Satu Hati dalam Misi Bersatu dalam Kristus

Pada Webinar Nasional 100 Tahun Hari Minggu Misi Sedunia (1926-2026), Mgr Paul Budi Kleden SVD Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi-Menjadi Misionaris Pengharapan di dalam Dunia yang Terpecah, 18 September 2026. Berikut ini adalah pengajaran dan peneguhannya setelah melalui penyuntingan seperlunya.

Saya membagi sharing saya dalam tiga bagian. Yang pertama sedikit sekilas tentang hari Minggu Misi. Yang kedua tema hari Minggu misi 2026. Dan yang ketiga penutup.

Sekilas tentang hari Minggu Misi

Sekilas tentang hari Minggu misi latar belakang membaharui apa yang sudah menjadi pengetahuan bersama kita. Saya menceritakan pengalaman saya ketika menjadi frater di Austria kemudian menjadi imam yang melayani satu komunitas di Swiss dalam 3 tahun pertama

saya sebagai imam. Pada hari-hari menjelang hari Minggu Misi biasanya ada banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan baik pada tingkat paroki maupun tingkat keuskupan. Ada berbagai simposium dan kegiatan-kegiatan lain dalam bentuk, dalam rangka meningkatkan kesadaran orang tentang misi, juga untuk menggalang dana mendukung karya misi.

Dan yang mendapat undangan paling banyak untuk menjadi narasumber adalah kita yang berasal dari negara-negara yang disebut waktu itu sebagai negara-negara misi, negara-negara tujuan misi. Dan waktu itu saya salah satu yang ada di Swiss, berkarya di Swiss sebagai imam dan amat sering diundang ke paroki-paroki bahkan pada tingkat dekenat dan keuskupan untuk menyampaikan sharing tentang pengalaman kita di Indonesia, pengalaman menggereja di Indonesia dan berbagai macam hal yang lain.

Kesan saya, hari Minggu Misi mempunyai makna yang sangat penting bagi Gereja-gereja tua di Eropa. Sebab perutusan artinya menggapai yang lain baik benua, di benua yang lain, orang-orang yang mempunyai budaya yang lain, berbicara bahasa yang lain, berkontribusi besar bagi kehidupan Gereja, memberikan semacam angin segar bagi konteks Gereja yang sudah mulai mengalami kelesuan.

Bukan mustahil pada tahun 1926 ketika dunia baru mengalami berakhirnya Perang Dunia I, Paus Pius XI mengambil inisiatif merayakan hari Minggu Misi sebagai bagian dari upaya untuk membangkitkan semangat Gereja.

Kita ingat 7 tahun sebelumnya, Paus Benediktus XV menerbitkan ensiklik Maximum Illud yang mendorong panggilan menjadi imam di wilayah-wilayah misi. Pada tahun 1926 Paus Pius XI menerbitkan ensiklik Rerum Ecclesiae yang mendorong pengangkatan klerus-klerus pribumi, uskup-uskup pribumi dan kongregasi-kongregasi religius di tanah-tanah misi.

Hari Minggu Misi diinisiasi oleh Pius XI bertujuan membantu wilayah-wilayah yang disebut tanah misi waktu itu dengan doa dan donasi. Seratus sepuluh tahun lalu, 10 tahun sebelum Paus Pius XI menginisiasi hari Minggu Misi, Beato Paolo Manna mendirikan Pontifical Mission Union. Dan beberapa tahun kemudian pada tahun 1822 diinisiasi karya misi kepausan Pontifical Mission Societies. Dan setelah itu dimulai Missionary Childhood Association.

Karena itu abad ke-19 dan ke-20 merupakan masa di mana kesadaran misioner Gereja mengalami perkembangan luar biasa. Banyak kongregasi misi dan inisiatif misi kaum awam muncul pada saat ini. Misi menjadi pembawa harapan ke dalam situasi yang ditandai oleh kehancuran karena perang dunia kedua dan berbagai macam tantangan lain. Dinamisme dan komitmen misi terus berkelanjutan, sebab tugas mewartakan Injil melekat pada panggilan menjadi Gereja.

