Para Cendekiawan Diharapkan Bisa Melihat Kenyataan, Bertindak dalam Terang Iman dan Belas Kasih

Uskup Agung Samarinda, Mgr Yustinus Harjosusanto, MSF dalam misa pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) XVII di Balikpapan, 11 September 2026. Dalam acara bertema “Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan” itu, Mgr Harjosusanto mengajak para sarjana atau cendekiawan itu supaya melihat kenyataan dalam kacamata iman, melihat dengan mata Tuhan dan dalam terang Roh Kudus untuk kemudian tergerak hatinya dan melakukan langkah nyata dengan penuh belas kasih.

Berikut ini adalah homili lengkapnya.

Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus, baik yang berhimpun di forum ini maupun juga yang mengikuti perayaan ekaristi dari tempat masing-masing!

Paus Fransiskus pernah berpesan kepada para imam dalam hal homili atau khotbah, yaitu tidak lebih dari 8 menit. Nah, saya lebih mudah untuk mengikuti anjuran itu. Tapi seandainya nanti lebih, ya mohon maaf karena memang ya kesempatan yang istimewa untuk berbicara, untuk memberikan pesan, menyampaikan hasil permenungan mengenai bacaan-bacaan hari ini, khususnya dalam rangka misa pembukaan Munas ISKA yang XVII.

Tentu kita semua berhimpun pada kesempatan ini sebagai cendekiawan. ISKA memang singkatannya atau perpanjangannya adalah sarjana. Tapi rupa-rupanya kita sebagai sarjana, sebagai cendekiawan memang diharapkan sesuatu yang lebih daripada non cendekiawan.

Nah, Injil hari ini, Injil hari ini mempunyai pesan yang kiranya sangat bagus. Tadi ketika saya merenung-renung untuk menyampaikan refleksi saya mengenai Injil hari ini, ketemu beberapa hal yang perlu menjadi permenungan kita bersama.

Kutipan yang pertama yang sangat penting adalah “orang buta tidak mungkin membimbing orang buta karena kalau demikian maka keduanya akan terperosok”. Memang juga ada orang buta yang sekarang ini dengan alat yang canggih itu bisa tidak terperosok karena ada alat-alat itu. Tapi yang diharapkan tentu saja adalah kalau mau membimbing orang yang buta tentu dirinya sendiri harus melihat, mempunyai penglihatan, daya lihat sehingga bisa membimbing si buta itu untuk ke mana tujuannya sehingga bisa sampai ke tujuan dengan tepat.

Dan orang yang bisa membimbing adalah orang yang betul-betul tahu mengenai situasi, tapi juga tahu mengenai tujuannya. Dan ini menjadi penting bagi kita.

Bagi para pengikut Kristus kiranya menjadi sangat penting kalau kita belajar dari Yesus dengan bagaimana Dia melihat. Bukan merasa bisa melihat tapi bisa melihat dengan terang iman. Melihat seperti Kristus melihat. Melihat seperti Kristus yang tahu mengenai situasi dan tahu mengenai atau menunjukkan sesungguhnya bagi setiap orang.

Bahkan sebagai pengikut Kristus dalam bacaan Injil tadi, kalau sebagai murid yang sempurna itu adalah menjadi sama dengan gurunya. Maka kalau kita melihat dengan kacamata iman kita dan kita semakin bertumbuh dengan mata iman itu, maka hendaknya kita juga bisa melihat sebagaimana Yesus melihat, menunjukkan bagaimana Yesus menunjukkan, bahkan juga bertindak bagaimana Yesus bertindak. Apalagi bahwa Yesus adalah Allah Putra yang bertindak sebagai Allah yang mencipta, yang menata, dan akhirnya yang menebus saat manusia jatuh dalam dosa.

Maka ini menjadi sesuatu yang penting bagi kita para cendekiawan ini untuk bisa melihat dengan mata Tuhan sendiri kenyataan dan apa yang harus dibuat khususnya dalam menata sebagaimana  Tuhan adalah penata dari seluruh alam semesta ini sehingga menjadi baik adanya.

Tahun Yubileum Kerahiman Allah tahun 2016, kalau Anda masih ingat, itu ada gambar yang sangat menarik. Gambarnya adalah Yesus yang memanggul seseorang, orang yang tersesat atau domba yang tersesat tidak dihakimi, tapi dicari, dipanggul. Itulah kerahiman Allah.

Tapi yang lebih penting lagi adalah selanjutnya, yaitu dalam gambar itu, mata Yesus dengan mata yang dipanggul itu menjadi satu. Masih ingat itu? Jadi mata dari Yesus dan mata orang yang dipanggul itu yang sesat itu, itu jadi satu.

