“Bulan Kitab Suci merupakan momentum berahmat bagi umat Katolik untuk makin mendekatkan diri dan mencintai sabda Allah dengan mendengarkan dan menghidupi-Nya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Gereja senantiasa mengajak umat untuk kembali kepada Kitab Suci, sebab melalui sabda-Nya, Allah sendiri berbicara, menuntun, dan membentuk hidup umat-Nya” (Mgr. Silvester San, 2026).
Kutipan tersebut saya ambil dari Sambutan yang disampaikan Mgr. Silvester San, selaku Uskup Delegatus Kitab Suci KWI. Ada pun sambutan tersebut disampaikan dalam Buku Panduan Bulan Kitab Suci Nasional 2026.
Kita umat Kristiani, khususnya Kristen Katolik bersyukur sebab, setiap Bulan September, secara khusus dan beroleh rahmat untuk mendalami Sang Firman secara serentak, eklesial, tak hanya pribadi per pribadi personal. Sebagaimana pemazmur berseru, “Sabda-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105), kita percaya Sang Firman membimbing dan menuntun kehidupan kita. Secara intensif, kita mengalaminya di Bulan September.
Mungkin masih ada yang bertanya: Kenapa September? Setiap tanggal 30 September Gereja Katolik merayakan Pesta St. Hieronimus. Pada tahun 382, Paus Damasus I meminta Hieronimus untuk menerjemahkan seluruh Alkitab dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin. Beliaulah yang dengan kerja keras selama 30 tahun menerjemahkan Alkitab dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin, yang kita kenal sebagai Vulgata. Semua itu dikerjakan di Betlehem.
Kiranya karena jasanya yang luar biasa bagi Kitab Suci, Gereja menetapkan bulan September sebagai Bulan Kitab Suci. Di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menetapkan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional sejak tahun 1990-an. Sebelumnya, saat KWI masih bernama MAWI, pada tahun 1970-an dilaksanakan Hari Minggu Kitab Suci, khususnya pada hari Minggu Pertama September.
September mengajak kita: “Mari awali tahun pastoral dengan kembali ke Sumber”. Sumber iman kita adalah Kristus, dan Kristus mewahyukan diri-Nya melalui Sabda dalam Kitab Suci. St. Hieronimus mengatakan, tidak mengenal Kitab Suci sama dengan tidak mengenal Yesus Kristus. Artinya, kalau kita mau mengenal secara mendalam Tuhan Yesus Kristus, tak bisa tidak, kita harus membaca Kitab Suci.
Kitab Suci bukan sekadar buku. Ia adalah “Sabda Allah yang hidup” – Ibrani 4:12.
Dalam Dei Verbum 21 Konsili Vatikan II menegaskan, “Gereja selalu menghormati Kitab Suci sebagaimana menghormati Tubuh Tuhan sendiri”.
Untuk kita saat ini, September mengingatkan 3 relasi penting. Pertama, Allah dan Umat: Allah tidak diam. Ia berbicara, memanggil, menghibur, menegur. Kedua, Kristus dan Sabda: Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Sabda”. Mengenal Kitab Suci berarti mengenal Kristus, sebagaimana sudah kita kutip dari St. Hieronimus. Ketiga, Roh Kudus dan Penulis. Kitab Suci diinspirasikan Roh Kudus agar menjadi pedoman hidup umat.
Harus dicatat, bahwa Bulan Kitab Suci bukan hanya soal lomba membaca Kitab Suci. Ada 3 gerakan yang perlu kita kembangkan. Pertama, gerakan membaca: Lectio Divina. Caranya: membaca Sabda setiap hari, minimal 1 perikop. Hal ini dilakukan dari keluarga, lingkungan, sampai paroki. Kedua, gerakan mendalami: Pendalaman Alkitab, sarasehan, diskusi kelompok. Supaya Sabda tidak hanya di kepala tapi masuk ke hati bahkan dipraktikkan. Ketiga, gerakan menghidupi. Prinsipnya, “Jadilah pelaku Firman” (Yakabous 1:22). Sabda harus turun ke dalam aksi: keadilan, bela kaum miskin, merawat ciptaan, merajut persaudaraan.
Saat ini, bangsa kita butuh terang. Di tengah hoaks, politik identitas, dan krisis ekologi, Kitab Suci hadir sebagai “terang bagi jalan”. Dalam konteks Politik Kebangsaan: Sabda mengajarkan keadilan, kejujuran, dan bela sesama (Amos 5:24). Dalam konteks Ekologi: Kejadian 2:15: “Usahakan dan pelihara” sebagai ajakan merawat rumah bersama. Dalam rangka kerukunan: Semua agama punya kitab suci. Saling menghormati kitab suci, sebagai langkah awal dialog
Sudah kita kutip nasihat St. Hieronimus, buah positif pengenalan Kitab Suci akan Kristus. Menarik sekali bahwa Paus Fransiskus dalam Verbum Domini mengatakan, “Kebodohan akan Kitab Suci adalah kebodohan akan Kristus!” Mari kita semakin mencintai Kitab Suci dan menjadikan Yesus Kristus sebagai Sang Guru Firman kita.
Salam INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan.
Salam Peradaban Kasih Ekologis. Berkah Dalem.
Aloys Budi Purnomo Pr