Kendati demikian terjadi pergeseran besar pada Vatikan II ketika Gereja melihat misi sebagai hakikat, sebagai jati dirinya. Gereja di manapun bersifat misioner, maka misi bukan lagi sebuah pertukaran dari wilayah tertentu ke wilayah lain.

Hari Minggu Misi Sebagai Hari Minggu Gereja Universal

Sebutan ini digunakan untuk membangun kesadaran akan Gereja universal. Gereja itu satu, sebuah kesaksian dan komitmen kesatuan dalam dunia yang terpolarisasi, yang terpecah. Kita kenal ada pembagian dunia pertama, dunia kedua, dunia ketiga.

Dalam wilayah berbahasa Jerman, hari Minggu Misi sering disebut sebagai Sonntag der Weltmission, minggu misi, minggu Gereja universal, Minggu Gereja sejagat. Ungkapan ini lahir sebagai reaksi atas konsep misi yang dipandang sebagai konsep yang melahirkan atau paling kurang melanggengkan dominasi, menempatkan sekelompok orang pada posisi atas yang berhak menentukan apa yang terjadi dengan dan pada kelompok yang lebih rendah, dari pemilik kebenaran dan iman yang benar kepada yang tidak beriman yang tidak tahu apa-apa, dari budaya yang lebih tinggi kepada yang primitif, dari yang kaya kepada yang miskin.

Namun dalam kebangkitan semangat kesetaraan, istilah misi ini dinilai bermasalah. Misi Ad Gentes dipandang berat sebelah karena membagi para pihak pada posisi dominan dan posisi lemah. Dominasi ini justru menjadi sebab keterpecahan dan keterlukaan. Karena itu dirasa misi Ad Gentes perlu dilengkapi dengan missio at inter gentes, misi antarbangsa-bangsa, misi yang menyertakan keterlibatan berbagai bangsa.

Walaupun demikian, misi Ad Gentes tetap memiliki peran sebab Gereja selalu perlu sadar akan perutusannya kepada yang lain, untuk keluar dari diri sendiri. Namun pada saat yang sama perlu ditegaskan kesalingan dalam perutusan apa yang nanti disebut dalam united in Mission.

Missio Ad Gentes atau Missio Inter Gentes. Gentes sering dikonotasikan sebagai yang kafir. Namun dalam pengertian lebih maju, gentes bukan hanya umat manusia yang terlilit dosa dan tidak beriman kepada Allah yang benar. Tetapi terutama bangsa dan manusia yang terluka karena ketidakadilan personal dan struktural, ketidakadilan sosial, ekonomi, politik, dan religius, yang terluka karena keterpecahan. Dewasa ini para misiolog berbicara tentang missio at vulnera, misi kepada yang terluka, missio inter vulnera.

Para agen misi bukanlah orang-orang yang kebal dari kekurangan dan pengalaman keterlukaan. Missio bukanlah dari orang-orang, dari bangsa-bangsa yang hidup dalam bayang-bayang dominasi, tetapi dari pengalaman ketidakberdayaan dan penderitaan. Hemat saya, misi menjadi sangat efektif ketika dia bermula dari kesadaran dan pengalaman, disembuhkan dan diperhatikan.

Hari Minggu Misi Dalam Relasi Antara Gereja Universal Dan Gereja Lokal

Hari Minggu misi adalah hari Minggu yang mengingatkan kita akan Gereja universal merujuk pada Gereja yang satu, sinodal dan solider berjalan bersama, berbagi suka dan duka akan pengalaman akan Allah, akan dunia, dan manusia.

Tentu saja kesatuan Gereja tidak meniadakan partikularitas dan konteks konkret Gereja tertentu. Penekanan pada kesatuan Gereja tidak menjadi alasan untuk melihat kebutuhan yang penting dan mendesak akan inkulturasi Gereja untuk menjadi misalnya Gereja Indonesia. Tetapi karena Gereja Katolik tidak selesai dan tertutup dalam partikularitas konteks, maka solidaritas lintas Gereja partikular menjadi sebuah keharusan. Kita anggota Gereja Katolik Indonesia serentak anggota Gereja universal.

