Dua Jalan, Satu Tujuan

Oleh BAVO BENEDICTUS SAMOSIR, OCSO*

Pertemuan yang tidak sengaja dengan sepasang suami-istri membawanya pada obrolan ringan yang mengalir begitu saja hingga percakapan yang cukup mendalam. Sebenarnya ia pernah bertemu mereka namun biasanya hanya mengucapkan salam keramahan semata. Sang suami berbicara dengan nada penuh kekaguman. Matanya menatap bangunan biara di hadapan mereka, lalu meluncurlah kalimat-kalimat yang mengagung-agungkan hidup membiara seolah-olah itulah satu-satunya puncak kehidupan. Dalam pandangan pria itu, hidup di balik tembok biara, adalah wujud penyerahan diri yang paling sempurna. Tanpa sadar, kata-katanya menyiratkan kesan seolah ia sedang menomorduakan keluhuran hidup berkeluarga yang sebenarnya sedang ia jalani sendiri.

Mendengar pandangan itu, ia tersenyum tenang. Ia tidak berniat mendebat, hanya menyampaikan pandangannya yang berbeda. Hidup di balik dinding biara maupun hidup berkeluarga di tengah hiruk-pikuk dunia adalah dua jalan yang sama mulianya. Di hadapan Sang Pencipta, tidak ada jalan yang lebih tinggi; yang ada hanyalah kesetiaan dan ketulusan dalam menjalani panggilan hidup yang telah dipercayakan kepada kita masing-masing. Tujuan perjalanan panggilan kita semua adalah sebuah perjalanan menuju Allah.

Ia memandang dua putra pasangan muda tersebut, yang berusia sekitar lima dan tujuh tahun berlari-lari kecil dengan gembira. Tawa renyah mereka memecah keheningan sore di kompleks biara. Keriangan dua anak-anak itu mengingatkan siapapun bahwa panggilan yang dipercayakan kepada kita, harus kita jalani dengan sukacita. Sukacita bukan karena perjalanan selalu indah, tetapi karena Dia selalu menyertai kita dalam segala musim kehidupan yang harus kita hadapi.

Ketaatan Di Tembok Biara Dan Di Tembok Keluarga

Dalam hidup membiara ketaatan adalah salah satu nilai kehidupan yang dihidupi. Di era modern yang sangat mendewakan otonomi diri, ketaatan menjadi sebuah nilai yang sangat sulit dipahami karena ketaatan hanya dilihat sebagai sebuah bentuk degradasi diri. Namun sesungguhnya, ketaatan sejati mengajak kita untuk menemukan kebebasan sejati di dalam Tuhan karena kita mengimani hidup kita tergantung pada kasih Allah Bapa. Untuk itu ketaatan menuntut komitmen setiap harinya untuk menaklukkan kehendak egois.

Santo Benediktus memandang ketaatan sebagai jalan kembali dari keberdosaan menuju pelukan Sang Bapa. Kita diajak untuk menyerahkan kehendak egois demi meredam kebisingan nafsu duniawi serta mengarahkan diri sepenuhnya kepada kasih Kristus. Lebih mengutamakan Kristus di atas segalanya. Secara konkret ketaatan kepada Kristus diarahkan kepada pemimpin dalam komunitas. Hal ini berarti melihat sosok pemimpin tersebut sebagai “representasi Kristus”, meskipun sang pemimpin memiliki kelemahan manusiawi. Ketaatan ini berakar pada keyakinan iman bahwa penyelenggaraan ilahi bekerja melalui manusia yang rapuh.

Dalam hidup berkeluarga ketaatan juga memiliki nilai yang sangat penting yakni untuk menepis egoisme pribadi. Dalam dinamika keluarga, egoisme sering kali menjadi kerikil tajam yang memicu kesalahpahaman. Ketaatan yang lahir dari kasih dan kerendahan hati berperan besar untuk merobohkan tembok ego diri.  Setiap anggota keluarga dalam kerelaan dan kerendahan hati untuk saling mendengarkan demi mengutamakan kesejahteraan bersama di atas kepentingan diri. (bdk Filipi 2:3-5)

Ketaatan dalam keluarga adalah sikap mau mendengarkan dengan rendah hati tanpa menuntut menang. (bdk Efesus 5:21) Ketika terjadi ketegangan atau perbedaan pendapat, kerendahan hati ditunjukkan dengan menahan diri untuk tidak harus selalu merasa benar. Seseorang memilih untuk mendengarkan sudut pandang pasangan atau anak dengan utuh sebelum membela diri, sehingga emosi dapat mereda dan kesejahteraan bersama tetap terjaga. Berbagi peran domestik secara sukarela juga bentuk dari ketaatan. Dalam berumah tangga, ketaatan pada kasih Allah ditunjukkan pada sesama – yang dalam hal ini sesama adalah angota keluarga – berarti tidak menghitung-hitung siapa yang mengerjakan lebih banyak. Ketika melihat pasangan kelelahan, salah satu pihak mengambil alih pekerjaan rumah, seperti menyiapkan makan malam atau menemani anak belajar tanpa harus diminta atau mengeluh. Anak-anak juga dilibatkan dalam berbagi peran domestik, jika umur sudah memungkinkan, agar mereka belajar langsung dari pengalaman hidup akan arti ketaatan dalam keluarga.

