Panggilan untuk Bertindak dalam Merayakan Musim Penciptaan 2026

Bapa memanggil kita untuk menerima kasih-Nya (1 Yohanes 4:19). Menyambut kasih itu sebagai putri dan putra-Nya, melalui pertobatan budi dan hati yang berkelanjutan, adalah panggilan hidup kita. Jika kita memilih untuk melangkah menuju air kehidupan yang sejati, kita dapat berkontribusi mewujudkan dunia yang lebih adil dan menghidupkan bagi seluruh umat manusia serta bagi ciptaan lainnya.

Ketahanan pangan: Nubuat Yehezkiel berbicara tentang pohon-pohon yang “menghasilkan buah segar setiap bulan” (Yeh 47:12). Kita dipanggil untuk membentuk dan memengaruhi kebijakan serta praktik kita agar semua orang memiliki akses terhadap pangan yang bergizi dan aman, serta agar hasil keanekaragaman hayati dapat dinikmati secara adil. Gereja juga dapat mempromosikan proyek penghijauan yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani di lahan milik mereka sendiri, dan/atau membekali umat dengan keterampilan untuk menanam sebagian kebutuhan pangan mereka sendiri.

Pencemaran air: Kita dipanggil untuk tidak melakukan serta menentang pencemaran yang merusak, sembari mendesak pemerintah, otoritas setempat, sektor industri, dan pertanian untuk bertindak secara bertanggung jawab serta melindungi sumber-sumber air.

Air dan sanitasi: Banyak saudara-saudari kita yang masih belum memiliki akses memadai terhadap air minum yang aman dan sanitasi. Oleh karena itu, kita harus bertindak agar rumah tangga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah — termasuk gereja dan paroki — memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Pendidikan lingkungan: Para orang tua, katekis, kaum klerus, dan komunitas iman dipanggil untuk menumbuhkan kepedulian yang utuh terhadap ciptaan — baik manusia maupun makhluk lainnya — dengan tidak hanya mengandalkan pengetahuan teknis, tetapi juga membangun relasi, etika, dan pembinaan spiritual.

Menimba inspirasi spiritual dari ciptaan: Melalui permenungan akan alam semesta ciptaan Allah (Ayub 7–12), kita diajak untuk beralih dari sikap mendominasi menuju kerendahan hati, dari eksploitasi menuju kepedulian, dan dari pengejaran keuntungan jangka pendek menuju kesejahteraan jangka panjang. Transformasi ini bersifat spiritual sekaligus praktis, yang menuntut peninjauan kembali atas nilai-nilai, sistem ekonomi, dan prioritas pendidikan.

Penanaman pohon: Banyak gereja kini mengaitkan kegiatan menanam pohon dengan peristiwa-peristiwa iman yang penting, seperti pembaptisan, penguatan (krisma), dan pemakaman. Hendaknya penanaman pohon menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rohani kita. Pohon menyerap polusi karbon, mencegah erosi, mengurangi banjir, menyediakan pangan dan obat-obatan, serta menyejukkan lingkungan perkotaan — pohon sungguh membawa kesembuhan bagi bangsa-bangsa.

Mari kita peduli terhadap lautan kita—sang “Paru-paru Biru”—yang menghadapi ancaman kian meningkat akibat pembuangan limbah, penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan penambangan laut dalam. Kehidupan serta keanekaragaman hayati di bawah permukaan laut tidak boleh diabaikan begitu saja hanya karena keberadaannya tak terlihat oleh mata. Semoga para pendidik dapat membantu masyarakat kita melihat dan menghargai dunia bawah laut ini. Semoga para pemimpin pemerintahan bertindak dengan keberanian untuk melindungi ekosistem laut serta mata pencaharian yang bergantung padanya. Dan semoga kita memilih peran sebagai penjaga yang memastikan “Paru-paru Biru” ini terus bernapas demi generasi mendatang.

Pemulihan dan perlindungan ekosistem serta keanekaragaman hayati: Kita dipanggil untuk memulihkan lahan di lingkungan gereja, rumah, dan komunitas kita. Ada banyak inisiatif yang dapat kita ikuti: Dekade Keadilan Iklim telah dicanangkan baik oleh Dewan Gereja-Gereja Sedunia (WCC) maupun Dewan Gereja-Gereja Reformed Sedunia (WCRC); terdapat pula platform daring seperti Laudato si’ Action Platform, Anglican Communion Forest, serta program-program nasional seperti Green Church – Eglise Verte atau Eco Church – A Rocha International.

Mari kita atasi rasa takut dan melangkah masuk ke dalam air kasih Allah—untuk menjadi bagian dari Sungai Transformasi bagi dunia, serta menyaksikan pemulihan dan pembaruan ciptaan secara nyata dan berkat bagi Bumi.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *