Mgr Tri Harsono: Dosa Itu Terputusnya Hubungan Antara Allah, Sesama Dan Juga Alam

Uskup Purwokerto, Mgr Christophorus Tri Harsono dalam misa Pembukaan Temu Uskup Regio Jawa 2026 di Gedung Bumi Silih Asih, Senin, 6 Juli 2026 menekankan,pertobatan ekologis adalah tanggung jawab kita semua manusia di seluruh bumi ini.

Berikut ini adalah homili lengkapnya.

Yang saya muliakan Bapak Kardinal,

Yang saya hormati para Uskup, para Romo,

Dan yang saya kasihi para Bapak dan Ibu, Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan.Tema pertemuan Temu Uskup Regio Jawa hari ini adalah “Pertobatan Ekologis” yang sudah juga didahului dengan tahun lalu “Perekonomian Paus Fransiskus” di Bogor.

Sebelumnya lagi juga kita berbicara soal pendidikan dan juga sekolah-sekolah di Surabaya dan juga di Malang. Dan selanjutnya saya mau menyampaikan pertemuan yang sangat singkat tetapi menghasilkan sesuatu yang cukup luar biasa terutama Regio Jawa. Betul-betul rutin, tetapi juga menghasilkan sesuatu dan juga dipakai untuk bersama-sama dalam menentukan bagaimana struktur, cara, dan juga melayani.

Dalam Injil hari ini dengan acara yang sekian banyak, dengan tema yang sekian banyak, semoga juga cocok ataupun juga sesuai atau pas. Kalau tidak ya dipas-paskan sendiri.

Dalam Kejadian, Perjanjian Lama, menegaskan, iman umat akan Allah itu memberi suatu kehidupan, menabur kasih, dan juga menguatkan pengharapan.

Sedangkan dalam kitab Hosea tadi disampaikan bukan hanya sekadar subur yang di padang gurun, tetapi juga subur dalam pemulihan kesetiaan kepada Allah. Jadi kalau hubungan antara Allah, hubungan antara sesama, hubungan antara alam terputuskan ini berarti ada sesuatu hal yang jauh dan juga menjadi dikatakan dosa. Allah cinta ciptaan. Allah juga mencintai hidup dan Allah mencintai kesempurnaan.Maka nanti akan membandingkan antara penciptaan dengan juga yang disebut ciptaan. Dalam Injil dikatakan sentuhan kasih hidup Tuhan Yesus Kristus dapat sungguh dirasakan oleh umat yang beriman, yang tidak ada putus hubungannya dengan Allah. Sehingga kalau kita hubungan dengan Allah baik, maka ada hubungan dengan sesama dan hubungan juga dengan alam itu juga baik.Sungguh dirasakan umat beriman yang memberi pengharapan tidak mengecewakan akan pengharapan kepada Allah yang dikatakan “Spes Non Confundit”. Pencipta dan ciptaan sangat berbeda sekali. Pencipta kasih-Nya menghidupkan.

Pencipta kehidupan yang meyakinkan dan keyakinan kepastian dari Allah penuh dengan pengharapan. Seharusnya, selayaknya ciptaan itu bergantung dan tidak menjadi penentu dalam banyak hal, terutama juga dalam ciptaan-ciptaan lain dan tidak mengadili ciptaan yang lain. Yang saat ini terjadi merusak, menghancurkan,memisahkan, merampas, dan bahkan mati.

Maka sungguh saat ini juga diajak oleh Paus mendesak harus dari ciptaan itu untuk ada dua hal. Pertama, supaya kembali kepada kesempurnaan hidup Kristiani.

Kesempurnaan hidup Kristiani yaitu semakin menyerupai dan dalam kehidupan Kristus sendiri yang menyembuhkan dan juga yang menghidupkan.

Sedangkan yang kedua adalah panggilan global, solidaritas universal atau pertobatan ekologis ini yang bumi ini, dunia ini, atau mungkin orang-orang kecil dan yang miskin, yang  terpinggirkan sudah sekarat, rusak dan luka, menangis dan berteriak dengan cuaca ekstrem, krisis lingkungan, pencemaran air, polusi udara, iklim semakin buruk dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Maka mendesak tidak ditunda kembali pertobatan ekologis untuk menggabungkan,untuk menyatukan, untuk sekali lagi juga baik kembali bersama Allah, sesama dan alam.