Stabilitas dalam Biara dan dalam Keluarga

Kehidupan membiara bukan sekadar kumpulan individu, melainkan sebuah persekutuan hidup yang diikat oleh kasih, di mana para anggota saling menguatkan, menanggung beban satu sama lain, dan membangun relasi yang melampaui persahabatan biasa. Persekutuan hidup itu dibangun dalam sebuah stabilitas loci artinya di tempat yang sama.

Stabilitas juga mencakup dimensi waktu melalui keterikatan pada ritme harian jadwal ibadah dan kerja. Lonceng biara yang berbunyi siang dan malam bertindak sebagai pengingat untuk mengarahkan kembali hati kepada Tuhan dan melatih kehendak agar lebih peka terhadap rahmat ilahi. Kepatuhan pada jadwal harian ini membentuk disiplin rohani yang membebaskan jiwa dari kelalaian dan menumbuhkan daya tahan dalam menghadapi pergumulan batin.

Sama seperti seorang rahib atau rubiah berjanji untuk berakar di tempat yang sama dan setia pada komunitasnya di tengah pasang surut kehidupan, stabilitas dalam keluarga berarti kesetiaan seumur hidup untuk tinggal bersama dalam suka maupun duka. Ini adalah komitmen untuk tidak lari saat menghadapi konflik atau masa-masa sulit, melainkan merawat hubungan di tempat di mana Tuhan telah menempatkan kita.

Sikap bersungut-sungut dapat merusak jiwa dan memecah belah kehidupan membiara. Demikian juga dalam hidup berkeluarga, kebiasaan mengeluh, membanding-bandingkan, atau menumpuk kepahitan secara diam-diam adalah racun yang sama. Mengganti keluhan dengan komunikasi yang jujur, pengampunan, dan rasa syukur akan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Pertobatan Terus Menerus dalam Biara dan dalam Keluarga.

Dalam hidup membiara, khususnya dalam tradisi monastik, ada kaul conversatio morum, yang sering diterjemahkan sebagai pertobatan atau cara hidup yang terus berubah dan bertumbuh. Alkitab menunjukkan bahwa pertobatan adalah proses perjalanan yang seringkali menantang—seperti bangsa Israel yang harus melalui padang gurun selama 40 tahun untuk menyucikan kehendak mereka sebelum memasuki Tanah Terjanji. Pertobatan sejati menuntut pelepasan dari keinginan diri sendiri agar selaras sepenuhnya dengan kehendak Allah. Pertobatan terus menerus adalah hati agar tidak jatuh ke dalam kepuasan diri, materialisme, atau jebakan egoisme terselubung.

Sebagaimana hidup membiara bukanlah tempat di mana orang-orang sudah sempurna, melainkan sebuah “sekolah kasih” yang terus berproses, demikian juga halnya hidup dalam berkeluarga. Untuk itu, setiap anggota baik di biara maupun di keluarga dipanggil untuk sabar terhadap kerapuhan satu sama lain, bertumbuh bersama, dan membiarkan rahmat Tuhan memperbaiki relasi yang retak setiap hari.

Di kehidupan membiara diusahakan waktu hening dan doa bersama. Di tengah kesibukan dunia modern yang bising dan distraksi digital, keluarga juga membutuhkan “sel” atau ruang keheningan bersama. Memiliki waktu khusus untuk berdoa, merenungkan Sabda Tuhan, atau sekadar hadir secara utuh bagi pasangan dan anak-anak adalah bentuk ketenangan batin yang melindungi keluarga dari kelelahan dunia luar.

Dimensi Dalam dan Luar

Dilihat dari dimensi luar, kehidupan membiara dan berkeluarga tampak berbeda, namun dari dimensi dalam, panggilan itu satu tujuan yakni bahwa Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam persekutuan kasih-Nya, kita diminta untuk melepaskan keterikatan duniawi yang sia-sia. Namun, kita tidak bisa hanya mencari Allah di tempat yang “tinggi” secara abstrak, melainkan harus menemukan dan melayani-Nya di tengah realitas kerapuhan manusia, termasuk penderitaan, salib harian dan kehidupan bersama baik di dalam hidup membiara maupun di dalam hidup berkeluarga.

*Penulis adalah Rahib and Imam – Our Lady of Silence –Roscrea Co. Tipperary Irlandia

 

 

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *