ciptaan Tuhan,” harap Romo Didik.