Hari Minggu Misi mempunyai dua dimensi yang perlu terus diingat. Pertama, bagaimana kita sebagai Gereja partikular mengambil bagian dan memainkan peran. dalam Gereja universal dan bagaimana kesadaran dan pengalaman Gereja universal memperkaya kita dalam kehidupan iman kita dalam konteks kita. Hari Minggu Misi mengundang kita untuk keluar dari kesempitan pandangan dalam Gereja partikular untuk merangkul yang universal, serentak membuka mata kita untuk melihat potensi kita untuk dapat kita kontribusikan demi memperkaya Gereja universal. Dari pengalaman menggereja, kita sebagai gereja muda, Gereja dalam masyarakat multikultural, Gereja yang terlibat nyata, aktif dalam pergumulan persoalan masyarakat dan bangsa. Pengalaman menjadi misionaris pengharapan dalam dunia yang terpecah ini semua patut dan perlu kita sharingkan dengan Gereja universal. Juga kita berkontribusi dengan memberikan personalia kita dalam karya misi Gereja sejagat dan juga dari segi dana.

Hari Minggu Misi karena itu mengingatkan seluruh Gereja akan hakikat misionernya. Gereja selalu berarti dipanggil keluar dari dirinya. Kata ecclesia dalam bahasa Yunani berarti keluar dari diri menjangkau yang lain. Gereja berhenti menjadi Gereja ketika dia terkurung dalam dirinya hanya menangisi nasib sendiri atau tenggelam dalam kenikmatan kesuksesan sendiri.

Seorang uskup dari Perancis katakan begini, tanpa misi, Gereja tidak lagi menjadi Gereja Kristus.

Dan saya teringat akan apa yang dikatakan oleh seorang formator saya ketika masih menjadi frater di Austria. Dia katakan begini, “Bayangkan kalau kita berada dalam satu ruangan tertutup, semuanya tertutup,  jendela tertutup dengan tirai, pintu tertutup, maka mungkin pada satu jam pertama kita masih saling bergurau, kita saling menikmati sharing di antara kita. Tapi perlahan, kita mulai masuk ke dalam konflik yang sangat tajam karena kita mulai mempersoalkan, kenapa salib digantung di sana dan bukan di sini? Kenapa tirai kita berwarna biru dan bukan kuning? Kenapa gambar ini yang dipasang dan bukan gambar lain yang dipajang?”

Persoalan-persoalan kecil menjadi dibesar-besarkan ketika tidak ada perspektif keluar. Karena itu tanpa misi kita menjadi tidak proporsional dalam memperhatikan apa yang kita miliki, tantangan-tantangan yang kita hadapi. Maka bagi Paus Fransiskus, misi menjadi hal yang sangat penting bagi Gereja. Dan itu alasannya ketika merestrukturisasi kuria di Roma dengan

Konstitusi Apostolik Praedicate Evangelium, Paus Fransiskus menempatkan Dikasteri Propaganda Fide sebagai yang terpenting. Karena tanpa misi, Gereja kehilangan dasar eksistensinya. Tanpa melihat keluar kita akan membesarkan persoalan ke dalam di antara kita.

Dan itu panggilan Gereja yang terus-menerus disuarakan. Tanpa misi, tanpa melihat apa yang menjadi tantangan dunia sekitar kita, kita akan tenggelam dalam konflik di antara kita, menghabiskan waktu dan energi untuk masalah kita. Ini berlaku di mana saja dalam keluarga juga dalam komunitas-komunitas religius dan berbagai konteks yang lain. Tanpa kesadaran bermisi, kita membesar-besarkan persoalan kita. Kita tidak menutup mata terhadap masalah kita, tetapi kita akan melihat secara tidak proporsional ketika kita kehilangan pandangan keluar.