Artinya apa? Artinya bahwa memang Allah itu sungguh maha rahim. Dan kalau kita memang sedang dalam situasi yang sesat, situasi yang sesat tidak akan dihakimi, tapi akan diberi belas kasih oleh Tuhan sendiri, akan bahkan akan dipanggul, dibawa ke tempat kawanan yang lain yang tidak tersesat.

Tapi lebih dari itu agar supaya yang dipanggul itu akhirnya mempunyai mata yang sama dengan yang memanggul yaitu Yesus sendiri, maka belas kasih yang sama juga mesti menjadi sikap dari setiap pengikut Kristus.

Maka kalau kita mengingat keadaan yang sekarang ini, memang kita sungguh-sungguh ingin agar supaya kita bisa sebagai cendekiawan, bisa melihat situasi dengan jernih, bisa melihat situasi dengan tajam, penglihatan kita diterangi oleh Roh Kudus dalam iman kita, melihat segala

sesuatu dengan kacamata Allah yang berbelas kasih itu. Melihat keadaan yang real dan tergerak hatinya untuk berbuat berbelas kasih dan bukan menghakimi, bukan mengadili, bukan melihat selumbar tadi kayu dalam mata orang lain, tapi dalam dirinya sendiri ada balok, tapi betul-betul mempunyai belas kasih dan bagaimana bisa berbuat agar supaya situasi menjadi baik.

Dan yang cara melihatnya, perspektif yang dipakai adalah perspektif Tuhan sendiri atau iman kita diterangi oleh sabda Tuhan, diterangi oleh Yesus sendiri, bagaimana kita bisa melihat dengan jernih, dengan hati nurani tapi diterangi oleh iman dan kita mau berbuat agar supaya keadaan menjadi lebih baik.

Maka untuk itu kita perlu pertama-tama adalah melihat diri kita sendiri apakah kita memang sudah melihat dengan baik, dengan perspektif sebagai murid Kristus. Bukan melihat dengan kacamata-kacamata yang lain, tapi dengan perspektif sebagai murid Yesus. Apakah kita sungguh-sungguh sudah melihat hal itu dengan sungguh-sungguh objektif, dengan sungguh-sungguh melihat keadaan yang sungguhnya dari kaca mata iman?

Dan kemudian kita ingin agar supaya bisa berbuat sesuatu dengan sikap belas kasih tadi, berbuat sesuatu, kalau memang kita belum melihat dengan sungguh-sungguh, berarti kita mesti perlu pertobatan, menyingkirkan balok itu sehingga kita bisa melihat dengan baik, sehingga kita bisa melihat keadaan dengan kacamata iman yang sungguh-sungguh baik.

Dan kemudian baru kita melibatkan diri dalam situasi itu untuk memperbaikinya karena sikap belas kasih. Ini menjadi penting. Karena apa? Karena kadang-kadang orang dengan mudah menyalahkan situasi, menyalahkan pihak yang lain, tapi diri sendiri kurang melihat dengan jernih, kurang melihat dengan tajam, kurang melihat dengan sungguh-sungguh atas dasar terang iman yang kita akui atau kita bawa atau kita pegang sebagai murid Kristus. Tentu keterlibatan kita senantiasa dirangkai dengan apa yang selalu dikatakan oleh Paus Fransiskus almarhum. Segala sesuatu yang Anda buat, buatlah itu dalam kerangka kerajaan Allah dan dalam pewartaan Injil. Maka segala sesuatu akan kita buat dalam sebuah kerangka pewartaan, perutusan bagi kita mewartakan kabar gembira. Tadi dalam bacaan yang pertama Paulus memberikan kesaksian bahwa dia tidak bisa tidak mewartakan Injil.

Dia tidak bisa menahan untuk tidak mewartakan, untuk tidak untuk mewartakan Injil. Tidak bisa menahan. Maka direm tidak bisa. Bahkan dukungannya menjadi begitu besar untuk mewartakan.

Dan pewartaannya tadi disertai dengan sebuah sikap yang tertentu. Saya menjadi semuanya artinya menyesuaikan diri dan saya seperti orang yang sedang berlari itu ada perjuangan dan kita sungguh-sungguh mau menjadi yang terbaik karena itulah yang kiranya menjadi panggilan dan perutusan kita.

Maka marilah kita seraya mensyukuri panggilan hidup kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus, Sang Guru yang ingin kita teladani agar supaya kita semakin hari semakin seperti Dia.

Kita juga bersyukur bahwa kita diutus oleh Tuhan melalui ISKA ini untuk mewartakan Injil di tengah-tengah situasi yang sangat riil.

Dan kita mohon agar supaya mata kita semakin sungguh-sungguh tajam melihat situasi dengan terang iman dan kita bisa bersikap atas halnya itu dan kita juga bisa bertindak bahkan melibatkan diri secara aktif, penuh perjuangan tapi tentu juga mengandalkan Tuhan sendiri. Amin.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *