Dari Devosi ke Aksi yang Membumi

Kembali Umat Kristen Katolik memasuki bulan Mei sebagai Bulan Maria. Apa yang masih dapat direfleksikan terkait devosi di Bulan Mei di tengah situasi krisis ekologi?

Kita tahu dan mengalami di sepanjang sejarah Gereja Kristen Katolik, setiap Mei, altar Bunda Maria di gereja-gereja dipenuhi bunga. Doa Rosario Suci didaraskan lebih khusyuk oleh Umat Kristen Katolik. Tradisi indah ini sudah kita warisi turun-temurun selama berabad-abad. Namun, di tengah dunia yang terluka oleh krisis ekologi, kesepian jiwa di tengah dunia digital yang gaduh, dan polarisasi sosial bahkan religius-spiritual, kita perlu bertanya: Bagaimana cara mengaktualkan devosi kita di Bulan Maria agar tidak berhenti pada bunga dan lilin yang menyala?

Umat Kristen Katolik harus menyadari bahwa Bunda Maria adalah sosok Perempuan Suci yang membumi. Memang, dogma Gereja Kristen Katolik mengajarkan bahwa Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus telah mengangkat Maria ke surga. Tapi Injil justru menampilkan Maria yang sangat membumi. Ia berjalan jauh ke pegunungan untuk membantu Elisabet yang hamil di masa tuanya (Luk 1:39). Ia risau karena keluarga mempelai penyelenggara pesta kehabisan anggur di Kana (Yoh 2:3).  Ia berdiri di kaki salib saat semua murid lari meninggalkan Yesus seorang diri (Yoh 19:25).

Melalui Injil kita berjumpa dengan Bunda Maria yang adalah model pribadi orang beriman yang melihat derita, tergerak oleh belas kasihan, dan bertindak dalam bela rasa kepada sesama. Konsekuensinya, devosi kepadanya tidak boleh membuat kita menatap langit semata lalu lupa menjejak tanah dan Bumi yang terluka.

Mendiang Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ (2015) berbicara soal “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin”. Bulan Maria 2026 ini bisa kita isi dengan mendengar tiga jeritan utama yang nyata.

Pertama, jeritan Bumi. Bulan Mei adalah puncak musim kemarau di banyak daerah. Ancaman bahaya kebakaran hutan dan krisis air bersih mulai terasa. Maria yang disebut “Hawa Baru” mengajak kita merawat “Taman Eden” yang rusak dan hancur akibat krisis ekologi yang kian hari kian parah.

Kedua, jeritan keluarga kaum miskin. Angka burnout orangtua muda dan kesepian lansia naik. Maria, Bunda Keluarga Kudus, menantang kita membangun komunitas yang saling mengunjungi seperti kunjungannya ke Elisabet untuk saling meneguhkan dan menguatkan satu terhadap yang lain.

Ketiga, jeritan kebenaran. Dunia digital dan media sosial kita dipenuhi hoaks alias berita bohong dan ujaran kebencian menyebar cepat. Di tengah situasi dan kondisi itu, kita wajib belajar dari Bunda Maria yang selalu “menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya” (Luk 2:19). Bunda Maria menjadi teladan literasi digital: tidak reaktif, tapi reflektif.

Di Bulan Mei, Doa Rosario adalah jantung Bulan Maria. Mari aktualkan jadi gerakan ekologis sederhana. Pertama, melalui pendarasan peristiwa Gembira, mari belajar saling mengunjungi dalam silaturahim yang suci. Setidaknya, mari kita kunjungi satu keluarga pra-sejahtera di lingkungan kita. Baik bahwa kunjungan ditandai dengan oleh-oleh sembako bagi keluarga yang dikunjungi sambil mendengarkan kisah cerita mereka.

Kedua, melalui peristiwa Sedih, beranikah kita sejenak berpuasa plastik sehari sepekan? Plastik memang merupakan wicked problem, masalah yang tak mudah diatasi sekejap mata. Namun, persembahan sebagai “kurban kecil” untuk bumi yang terluka dengan mengurangi penggunaan plastik (botol, bungkus makanan, aksesori hiasan) kita dapat menghayati devosi yang ekologis.

Ketiga, sebagai penanda peristiwa mulia, baiklah kita menanam satu pohon di halaman gereja dan atau rumah kita. Hal ini akan menjadi tanda harapan kebangkitan Kristus bersama Bunda Maria.

Keempat, bersihkan diri dari hoaks. Caranya sangat mudah. Setiap kali mau share suatu berita melalui perlengkapan digital gadget kita, doakan 1x Salam Maria dulu untuk jeda refleksi. Sebarkan kabar baik dan konten-konten rohani yang mendidik.

Melalui gerakan ekologis sederhana ini, yakinlah bahwa biji-biji Rosario yang kita daraskan berubah menjadi biji-biji aksi yang menumbuhkan Kerajaan Allah yang ditandai oleh iman, persaudaraan, dan bela rasa.

Bunda Maria tidak meminta kita memujinya, tapi meneladaninya. “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu” (Yoh 2:5) adalah pesan wasiat Bunda Maria yang paling aktual untuk diperjuangkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada Bulan Mei 2026 ini, biarlah altar kita tetap berbunga. Tapi biarlah juga tangan kita kotor karena melayani, kaki kita lelah karena mengunjungi, dan hati kita gelisah karena ketidakadilan yang harus kita lawan dengan keadilan kendati dalam diam keheningan bersama Bunda Maria. Bunda Maria yang sejati tidak tinggal di gua maria. Ia berjalan bersama kita di pasar, di sekolah, di media sosial, dan di bumi yang menjerit minta dirawat bersama-sama.

Selamat menghidupi devosi Mei sebagai Bulan Maria, bukan hanya dengan doa, tapi dengan karya nyata. Salam Peradaban Kasih Ekologis. Salam INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan. Salve. Berkah Dalem.

Aloys Budi Purnomo Pr

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *