Berikut ini adalah terjemahan bebas dari homili Bapa Suci Leo XIV pada saat Misa Vigili Perayaan Kelahiran Santa Perawan Maria Yang Terberkati pada hari Senin tanggal 7 September 2025 di Sanktuari Bunda Penasihat Yang Baik, Genazzano
Saudara-saudari terkasih,
Sebagaimana Anda masih ingat, “pada masa-masa awal masa kepausan saya, saya merasa memiliki kewajiban dan keinginan yang mendalam untuk mengunjungi Genazzano, Tempat Ziarah Bunda Maria Penasihat yang Baik, yang telah menyertai saya sepanjang hidup dengan kehadiran keibuannya, kebijaksanaannya, dan teladan kasihnya kepada Putranya, Putra yang selalu menjadi pusat iman saya” (Catatan dalam buku tamu Tempat Ziarah, 10 Mei 2025).
Saya bersukacita untuk berada di sini sekali lagi dan merayakan Malam Vigili Kelahiran Santa Perawan Maria yang Terberkati dan mempersembahkan kepada Maria yang masih kanak-kanak, segala sesuatu yang sedang lahir di dalam kehidupan manusia yang rapuh, namun mengagumkan ini: rapuh seperti tunas muda, namun tetap menjadi tanda kesetiaan Allah. Ya, Maria adalah fajar dari hari yang berbeda, fajar bagi dunia kita yang akhirnya dibebaskan dari kejahatan.
Dan kini kita berada di hadiratnya, berkumpul mengelilingi altar, yang darinya keselamatan datang kepada kita dan mengubah kita, menjadikan kita anak-anak di dalam Sang Putra. Marilah kita memohon nasihatnya yang baik, agar kita dapat menerima Sabda Ilahi, menyimpannya dalam hati, dan mewujudkannya melalui keputusan-keputusan yang berani dan bijaksana menuju pertobatan yang sejati.
Di tempat yang telah lama menjadi pusat kehadiran Ordo Agustinus ini, saya akan kembali pada bacaan-bacaan Kitab Suci yang baru saja dibacakan dengan bantuan Santo Thomas dari Villanova, seorang biarawan Agustinian dan uskup yang, dengan mengabdikan hidupnya untuk melayani orang miskin, mampu menyelami secara mendalam kebenaran iman. Ia mampu melihat paradoks dari sesuatu yang kecil dan sederhananya Maria, bahkan bisa dikatakan dari posisinya yang berada di pinggiran, yang justru dijadikan pusat dalam rencana keselamatan Allah.
Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apa arti kelahiran seorang bayi perempuan pada masa Yoakim dan Anna? Santo Thomas merenungkannya secara mendalam:
“Berkali-kali saya telah merenungkan hal ini,” tulisnya, “dan saya bertanya-tanya mengapa para Penginjil, yang telah berbicara begitu panjang lebar tentang Santo Yohanes Pembaptis dan para Rasul, menceritakan begitu singkat kisah Perawan Maria, yang melampaui mereka semua dalam kehidupan dan keagungan pribadinya. Mengapa, saya bertanya-tanya, tidak ada uraian mengenai cara ia dikandung, kelahirannya, masa pertumbuhannya, kebiasaan-kebiasaannya, kebajikan-kebajikan yang menghiasinya, hubungan manusiawinya dengan Putranya, bagaimana ia berinteraksi dengan-Nya, atau bagaimana ia hidup bersama para rasul setelah Kenaikan-Nya? Semua hal ini penting, dan umat beriman tentu akan membacanya dengan devosi yang mendalam; hal itu akan menjadi sukacita besar bagi orang-orang sederhana. Wahai para Penginjil, saya memohon kepada kalian! Mengapa kalian merampas sukacita yang begitu besar dari kami dengan sikap diam kalian? Mengapa kalian mengabaikan rincian-rincian yang begitu menggembirakan, yang telah lama dinantikan, dan begitu menyenangkan itu?” (bdk. Karya Lengkap VII, 266,8).
Dalam kata-kata ini kita menemukan suatu petunjuk penting bagi iman kita: mengajukan pertanyaan kepada Kitab Suci dan para penulisnya, berdiskusi dengan teks, serta berdialog dengan para saksi Wahyu sebagaimana kita berdialog dengan sahabat-sahabat kita. Sebab sesungguhnya kita adalah “sesama warga dengan orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Dari Maria sendiri kita belajar suatu cara memahami yang berdialog dengan Allah, mengajukan pertanyaan (lih. Luk 1:34), dan menafsirkan peristiwa-peristiwa dengan menyimpannya serta merenungkannya di dalam hati (lih. Luk 2:19, 51).
Namun demikian, Injil menurut Matius tampaknya, justru melalui keheningannya, membenarkan Santo Thomas dari Villanova. Kita telah mendengarnya: Injil itu mencatat kehadiran Maria, tetapi tidak satu pun kata yang diucapkannya. Namun kehadiran Maria saja, dan kehadiran Sang Putra yang ada di dalam dirinya, menggerakkan seluruh kisah: kisah Yusuf dan seluruh keluarganya. Kehadiran Maria menghadirkan semacam lompatan dalam silsilah keluarga itu, suatu kebaruan yang tak terduga, yang mampu mengubah bukan hanya harapan-harapan, tetapi juga pola perilaku manusia yang tampaknya dapat diperkirakan.
Apa yang didengar Yusuf, apa yang diputuskan, dan apa yang dilakukannya, sesungguhnya merupakan tanggapan terhadap Allah dan terhadap kehadiran Maria, terhadap keunikannya yang mutlak, yang melampaui segala bentuk penjelasan maupun kisah. Dalam diri Maria, keselamatan menemukan tempat tinggalnya: Allah beserta kita!
Sekali lagi, Santo Thomas menulis:
“Nah, mengenai renungan-renungan saya yang tadi saya sebutkan, tentang mengapa tidak ada kitab yang ditulis mengenai karya-karya Sang Perawan sebagaimana telah ditulis mengenai karya-karya Paulus, … yang terpikir oleh saya hanyalah bahwa memang demikianlah yang berkenan kepada Roh Kudus. Atas dorongan-Nya, para Penginjil tetap diam mengenai dirinya, karena kemuliaan Sang Perawan, sebagaimana kita baca dalam Mazmur, seluruhnya berada di dalam dirinya (lih. Mzm 44:14 Vulgata), dan kemuliaan itu lebih dapat dibayangkan daripada diungkapkan dengan kata-kata. Sebagai ringkasan seluruh kisah hidupnya, cukuplah apa yang dinyatakan dalam gelarnya: bahwa Yesus dilahirkan darinya. Apa lagi yang ingin engkau ketahui? Apa lagi yang engkau cari dalam diri Sang Perawan? Cukuplah bagimu mengetahui bahwa ia adalah Bunda Allah.” (ibid.)
Kita hampir merasakan semacam rasa takjub yang mendalam di hadapan Misteri ini: mustahil untuk menjadi terbiasa dengannya! Kita merayakan kelahiran seorang bayi perempuan yang dipanggil untuk menjadi Bunda dari Sang Penciptanya, Bunda Allah yang menyelamatkan. Namun demikian, yang lahir hanyalah seorang bayi perempuan, sama seperti putri-putri dan cucu-cucu perempuan yang kita gendong dalam pelukan kita.
Hari ini kita menganugerahkan kepadanya gelar-gelar yang mulia dan luhur, seperti Ratu dan Mempelai. Akan tetapi, jalan Allah dahulu dan sekarang tetaplah lebih sederhana dan lebih hening, namun tidak kurang kuat dan tidak kurang mengubah kehidupan. Itulah jalan Yesus sendiri, “yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).
Sama seperti Maria, kita pun telah “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (ibid.). Tentu saja hal itu terjadi karena rahmat, tetapi juga dengan menghendaki dan memilih jalan-Nya, pilihan-pilihan-Nya, dan cara hidup-Nya di atas segala yang lain. Dalam Yesus Kristus, Allah memilih keadaan-keadaan sejarah yang paling sederhana dan makhluk yang paling rendah hati untuk menyatakan keunikan Kerajaan-Nya, sebuah kerajaan yang tidak memberi tempat bagi kesombongan dan yang kuasanya yang mahakuasa terwujud dalam penciptaan, pelayanan, dan pemeliharaan kehidupan.
Kemudian Santo Thomas dari Villanova menambahkan:
“Biarkanlah imajinasimu berkembang bebas, perluaslah batas-batas pemahamanmu, dan lukiskanlah dalam kedalaman jiwamu seorang perempuan muda yang paling murni, paling bijaksana, paling indah, paling saleh, paling rendah hati, paling lemah lembut, penuh dengan segala rahmat, sangat kaya dalam kekudusan, dihiasi oleh segala kebajikan, diperlengkapi dengan segala karunia Roh, dan sepenuhnya menyenangkan Allah. Agungkanlah dia sejauh yang dapat kaulakukan, bayangkanlah dia semaksimal kemampuanmu.” (ibid.)
Santo Thomas mengundang kita untuk melakukan latihan batin yang mengagumkan ini. Dan ia mengamati:
“Roh Kudus tidak menggambarkannya secara tertulis, tetapi menunggu engkau melukiskannya dalam dirimu sendiri.” (ibid., VII, 266,9).
Saudara-saudari terkasih, memang demikianlah adanya: dalam doa kontemplatif, apa yang tidak diceritakan oleh dunia kepada kita, tetapi yang sudah ada, mulai mengambil bentuk; apa yang masih tidak terlihat, tetapi telah memiliki daya baru dalam dirinya sendiri, mulai terwujud. Ini bukan soal khayalan, melainkan nubuat. Kita memerlukan hal ini pada masa-masa kehancuran dan ketidakpastian, agar kita dapat melihat karya Allah dan mengabdikan diri kepadanya.
Nabi Mikha, di kota kecil Betlehem, telah melihat sebelumnya kedatangan seorang Raja Damai, yang melalui-Nya kita akhirnya dapat tinggal dengan aman di bumi ini (lih. Mi 5:1-4). Dan hari ini, dalam Doa Pembuka (Collecta), ketika mengarahkan hati kepada Maria yang masih kecil, kita memohon agar “perayaan kelahirannya semakin menumbuhkan damai dalam diri kami.”
Ya, saudara-saudari terkasih, marilah kita mengharapkan kedamaian. Marilah kita memperluas batas-batas pemahaman kita dan melukiskan gambaran damai itu dalam jiwa kita, agar kita dapat mengenali bahwa damai itu telah ada, serta agar kita dapat menerimanya dan melayaninya. Damai adalah karunia Allah, nafas Sang Kristus yang Bangkit, dan karya Roh Kudus.
Marilah kita membiarkan damai itu bertumbuh dalam diri kita. Damai itu akan bersemi di dunia. Dan Bunda Nasihat yang Baik akan menyertai kita dalam perutusan ini. Amin.
Diterjemahkan oleh:
Blasius Panditya
