Bulan Juni tiba. Di seluruh paroki, gereja-gereja Katolik menghiasi patung Hati Kudus Yesus. Mahkota duri melingkari Hati-Nya. Salib kecil berdiri di atasnya. Dari luka itu menyembur nyala api cinta. Simbol yang sederhana, tapi menampar kesadaran kita: Allah punya hati. Dan hati itu terluka karena manusia.
Bulan Juni ditetapkan sebagai Bulan Hati Kudus Yesus sejak penampakan kepada St. Margareta Maria Alacoque di Paray-le-Monial, Prancis, abad ke-17. Tuhan Yesus berkata: “Lihatlah Hati-Ku yang sangat mengasihi manusia”. Peringatan ini bukan sekadar devosi lama. Ini undangan. Undangan untuk masuk ke dalam logika Allah: logika kasih.
Dunia kita hari ini penuh dengan “hati batu”. Hati yang cepat menghakimi di media sosial. Hati yang menghitung untung rugi sebelum menolong. Hati yang tertutup saat melihat pengemis di lampu merah, lalu kaca mobil dinaikkan.
Hati Kudus Yesus adalah kebalikannya. Hati yang tertusuk tombak saat sudah mati di salib. Tidak ada logika dunia yang bisa menjelaskan itu. Musuh sudah kalah, toh Dia tetap ditusuk. Mengapa? Karena kasih-Nya tidak bisa berhenti, bahkan setelah nafas terakhir.
Itulah kasih Ilahi dalam kemanusiaan versi Allah. Bukan kasih yang manis-manis saja. Kasih yang berani terluka demi yang dikasihi. Kasih yang tidak menunggu dibalas. Kalau manusia mencintai karena maksud tujuan tertentu yang kerap kali egois, Allah mencintai walau manusia berdosa. Walau kita sering mengkhianati-Nya, Dia tetap membuka Hati-Nya lebar-lebar dan setiap bulan Juni kita mengenang kasih itu.
Bahaya terbesar devosi Hati Kudus adalah berhenti di lampu hias dan novena. Kita rajin mendoakan Litani Hati Kudus Yesus, tapi pulang ke rumah tetap pelit, tetap sinis, tetap tidak mau mengampuni saudara.
St. Yohanes Paulus II pernah menegaskan: devosi kepada Hati Kudus harus berbuah “peradaban kasih”. Artinya, Hati Yesus yang kita sembah harus jadi Hati kita juga.
Bagaimana caranya? Paus Fransiskus menyebutnya “kasih kemanusiaan” lewat 3 kata sederhana: dekat, hadir, menyentuh. Dekat: Hati Kudus Yesus selalu “dekat” dengan para pendosa, pemungut cukai, perempuan Samaria. Dia tidak menunggu orang jadi suci dulu baru didekati. Juni ini, siapa yang harus kita dekati? Mungkin karyawan yang sering kita omelin. Mungkin tetangga beda agama yang selama ini kita hindari. Kasih mulai saat kita mau mendekat, bukan menjauh.
Hadir: Hati Yesus “hadir” total saat memberi makan 5000 orang. Dia tidak kirim bantuan online. Dia hadir, duduk bersama, mendengarkan. Zaman sekarang kita paling jago transfer, tapi malas hadir. Kasih kemanusiaan butuh kehadiran fisik, bukan hanya kepedulian digital. Temani umat yang sakit. Duduk diam dengan orang yang berduka. Itu Hati Kudus yang bekerja.
Menyentuh: Orang kusta disembuhkan karena Yesus berani menyentuhnya. Padahal hukum melarang. Hati Kudus meruntuhkan tembok “najis-tidak najis”. Hari ini siapa “kusta” di sekitar kita? Orang dengan masa lalu kelam? Keluarga berantakan? Eks napi? Kasih kemanusiaan berani menyentuh, memulihkan martabat, bukan sekadar memberi amplop.
Bulan Juni menantang kita memindahkan Hati Kudus dari altar ke pasar, dari ruang doa ke ruang publik. Kasih kemanusiaan harus punya 3 wajah, yakni pertama, wajah keadilan: Hati Yesus marah saat Bait Allah dijadikan tempat dagang. Dia mengasihi, tapi juga menegur. Sebagai umat, kita dipanggil membela buruh yang gajinya dipotong, anak yang jadi korban bullying, alam yang dirusak demi keuntungan. Diam terhadap ketidakadilan berarti Hati Kudus kita sudah mati rasa.
Kedua, wajah belas kasih: Ketika melihat orang banyak lapar, “Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan”. Belas kasih itu kata kerja, bukan kata sifat. Tergerak lalu memberi makan. Juni ini, paroki kita bisa jadi dapur umum, bank pangan, klinik gratis. Satu tindakan kecil lebih lantang dari seribu renungan.
Ketiga, wajah pengampunan: Mahkota duri di Hati Kudus mengingatkan: kasih itu menderita. Mengampuni orang yang menyakiti kita rasanya seperti duri. Tapi Hati Kudus sudah melakukannya duluan di salib: “Bapa, ampunilah mereka”. Keluarga dan komunitas kita akan sembuh kalau kita berani meniru Hati itu.
Nabi Yehezkiel 36:26 menubuatkan: “Aku akan memberikan hati yang baru”. Itulah janji Juni. Devosi Hati Kudus bukan menambah koleksi doa, tapi operasi transplantasi hati. Tuhan mau mengganti hati batu kita dengan Hati-Nya.
Bayangkan kalau setiap umat Katolik di bulan Juni ini pulang dengan satu resolusi: “Mulai hari ini, saya mau punya Hati seperti Dia”. Lampu merah tidak akan ada lagi pengemis yang diabaikan. Grup WA keluarga tidak akan ada lagi gosip. Paroki tidak akan ada lagi umat yang merasa “tidak dilihat”. Apakah Hati Kudus Yesus sudah tinggal menetap di dada kita?
Mari kita tutup dengan doa St. Claude de la Colombière, rasul Hati Kudus: “Aku percaya pada Kasih-Mu untukku. Aku berharap pada Kasih-Mu untukku. Aku mencintai Kasih-Mu untukku.”
Selamat merayakan Bulan Hati Kudus Yesus. Semoga kasih-Nya menular. Semoga kemanusiaan kita dipulihkan. Hati Kudus Yesus, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu. Amin. Salam Peradaban Kasih Ekologis.
Salam INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Berkah Dalem.
Aloys Budi Purnomo Pr