 

One in Christ: Bersatu dalam dan dengan Kristus

Tema hari Minggu misi kita tahun ini One in Christ, United in Mission. One in Christ, bersatu dalam dan dengan Kristus. Kenapa bersatu dengan Kristus? Karena Kristus adalah Sang Misionaris utama, Misionaris par Excellence. Dia adalah misionaris yang diutus Allah Tritunggal.

Misio Dei Trinitaris, Allah yang misioner, Allah persekutuan, Allah misi. Bapa mengutus Putra dan dalam Putra Bapa mengutus Roh Kudus yang menyertai para murid yang diutus Putra.

Tritunggal adalah persekutuan yang merangkul dan mengundang. Sebagaimana dimadahkan dalam prolog Injil Yohanes, Kristus adalah firman/logos, pribadi kedua Allah yang ada pada saat penciptaan. Yohanes menulis, “Segala sesuatu diadakan dalam Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun dari segala yang telah diadakan.” Artinya, misi Allah telah dimulai sejak dari penciptaan. Misi berarti Allah mencipta, menjadikannya selaras disampaikan pada saat penciptaan. Pada akhir setiap hari penciptaan Allah melihat semua baik adanya. Allah menjamin dialog dan menata komunio dengan seluruh ciptaan. Sebab itu misi Allah bukan baru dimulai karena kejatuhan manusia ke dalam dosa. Misi Allah sejak dari penciptaan. Dengan kejatuhan misi ini memiliki dimensi penebusan.

Bersatu dengan Kristus karena misi adalah misi Allah. Kita bersatu dengan Kristus, United in Christ karena misi adalah misi Allah. Bukan misi kita, bukan pula misi Gereja. Ini bukan berarti Gereja tidak lagi punya peran yang dibutuhkan. Gereja melayani misi Allah. Atau dalam Lumen Gentium, Gereja disebut sebagai sakramen, tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Dengan demikian Missio Dei tidak melemahkan Missio Ecclesiae.

Konsep Missio Dei mempunyai tiga implikasi.

Pertama, misi Allah bersifat universal. Sejak awal penciptaan, Allah Tritunggal aktif hadir dan mencintai, menuntun, serta menginspirasi seluruh proses dalam dunia ciptaan.

Misi karena itu tidak dibatasi, jadi di mana dan kapan saja. Ini konsekuensi pertama dari pandangan misi sebagai missio dei.

Yang kedua, misi Allah bersifat dialogal. Sebagaimana ditulis dalam surat kepada umat Ibrani. “Pada zaman dahulu banyak kali Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui nabi-nabi dengan memakai bermacam-macam cara.” Allah selalu berbicara.

Paus Paulus VI dalam dalam Ecclesiam Suam, ensiklik yang berbicara tentang dialog menulis, “Seluruh sejarah umat manusia merupakan satu dialog. Keselamatan-Nya melalui dialog menghendaki kebebasan dan keterlibatan manusia membatalkan partisipasi.”

Kita ingat ungkapan Santo Agustinus, “Allah yang menciptakan kita tanpa kita, tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita.” Partisipasi menjadi hal yang sangat penting. Allah yang menciptakan kita tanpa kita, tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita. Kerja sama manusia dikehendaki Allah dari awal.

Dan implikasi yang ketiga adalah misi Allah mempunyai, menciptakan sebuah kelompok manusia yakni Gereja. Kendati misi bersifat universal dalam Gereja sebagai komunitas para murid Yesus, Allah menyatakan secara khusus hakikatnya sebagai Allah yang berbelas kasih dan pengampun dan menugaskan kelompok ini untuk menjadi saksinya.

Misi Allah tidak terbatas dan berhenti di dalam Gereja. Tetapi Gereja menghadirkan dan mewartakan misi Allah yang universal dan dialogal. Sebab itu sekali lagi Gereja merupakan sakramen.

Simbol persatuan dalam Kristus: Perumpamaan tentang satu tubuh (1 Korintus 12:12-27)

Simbol persatuan dalam Kristus kita temukan antara lain dalam perumpamaan tentang satu tubuh (1 Korintus 12:12-27). Teks ini mempunyai beberapa konsekuensi, beberapa poin yang penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, kesatuan yang berdaya ubah dan berdampak sosial, kultural, dan ekonomis. Kesatuan dengan Kristus, kesatuan dalam Kristus mempunyai dampak dan berdaya ubah secara sosial, kultural, dan ekonomis. “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka telah menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Kesatuan yang berdaya ubah. Kesatuan berdampak keluar. Kesatuan dengan Kristus baru menjadi nyata dalam kehidupan konkret yang tidak lagi memandang orang lain dan memperlakukan orang lain hanya berdasarkan perbedaan sosial, kultural, ekonomi atau tingkat pendidikan.

Kesatuan ini bukan penyeragaman yang menistakan perbedaan. Perbedaan tetap ada, tetapi bukan merupakan alasan untuk memandang diri lebih tinggi atau lebih rendah dari orang lain dan bukan memandang rendah dan perlakuan orang lain secara tidak adil. Soal kesatuan yang berdampak secara keluar, baik pada level sosial, kultural maupun ekonomis.

Yang kedua, kesatuan ini mendorong partisipasi dan bukan dominasi. “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya”. Setiap kita adalah bagian dari satu tubuh kendati dengan peran yang berbeda. Perbedaan peran itu sesuai dengan kehendak Tuhan dan berkontribusi bagi kehidupan Gereja. Kesadaran ini harus terus ditumbuhkan agar kita dapat menghadapi godaan klerikalisme yang oleh Paulus Fransiskus disebut sebagai virus yang melumpuhkan Gereja. Dalam kaitan dengan ini perlu semakin ditingkatkan partisipasi kaum awam dalam karya misi. Di banyak Gereja khususnya di Eropa dan Amerika Latin, kelompok-kelompok awam misioner sungguh dikembangkan.

Kita di Indonesia patut bersyukur dan berbangga dengan kehadiran dan kegiatan Sekami. Dan kami di Ende ada CPA tingkat  remaja. Namun untuk tingkat orang dewasa, hemat saya, perlu ada dorongan yang lebih lebih serius dan sistematis.

Dan poin yang ketiga, yang saya mau garis bawahi dari teks ini, adalah opsi dari kesatuan dalam Kristus membangkitkan opsi bagi yang lemah dan kurang terampil. “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan”. Ada opsi, ada preferential option untuk mereka yang lemah dan kurang terampil. Bersatu dalam Kristus berarti memberi perhatian khusus kepada mereka yang mudah dilupakan dan gampang diabaikan, yang mudah menjadi korban ketidakadilan struktural dan personal. Kita harus bertanya, siapa dan kelompok mana yang paling kurang atau bahkan tidak didengarkan dalam Gereja dan masyarakat kita. Keputusan sadar untuk memberi perhatian kepada mereka merupakan hal yang menentukan apakah sinodalitas sebagai cara menggereja sungguh dihidupi atau tidak?

Dan hal keempat yang dapat kita pelajari dari teks ini adalah compassio.”Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Compassio dari teks 1 Korintus 12 tadi, Santo Paulus mengingatkan kalau kita sungguh merupakan satu tubuh, maka jika satu anggota menderita, semua anggota lain turut menderita. Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Turut merasakan penderitaan, compassio adalah kebajikan yang semakin dibutuhkan dewasa ini. Dan kita patut berbangga bahwa Gereja kita mempunyai sejarah panjang mewujudkan compassio. Hingga hari ini kami di Flores sungguh merasakan kepedulian sesama umat dan anggota tubuh Kristus ketika kami mengalami bencana gempa bumi. Compassio yang dihidupi secara nyata.

Namun compassio tidak hanya ada dalam bentuk karitatif ini. Compassio juga mesti menemukan bentuknya dalam advokasi pendampingan para korban ketidakadilan dan pencegahan jatuhnya orang ke dalam kesengsaraan.

Di sini komitmen Gereja misalnya untuk berbicara tentang kerusakan alam dan perlindungan bagi orang-orang asli. Para korban human trafficking mendapat tempatnya. Ini adalah bentuk karya misi yang semakin penting dan urgent di masa itu.

Bagian kedua dari pernyataan Paulus mempunyai daya inspiratif dan korektif untuk kita. Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Rasa syukur dan turut berbahagia atas kebaikan yang dihasilkan oleh orang lain. Tetapi bukan mustahil yang sering kita alami dalam Gereja, dalam komunitas-komunitas kita adalah iri hati atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Turut merasa apa yang dialami oleh orang lain terjadi ketika kita turut prihatin atas kejahatan yang dilakukan oleh sesama anggota keluarga besar Gereja. Misalnya, korupsi yang dilakukan oleh seorang anggota Gereja mestinya menampar wajah kita semua. Atau penilaian tentang sebuah daerah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Tingkat korupsi yang amat tinggi tidak hanya membuat kita sedih, tetapi perlu bertanya serius mengenai kualitas internalisasi nilai-nilai kemanusiaan dan kekatolikan kita.

One in Christ: Bersatu dalam dan dengan Kristus?

Kenapa bersatu dengan Kristus? Dan kesatuan dengan Kristus yang bagaimana?

Pertama, kesatuan dengan Kristus yang bersatu dengan Bapa dan Roh Kudus. Hal ini berarti tinggal dalam Kristus seperti ranting pada pokok anggur. Paus Leo dalam amanatnya untuk Minggu Misi mengingatkan ini adalah kehidupan dalam persatuan dengan Kristus di mana kita turut ambil sebagian dalam hubungannya dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Sebab itu bersatu dengan Kristus berarti memperhatikan hidup rohani, hidup doa dan kontemplasi permenungan sabda Tuhan secara pribadi dan bersama.

Yang kedua, kesatuan dengan Kristus berarti bersatu dengan Kristus yang menyatu dengan saudara-saudari teristimewa yang miskin dan terlupakan dan dengan alam ciptaan. Kesatuan ini berarti tanggung jawab. Semakin kita menyadari dan mengalami diri sebagai bagian dari satu tubuh Kristus, semakin kita bertanggung jawab atas diri dan memperhatikan orang lain.

Saya berusaha hidup baik bukan demi dan karena diri saya sendiri, tetapi karena saya sadar akan keanggotaan saya dalam satu tubuh. Tanggung jawab ini mendorong kita untuk saling memperhatikan, termasuk memelihara alam ciptaan.

Paus Leo menegaskan tanggung jawab misioner utama Gereja adalah memperbaharui dan memelihara persatuan rohani dan persaudaraan di antara para anggotanya.

Dalam banyak situasi kita menghadapi konflik, polarisasi, kesalahpahaman, dan kurangnya rasa saling percaya. Ketika hal ini terjadi, bahkan di dalam komunitas kita sendiri, hal itu melemahkan kesaksian kita.

Misi pewartaan Injil yang dipercayakan Kristus kepada para murid-Nya menuntut di atas segalanya hati yang berdamai dan rindu akan persekutuan. Para misionaris hanya menjadi misionaris yang kredibel kalau menjadi orang-orang yang alami, yang merindukan persekutuan orang-orang yang mengharapkan perdamaian dan mengusahakan perdamaian dalam komunitas terkecil, dalam keluarga, dalam komunitas religius.

 United In Mission, Kesatuan Dalam Perutusan

Kita baca dalam Injil Yohanes 17:20-23, doa Yesus untuk persatuan para murid-Nya supaya mereka semua menjadi satu. “Sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Doa ini menyingkapkan beberapa makna kesatuan dalam misi. Yang pertama, kesatuan sebagai tujuan atau intensi dan wujud. “Semoga mereka semua bersatu.”

Komunio yang ideal mesti diupayakan sebagai tujuan. Sebab kita berhadapan dengan kondisi egoisme sebagai godaan terbesar umat manusia. Hemat saya, egoisme merupakan godaan terbesar umat manusia, memperhatikan kepentingan diri dan kelompok sendiri. Melampaui pemusatan pada diri sendiri dan kelompok sendiri adalah proses yang perlu terus-menerus diupayakan.

Yang kedua, kesatuan sebagai sarana. Kesatuan para murid bertujuan supaya dunia percaya.

Komunio menjadi jalan untuk mewujudkan perutusan. Dalam semangat kesatuan, semua daya dan usaha dipadukan. Bukan supaya orang merasa kagum atas Gereja dan kekuasaannya yang sanggup mengkoordinir semua, melainkan supaya orang percaya bahwa Yesus sungguh Putra Allah yang diutus ke dalam dunia.

Paus Leo menegaskan, persatuan para murid Tuhan bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri melainkan terarah kepada misi.

Dan yang ketiga, kesatuan sebagai kesaksian. “Agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Komunio dalam perutusan adalah kesaksian akan Allah Tritunggal dan kesatuan Allah dengan gereja-Nya. Kita sulit meyakinkan orang bahwa kita bersatu dalam dan dengan Kristus apabila tidak ada persatuan di antara kita.

United in Mission

United in Mission berarti mengupayakan kesatuan ad intra dan ad extra dengan berbagai pihak dalam Gereja, antar awam dan hierarki. Semua orang terbaptis adalah orang yang dipanggil dan dimampukan untuk menjadi misionaris. Panggilan untuk menjadi misionaris bukan milik khusus. para hierarki, bukan milik khusus biarawan-biarawati yang diutus untuk menjadi misionaris.

Karena itu orang sekarang bicara tentang shared mission, misi yang dibagikan, berkolaborasi dalam misi, awam dan hierarki.

Dan seperti yang saya katakan tadi untuk konteks Indonesia, hemat saya, keterlibatan kaum awam perlu diupayakan secara lebih serius dan sistematis. Intergenerasi dan antar generasi, yang tua dan yang muda dan interkulturalitas, dari berbagai latar belakang budaya.

Prinsipnya, saya kira ini perlu kita internalisasi terus-menerus. Misi jauh lebih penting daripada kepentingan partikular kita. Gereja ada demi dan karena misi. Karena itu tidak boleh membiarkan misi mengalami kehancuran hanya karena ketidakmampuan kita mengatasi masalah di antara kita. Seringkali kita membiarkan misi menjadi tidak efektif karena kita tidak mampu mengatasi konflik perbedaan di antara kita. Kita ada, Gereja ada karena misi. Karena itu perlu misi membantu kita untuk mengelola persatuan di antara kita.

Jangan biarkan misi perutusan menjadi lemah karena ketidaksanggupan kita mengatasi perbedaan kita, baik perbedaan antar generasi juga perbedaan antar budaya.

Ini untuk kongregasi-kongregasi lintas budaya hal yang sangat perlu diingat karena seringkali kita membiarkan misi itu hancur karena ketidaksanggupan kita mengatasi perbedaan di antara kita.

Juga dalam komunitas di pastoran seringkali misi tidak berjalan karena imam pastor kepala dan pastor tidak saling akur. Akhirnya pelayanan itu akan menjadi tidak efektif.

Misi ad extra. Karena misi adalah misi Allah untuk seluruh ciptaan, maka agennya bukan hanya orang-orang terbaptis. Maka kita perlu undang semua orang untuk bergerak dalam perutusan yang sama, semua orang yang berkehendak baik. Bukan mustahil Gereja dan Vatikan dalam dokumen-dokumennya mengajak orang yang berkehendak baik, melibatkan semua yang berkehendak baik. Atau dialog profetis dengan kaum miskin, dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda agama dan para pencari iman atau dengan mereka yang merasa tidak punya alasan untuk beriman. Memilih keterbukaan berdialog tapi dengan posisi tertentu.

Kita juga belajar untuk dengan sukacita mengenali kebaikan yang diilhami oleh Roh Kudus di setiap orang. Merangkul keberagaman sebagai harta karun. Saling memikul beban satu sama lain dan senantiasa mencari persatuan yang berasal dari atas. Hal ini membantu kita memuluskan visi universal mengenai misi pewartaan Gereja serta mengatasi kurangnya upaya yang terkoordinasi dan munculnya faksi-faksi, friksi-friksi di antara para pengikut Tuhan.

United in Mission berarti kerja sama, kolaborasi. Untuk menjalin kerja sama ada tiga hal ini, hemat saya, menjadi penting. Yang pertama memiliki visi yang sama, orientasi nilai dasar yang sama. Yang kedua, menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain. Orang lain pun diberikan kemampuan oleh Tuhan. Seperti saya juga diberikan kemampuan dan talenta oleh Allah. Dan yang ketiga, kerendahan hati, yaitu kesadaran bahwa tidak ada orang yang mempunyai segala sesuatu dan tidak ada orang yang tidak punya apapun. Tidak ada orang yang punya segala sesuatu dan tidak ada orang yang tidak mempunyai apapun. Semua orang punya sesuatu untuk dikontribusikan.

Penutup: Kasih sebagai hakikat Misi

Dan sebagai penutup saya mengutip apa yang dikatakan oleh Paus Leo, “Kasih sebagai hakikat misi”. Paus Leo katakan, “Jika kesatuan adalah syarat misi, maka kasih adalah hakikatnya.”

Kita sudah bicara tentang misi sebagai misi Allah Tritunggal. Dan dalam 1 Yohanes 48 kita temukan definisi tentang Allah. Allah adalah kasih. Allah adalah misi. Sebab Allah adalah kasih. Dalam paham filsafat klasik dikenal prinsip summum bonum divisum sui, kebaikan tertinggi selalu membagi diri. Kebaikan tertinggi selalu meluap membagi diri. Itu adalah ungkapan dari kasih. Misi lahir dari Allah sebagai kasih, dilaksanakan dalam semangat kasih dan tertuju kepada persekutuan kasih dalam Allah Tritunggal. Paus Leo menulis, “Misi para murid dan Gereja secara keseluruhan adalah melanjutkan misi Kristus dalam Roh Kudus. Misi yang lahir dari kasih, dijalani dalam kasih, dan mengarah pada kasih. Misi sebaiknya tidak hanya sebagai kewajiban, beban, tetapi dilaksanakan sebagai panggilan kasih.

Santo Arnoldus Janssen, pendiri tiga kongregasi misi: SVD, SSpS, dan SSpS Adorasi Abadi mengatakan, “Mewartakan Injil merupakan ungkapan tertinggi dari kasih kepada sesama”.

Artinya, misi merupakan ungkapan tertinggi dari kasih kepada sesama. Kasih berarti berbagi apa yang sungguh bermakna bagi kita sendiri. Apa yang menjadi sumber inspirasi dan memberikan orientasi bagi kita. Apa yang memberikan kita daya untuk bangkit kembali merajut kehidupan setelah kejatuhan. Apa yang membawa kita keluar dari rasa bersalah yang berkepanjangan atau keangkuhan yang membuat kita terkurung dalam dunia mimpi.

Jika kita sudah menemukan itu dalam iman akan Kristus sebagai vultus miseri cordia, wajah Allah yang berbelas kasih, maka kita tidak akan menyimpannya untuk diri sendiri. Mutiara itu tidak dibeli untuk disimpan sendiri, tetapi pesan warta yang dibagi bersama orang lain dalam kegembiraan Injil.

Saya menutup dengan mengutip Paus Leo yang mengatakan, “Dipenuhi rasa kagum terhadap para misionaris pria dan wanita, saya menyampaikan seruan khusus kepada seluruh Gereja agar turut bergabung dengan mereka dalam misi perwartaan Injil melalui kesaksian hidup kita dalam Kristus, melalui doa dan melalui sumbangan kita bagi misi-misi tersebut.” Tiga hal ini penting melalui kesaksian hidup kita. Kita mendukung karya misi melalui kesaksian hidup kita, melalui doa dan juga melalui donasi untuk perkembangan misi. Terima kasih.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *