Para pemimpin iman ekumenis dari berbagai denominasi Kristen mengajak umat kristiani untuk merayakan Musim Penciptaan 2026. “Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Musim Penciptaan adalah perayaan tahunan umat Kristen untuk berdoa dan menanggapi bersama tangisan alam ciptaan: keluarga ekumenis di seluruh dunia bersatu untuk merenungkan dan merawat rumah kita bersama, Oikos Allah,’ demikian bunyi ajakannya.
“Perayaan” musim ini dimulai pada tanggal 1 September—hari yang dirayakan oleh beberapa denominasi Kristen sebagai Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan, dan oleh yang lain sebagai Pesta Penciptaan. Masa ini berakhir pada tanggal 4 Oktober, yakni Pesta Santo Fransiskus dari Assisi, sosok yang dikasihi oleh banyak denominasi Kristen. Tahun 2026 ini, tema yang diangkat adalah “Air Hidup”, dengan simbol “Pembasuhan dalam Air Hidup”, yang terinspirasi oleh Yehezkiel 47:9 dan 12. Para pemimpin iman ekumenis dari seluruh dunia telah menyiapkan undangan khusus untuk berpartisipasi dalam masa ini.
Sebagai pernyataan kuat mengenai pentingnya masa doa dan aksi ekumenis bagi alam ciptaan ini, berikut adalah pesan dari para pemimpin iman dalam keluarga Kristen yang mengajak kita untuk menyambut masa istimewa ini:
Bapa Suci Paus Leo XIV, Uskup Roma, Gereja Katolik Roma
“Masa Penciptaan [adalah] sebuah prakarsa ekumenis yang dirayakan mulai tanggal 1 September hingga 4 Oktober (…). Keadilan lingkungan –yang secara implisit diserukan oleh para nabi – tidak lagi dapat dipandang sebagai konsep abstrak atau tujuan yang jauh. Hal ini merupakan kebutuhan mendesak yang mencakup lebih dari sekadar upaya melindungi lingkungan. Sebab, ini adalah persoalan keadilan – baik secara sosial, ekonomi, maupun kemanusiaan. Bagi umat beriman, hal ini juga merupakan kewajiban yang lahir dari iman, karena alam semesta mencerminkan wajah Yesus Kristus, yang di dalam-Nya segala sesuatu diciptakan dan ditebus.” (Dikutip dari Pesan beliau untuk Hari Doa Sedunia bagi Pemeliharaan Ciptaan tahun 2025)
Patriark Ekumenis Konstantinopel, Bartholomeus, Gereja Ortodoks Suci
“Kita tidak bisa dan tidak seharusnya berharap dapat mengatasi perubahan iklim tanpa bekerja sama secara erat satu sama lain. Sebagaimana telah berulang kali kita nyatakan, ‘kita semua berada dalam satu perahu.’ Memelihara ciptaan adalah amanat dan tanggung jawab bersama.”
Yang Mulia Dame Sarah Mullally, Uskup Agung Canterbury
“Di Musim Penciptaan ini, kita kembali berpaling kepada Kristus, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dan di dalam-Nya segala sesuatu tetap terpelihara. Melalui inkarnasi, kematian, dan kebangkitan-Nya, kasih Allah dinyatakan bukan hanya bagi umat manusia, melainkan bagi seluruh tatanan ciptaan. Oleh karena itu, memelihara ciptaan merupakan perwujudan hakiki dari pemuridan Kristen dan tanda yang tak terpisahkan dari misi Gereja: berupaya menjaga keutuhan ciptaan, serta melestarikan dan membarui kehidupan di bumi.Saat kita mengikut Kristus, kita dipanggil untuk turut serta dalam karya pendamaian-Nya, mengupayakan keadilan, pemulihan, dan harapan bagi bumi beserta segala isinya.”
Pdt. Dr. Reynaldo Ferreira Leão Neto (Léo), Sekretaris Jenderal Dewan Metodis Dunia
“Mari kita bersihkan setiap sungai dan pada akhirnya lautan. Mari kita kampanyekan upaya membuka kembali setiap aliran air dan sungai di kota-kota kita. Mari kita integrasikan kembali sungai-sungai ke dalam ruang perkotaan dan menanam pepohonan di tepiannya. Mari kita nikmati kedamaian, pemulihan, dan ketenangan yang dihadirkannya. Tuhan menciptakan semuanya itu sebagai air yang menghidupkan.”
Pdt. Dr. Anne Burghardt,Sekretaris Jenderal Federasi Lutheran Sedunia
“Penglihatan Yehezkiel tentang ‘Air Hidup’ mengajak kita untuk melihat kasih karunia Allah yang memberi kehidupan serta kehadiran sakramental-Nya mengalir ke tempat-tempat yang tandus dan sunyi, memulihkan baik ciptaan maupun komunitas manusia. Di dunia yang sedang menghadapi krisis ekologis parah, sungai ini menjadi panggilan untuk bertobat dari sistem-sistem yang mengeksploitasi tanah, air, dan kelompok masyarakat yang rentan. Ciptaan bukanlah komoditas, melainkan persekutuan kehidupan yang saling bergantung yang dipercayakan untuk kita rawat. Kesaksian para teolog perempuan dan pegiat iman yang berada di garis depan krisis ekologis memperdalam visi ini dengan menunjukkan bagaimana kerusakan lingkungan saling terkait dengan dampak buruk yang paling berat dirasakan oleh perempuan dan anak perempuan. Kita mengakui beban tidak adil yang masih dipikul banyak orang dalam perjuangan sehari-hari mereka demi air, kesehatan, dan kelangsungan hidup. Pada saat yang sama, kita menghargai kearifan, peran aktif, dan ketangguhan perempuan dalam menjaga air dan kehidupan. Federasi Lutheran Sedunia menegaskan bahwa keadilan bagi ciptaan tidak dapat dipisahkan dari keadilan bagi manusia, khususnya mereka yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Musim Penciptaan mengajak kita untuk membiarkan air kehidupan Allah membentuk kembali komunitas kita menjadi ruang pemulihan, kesetaraan, dan harapan, baik yang bersifat nyata maupun kekal.”
Rudelmar Bueno de Faria, Sekretaris Jenderal ACT Alliance
“Kita harus beralih dari bahan bakar fosil dan bergerak menuju energi terbarukan dengan cara yang adil dan terencana. Iman kita memanggil kita untuk mendukung masyarakat rentan yang paling terdampak oleh krisis iklim.”
Pdt. Prof. Jerry Pillay, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja-Gereja Sedunia (WCC)
“Penglihatan Yehezkiel tentang Air Hidup, yang dipilih sebagai tema Musim Penciptaan tahun ini, bukanlah sebuah gambaran keputusasaan, melainkan harapan bagi seluruh ciptaan. Bahkan Laut Mati—simbol ekosistem yang rusak parah sebagaimana yang kita saksikan saat ini—dipulihkan oleh Air Hidup tersebut. Harapan profetis ini sangat selaras dengan tujuan utama Dekade Ekumenis Aksi Keadilan Iklim, yang pada tahun 2026 berfokus pada tema iklim dan keanekaragaman hayati: yakni menginspirasi pertobatan ekologis dan tindakan yang berakar pada iman demi pemulihan ekologis, sebagai bagian dari Ziarah Keadilan, Rekonsiliasi, dan Kesatuan kita bersama.”
Prof. Michel Abs, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Timur Tengah
“Kidung Jumat Agung menyatakan, ‘Hari ini, Dia yang menggantungkan bumi di atas air telah digantung di kayu salib,’ yang merujuk pada keutamaan air dibandingkan unsur-unsur alam lainnya pada masa penciptaan. Lebih jauh lagi, Tuhan yang menjelma menjadi manusia bersabda, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.’ Ia dibaptis di Sungai Yordan, sebuah peristiwa yang kita anggap sebagai landasan bagi doktrin keselamatan. Sains modern tidak membahas secara memadai mengenai air, pentingnya air, serta peran krusialnya bagi kehidupan. Akibatnya, kita melihat orang-orang memperlakukan air dengan sikap abai yang mengkhawatirkan dan tanpa batas. Air, sebagai unsur esensial kehidupan, harus dilestarikan, dilindungi, dan dimanfaatkan secara bijak, mengingat pemanasan global dapat menyebabkannya menjadi langka. Topik-topik terkait air perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan kampanye kesadaran publik guna membentuk warga yang peduli terhadap masa depan umat manusia melalui kepedulian mereka terhadap air.”
Pdt. Botrus Mansour, Sekretaris Jenderal World Evangelical Alliance
“Musim Penciptaan menawarkan undangan penting bagi Gereja di seluruh dunia untuk memahami dengan benar, dan menanggapi dengan setia, anugerah ciptaan Allah yang dibentuk dengan penuh kasih dan kerumitan yang menakjubkan—yang menjadi tumpuan hidup bagi segala makhluk, termasuk umat manusia. Sebagai kaum Injili, kami menegaskan bahwa ‘bumi adalah milik Tuhan’ yang dipercayakan untuk kita rawat, dan bahwa pemuridan yang setia mencakup sikap menerima serta menikmati hasil ciptaan tanpa mengurangi kesuburannya—yakni berelasi dengan ciptaan secara bijaksana, rendah hati, dan penuh kebajikan Kristiani lainnya. Oleh karena itu, Musim Penciptaan menawarkan kesempatan untuk berpartisipasi secara pribadi dalam realitas Injil yang utuh dan menjadi agen karya pembaruan Allah—merangkul keselamatan pribadi sekaligus pemulihan seluruh ciptaan di bawah kepemimpinan Kristus.”
Pdt. Dr. Jooseop Keum, Sekretaris Jenderal Dewan World Mission (Gereja Reformasi)
“Dalam penglihatan nubuat Yehezkiel, di mana air kehidupan mengalir dari tempat kudus untuk membarui bumi, kita menjumpai janji Allah yang kekal tentang pemulihan, keadilan, dan pembaruan seluruh ciptaan. Penglihatan ini berbicara dengan kuat ke dalam realitas kita saat ini yang ditandai oleh kerusakan ekologis, ekonomi ekstraktif, dan penderitaan yang kian mendalam bagi komunitas rentan, khususnya di wilayah Global Selatan. Namun, bahkan dalam situasi di mana sistem-sistem yang mematikan tampak mendominasi, sungai kehidupan Allah terus mengalir, membawa pembaruan bagi tanah, memulihkan martabat umat manusia, dan membangkitkan harapan akan masa depan yang mengalami transformasi. Ini adalah panggilan misi bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam karya Allah dalam membina komunitas yang menumbuhkan kehidupan, yang berlandaskan pada keadilan, kelimpahan bersama, dan keutuhan ekologis. Di Musim Penciptaan ini, Gereja dipanggil untuk bergabung dengan gerakan Allah yang menghidupkan guna melawan segala kekuatan yang menolak kehidupan, melindungi anugerah suci penciptaan, serta mewujudkan masa depan yang adil dan berkelanjutan, di mana semua orang dapat hidup dalam martabat dan kepenuhan.”