Rusaknya hubungan dengan Allah dan sesama atau alam dan ciptaan lain ini yang tadi disebut dengan dosa, terputusnya hubungan itu. Dosa itu terputusnya hubungan antara Allah, sesama dan juga alam. Dan yakin sekali yang terputus ini kita semua ini tidak akan mampu menyadari bumi sebagai rumah kita bersama. Dan tidak mampu memikul tanggung jawab merawat bumi.

Paus Fransiskus menyampaikan dalam ensikliknya Laudato Si’ 159, “Di dunia ini tidak ada dua krisis terpisah antara lingkungan dan sosial. Hanya ada satu krisis yang kompleks.” Jadi ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain baik itu Pencipta dan ciptaan dan ciptaan-ciptaan yang lain. Maka pertobatan ekologis yang sangat mendalam, mendesak, serius, spiritual, tidak hanya sikap, tetapi menjadikan aksi nyata, habitus, berkelanjutan kepada kepedulian yang lengkap dan juga lebih tidak biasa-biasa dan tadi menghasilkan keuntungan sirkular dari manusia itu sendiri.

Pertobatan ekologis ini adalah keuntungan hubungan dengan bersama. Seringkali orang menghitung hanya dengan hitung-hitungan ekonomis sehingga kita tidak melakukan apa-apa. Kemarin seperti ambil contoh di tempat kami ketika menghitung-hitung soal plastik keuntungannya seperti apa, menghitung soal kompos dan seperti apa, akhirnya dengan hitungannya sangat kecil sekali keuntungan tidak melakukan apa-apa. Padahal ketika punya semangat untuk pertobatan ekologis ini hasilnya luar biasa yang tak ternilai harganya dengan melakukan itu. Maka sekali lagi dimulai tidak bisa tidak dari diri sendiri walaupun juga harus bekerja sama dengan pemerintah, dengan lembaga-lembaga yang terkait, dengan apa saja dan agama-agama apapun dengan kelompok apapun ternyata ini membutuhkan sungguh tobat, membutuhkan sungguh kemendesakan kita bersama-sama.

Jadi pertobatan ekologis ini adalah tanggung jawab kita semua manusia di seluruh bumi ini. Maka perlu ada yang lebih tadi. Perlu ada tanam pohon. Contohnya tabur benih, sampah jadi berkat, pertanian kota, tidak membuang makanan, hemat air dan energi, tempat sampah terpisah dan lain-lainnya.

Kenapa saya lancar membaca ini? Saya mendengarkan khotbah dari Bapak Kardinal waktu yang terakhir dari Jakarta itu tahun 2022 adalah tentang martabat manusia dan selanjutnya sampai 5 tahun dan 2026 kemarin masa prapaskah tentang juga pertobatan ekologis, Laudato Si.

Jadi ditekankan di sana, Allah pencipta selalu menghidupkan, menyembuhkan,dapat diandalkan, penuh dengan harapan. Maka kalau kita juga mau memperbaiki ciptaan, kita bersama-sama untuk berkomunikasi dengan ciptaan, maka kita juga perlu untuk sekali lagi paling tidak menarik jumbai-jubah-Nya, kita akan mendapatkan semangat itu, akan mendapatkan suatu kekuatan penyembuhan dan juga kekuatan untuk memaafkan atau juga kekuatan untuk menghidupkan. Kita manusia ciptaan dituntut sebagai pribadi yang berhikmat, matang, mulia, takwa sebagai ciptaan.

Pribadi berhikmat tidak memilih kematian, tetapi kehidupan dan kesembuhan untuk semua ciptaan. Kita melakukan ketidakadilan pada alam, sesama berarti sama kita melakukan pada diri sendiri. Maka kita nanti ikuti beberapa hari ke depan, kita juga mau melihat pengalaman luar biasa yang dilakukan oleh Keuskupan Bandung sehingga kita saling mengisi, saling menguatkan, dan juga saling bekerja sama untuk sekali lagi mengobati dosa-dosa yang tadi disampaikan: struktural, dosa sosial, dosa apapun juga, terutama adalah ketika kita membiarkan dan juga bumi ini berteriak dan menangis.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan,sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *