Sejarah Musim Penciptaan

Tanggal 4 Oktober merupakan Hari Penutupan Gerakan Ekumenis (dan bagi saya Interreligius) Musim Penciptaan 2026. Musim ini dibuka sejak tanggal 1 September. Begitulah gerakan ini dimulai dalam rentang sebulan lebih.

Secara historis, akar gerakan Musim Penciptaan resmi dimulai sebagai aksi rohani dalam doa pada tanggal 1 September 1989. Namun, perkembangannya menjadi satu masa penuh (1 September – 4 Oktober). Gerakan ini terbentuk secara bertahap melalui sejarah sebagai berikut.

Pada tahun 1989 Patriarki Ekumenis Dimitrios I dari Gereja Ortodoks Timur menetapkan tanggal 1 September sebagai Hari Doa untuk Penciptaan. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan awal tahun liturgi Gereja Ortodoks, yang secara tradisi memperingati penciptaan dunia.

Pada tahun 1999–2001 terjadi transformasi ekumenis diperluas menjadi “Musim”. Itu dilakukan oleh Jaringan Lingkungan Kristen Eropa (European Christian Environmental Network – ECEN). Mereka memperpanjang hari doa tersebut menjadi satu masa yang berlangsung selama satu bulan penuh.

Selanjutnya, pada tahun 2001, gagasan dan gerakan ini mulai diterima ke dalam kalender gereja-gereja besar di Eropa. Pada tahun 2008 gerakan inj mendapat dukungan Ekumenis global dari Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches – WCC). WCC adalah semacam Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). WCC secara resmi mengadopsi gerakan ekumenis ini yang menetapkan Musim Penciptaan dalam rentang waktu dari 1 September hingga 4 Oktober. Tanggal 4 Oktober dalam tradisi Gereja Katolik merupakan Hari Pesta Santo Fransiskus dari Asisi, santo pelindung ekologi.

Pada tahun 2015, Gereja Katolik Roma dalam hal ini Paus Fransiskus secara resmi memasukkan Musim Penciptaan ke dalam kalender Gereja Katolik sedunia dan menetapkan 1 September sebagai Hari Doa Sedunia untuk Perawatan Ciptaan. Paus Leo XIV pun sangat mengapresiasi dan mempraktikkan momentum ekologis ini.

Gereja Katolik Roma bahkan mempersiapkan rumus liturgi khusus untuk menghayati momentum tersebut. Konferensi Waligereja Indonesia pun memberi perhatian khusus momentum ini melalui sinergi Komisi Liturgi; Komisi Keadilan, Perlindungan Migran dan Perdamaian (KKPMP); dan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK). Bahkan di tahun 2026 ini, sinergi juga melibatkan Komisi Pendidikan, Kateketik, dan Keluarga.

Syukur kepada Allah, momen tahunan tersebut diperingati oleh jutaan umat Kristiani dari berbagai denominasi di seluruh dunia sebagai waktu khusus untuk berdoa, berefleksi, dan mengambil tindakan nyata demi menjaga bumi sebagai rumah bersama. Semoga semakin banyak orang peduli Bumi, rumah bersama.

Salam Peradaban Kasih Ekologis Interreligius.

Salam INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Berkah Dalem.

Aloys Budi Purnomo Pr

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *