Ekaristi: Diambil, Diberkati, Dipecah Dan Dibagi

Dalam acara The Jakarta Eucharistic Revival (JER2026), Romo RD Josep Susanto, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan Pendiri Rumah Teduh Suryo memberikan pengajaran, peneguhan dan kesaksian tentang ekaristi, 28 Februari 2026.

Berikut ini adalah pengajaran, peneguhan dan kesaksian Romo Josep yang telah disunting seperlunya oleh Redaksi.

Para Bapak Uskup, Ibu, Bapak, Saudara-saudari, para Suster, rekan-rekan imam yang terkasih. Andaikata saya boleh melihat Anda, saya bersyukur, saya berterima kasih, saya harus berbicara soal ekaristi, warisan Gereja yang sudah dipelihara, dijalani dengan tekun dan setia oleh Gereja sampai detik ini. Maka dari itu kalau ekaristi artinya adalah syukur, saya mau kita semua yang ada di sini bukan hanya sebagai penonton saja tadi waktu praise and worship penuhi ruangan ini dengan rasa syukur dan terima kasih.

Saya mau mengajak Anda semua untuk bernyanyi lagu lama.

Coba ketika Anda menyebut menyanyikan setiap lirik lagu ini, bawa seluruh rasa syukur kita.

Bapa trima kasih

Bapa trima kasih

Bapa di dalam surga.

Puji trima kasih.

Saudara-saudaraku, sebagai seorang imam, tahun ini saya 20 tahun menjadi imam di Keuskupan Agung Jakarta. Dua puluh tahun saya jalani dengan penuh liku, jatuh bangun. Sebuah perjalanan yang istimewa buat saya untuk bisa bertahan selama 20 tahun. Saya seorang Romo punya tiga rahasia yang menjadi tiga kekuatan saya, yang ternyata dengan tiga kekuatan ini, apapun kesulitan yang saya hadapi sungguh-sungguh bisa terlewati.

Tiga kekuatan ini mengajarkan saya untuk tidak lari dari masalah. Tiga kekuatan ini mengajak saya untuk hadapi kesulitan demi kesulitan. Yang pertama adalah ekaristi kudus. Yang kedua adalah adorasi. Dan yang ketiga adalah doa Rosario. Ketika saya memilih tiga kekuatan ini, bukan yang lain, saya harus mencari apa yang membuat Gereja sampai detik ini bertahan dengan ekaristi kudus.

Banyak artis-artis muncul, banyak penyanyi-penyanyi hebat muncul, banyak tokoh-tokoh hebat dalam sejarah itu muncul. Tetapi coba kita lihat di mana mereka sekarang ini. Tapi ekaristi kudus mampu bertahan sampai hari ini. Berarti kalau kita tanya, Saudara-saudara,diperlukan sebuah dasar yang sangat kokoh, yang bisa dipegang dengan mantap.

Tadi panitia memperlihatkan kepada kita immersive sejarah keselamatan Allah, history of salvation. Saya nggak tahu ketika Anda tadi melihat betapa bagusnya, luar biasanya gambar demi gambar ditampilkan, apakah Anda, Saudara-saudaraku, masih tersentuh dengan kisah-kisah itu? Di mana Anda, bagian yang paling mana Anda begitu betul-betul tersentuh?

Apakah kisah-kisah itu masih berbicara untuk orang-orang sibuk zaman sekarang? Apakah kisah tentang manusia-manusia yang dipilih oleh Allah untuk melihat, mengalami sendiri, menjadi keluarga Allah masih relevan untuk Anda semua?

Saudara-saudaraku, tadi kisah-kisah itu kalau mau saya singkat dari zaman Adam dan Hawa, dari zaman Abraham, dari zaman Ishak, dari zaman Musa, terus para nabi, Daud sampai berpuncak pada Yesus Kristus, saya bisa menyimpulkan dengan satu kalimat, history of salvation, history, sejarah. Tetapi yang namanya sejarah selalu tentang masa lalu.

Bagaimana sejarah tentang masa lalu ini tidak berhenti di masa lalu, tetapi menjadi His Story, His Story.

Kisah-kisah tadi tentang bagaimana sejarah Allah, bagaimana Allah mengasihi masing-masing dari kita. Bukan cuma tokoh-tokoh Alkitab saja tadi yang begitu dikasihi oleh Allah, tetapi bagaimana, Saudara-saudaraku dari His Story menjadi My Story. Itu tantangan yang tidak mudah. Kisah-kisah Alkitab bukan tentang 2000 tahun yang lalu. Juga bukan tentang hanya berhenti pada Yesus Kristus dengan wafat dan salib-Nya. Tapi ekaristi kudus membawa setiap orang beriman pada akhirnya untuk mengamini, “Tuhan, Engkau sungguh besar! Tuhan, Engkau sungguh baik!”

Kisah-kisah yang kita baca dalam Alkitab, dalam ekaristi, ketika Gereja merayakan ekaristi dengan rasa syukur yang luar biasa, dengan sepenuh hati, dengan sepenuh jiwa, kisah tentang Allah juga berlaku untuk hidupku.

Maka dari itu, Saudara-saudara, izinkan saya menampilkan sebuah tema “Ekaristi: Diambil, Diberkati, Dipecah Dan Dibagi”.

Ketika saya menghayati tema ini, yang pertama-tama bisa saya katakan adalah ekaristi bukanlah simbol.

Bapak Uskup tahun ini kan baru aja temanya Imlek. Imlek tahun kuda api, katanya. Kalau saya, Romo Josep, itu sionya ular. Siapa yang sionya kelinci tunjuk tangan? Wow, banyak. Siapa yang sionya kerbau tunjuk tangan? Siapa yang sionya naga tunjuk tangan? Siapa yang monyet? Ih, nggak pada tunjuk tangan. Siapa yang guguk?

Saudara-saudara, sio-sio itu adalah simbol. Kita seolah-olah tidak ada kaitannya dengan sio itu. Kita tidak berusaha menjadi sio-sio itu. Karena sio itu hanyalah simbol belaka. Ketika Anda makan babi misalnya, kita tidak berusaha untuk menjadi babi, bukan? Pasti nggak ada di situ. Ketika Anda makan kambing, makan sate kambing yang enak, kita tidak berusaha menjadi kambing.

Tetapi, Saudara-saudara, Santo Agustinus dari Hippo tahun 430 mengatakan seperti ini, “Setiap orang Kristiani melihat kurban di atas altar.” Anda pasti tahu Anda akan menerima apa yang dikorbankan oleh seorang imam di atas altar itu. Komuni kudus, Tubuh Yesus sendiri.  Tetapi Santo Agustinius berkata seperti ini, “Setiap umat beriman menerima, memakan Tubuh Kristus hendaklah menjadi seperti apa yang kita terima.”

Ketika kita menerima Tubuh Kristus, kita sedang diajak untuk menjadi seperti Kristus. Dan luar biasanya, Saudara-saudara, kisah itu bukan sekadar simbol.

Ekaristi, saya harus berbicara soal landasan biblis, bagaimana kisah-kisah refleksi iman, orang-orang yang disentuh oleh ekaristi, orang-orang yang mau bertekun dalam ekaristi, pertama-tama bukan orang yang sembuh dari sakitnya. Bukan pertama-tama orang yang masalahnya langsung selesai begitu merayakan ekaristi. Tapi refleksi yang bisa kita temukan dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes termasuk juga kisah para rasul adalah orang-orang yang berkenalan dengan sebuah kasih. It’s about love, not only ordinary love. Bukan tentang cinta biasa, tapi unconditional love.

Saudara-saudaraku, unconditional love, cinta yang tanpa syarat inilah yang tidak mungkin kita temukan di dunia ini kalau mengalir dari orang-orang di sekitar kita. Sebab setiap orang pasti tidak sempurna. Tapi ekaristi, Saudara-saudara, bukan cuma simbol, bukan cuma Yesus hadir lalu diam saja, tapi dalam ekaristi dikatakan kehadiran nyata Kristus. Setiap kita merayakan ekaristi, kita sedang menghadirkan Kristus. Bukan cuma Kristus saja, tapi pengorbanan-Nya.

Saudara-saudara, ekaristi dijaga oleh Gereja karena adalah perintah dari Tuhan sendiri. Di mana dikatakan di Lukas 22, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, memberikannya kepada mereka, murid-murid-Nya, katanya, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Daku.” Andaikata setiap imam pintar bercerita bagaimana rasanya dia memegang Tubuh Kristus saat setiap konsekrasi, pasti setiap umat akan terpukau dengan ekaristi. Tidak akan pernah malas-malas lagi. Nggak pernah merasa itu sebagai kewajiban belaka, apalagi formalitas saja. Andai kata, Ibu, Bapak, Saudara-saudaraku, saya bisa bercerita saat Tubuh dan piala itu saya angkat, ada sebuah kekuatan yang mengalir, mengalir deras dari zaman Yesus sampai hari ini.

Kalau kita lihat, Saudara-saudara, ketika Gereja berusaha untuk mengikuti ajaran-ajaran Kristus, misalnya, barang siapa punya musuh, dia harus mencintai musuhnya. “Kamu telah mendengar, “Kasihilah sesamamu manusia, tapi bencilah musuhmu.” Tapi Yesus mengajar sesuatu yang baru, “Kasihilah sesamamu, doakanlah para musuhmu.”

Kita semua tahu ajaran ini sangatlah sulit. Bila ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan. Bila orang mau bajumu, kasih juga jubahmu. Cenderung manusia sejak zaman Adam dan Hawa, zaman Abraham, zaman Musa, zaman para nabi, zaman raja-raja, sampai detik ini, dosa manusia adalah ketidaksetiaan.

Tapi ada satu hal di mana Gereja boleh bangga, di mana Gereja boleh bersaksi bahwa Gereja adalah kumpulan orang beriman yang berjuang untuk setia. Karena di sinilah ekaristi menjadi jawaban kesetiaan Gereja.

Selama para imam merayakan ekaristi, di situlah boleh kita bangga kita mengenangkan wafat Kristus, mewartakan kebangkitan-Nya dengan setia sampai kedatangan-Nya kembali.

Setiap kali kita para imam, “Agunglah misteri iman kita.” Umat langsung menjawab, “Setiap kali kami makan roti ini dan minum dari piala ini, wafat-Mu Tuhan kami wartakan hingga Engkau datang.” Sampai sejauh mana Gereja setia kalau dalam hal moral Gereja berjuang untuk setia? Tapi sebagai umat beriman, manusia-manusianya kita kadang-kadang kedodoran dalam kesetiaan. Tapi Saudara-saudara, kesetiaan itu terungkap dengan jernih pada saat Gereja setia merayakan ekaristi kudus.

Kalau saya paparkan bagaimana orang-orang di Gereja perdana, murid-murid Kristus, orang-orang yang berkumpul dengan tekun dan setia. Diceritakan dalam Kisah Para Rasul, memang sudah lahir sejak Gereja perdana. Mereka berkumpul, bertekun dalam doa, merayakan ekaristi kudus. Dan ada sebuah ungkapan, mereka semakin disukai oleh banyak orang sebab ekaristi bukan tontonan. Ekaristi tidak pernah membuat umatnya hanya pasif saja, tapi ekaristi sungguh melibatkan. Dan ekaristi punya daya ubah. Ekaristi harus bertransformasi. Di sini saya seringkali dapat aduan, Romo-Romo. “Kalau kami sebagai orang tua itu gampang, Romo, untuk ekaristi, cari waktu gampang. Tapi gimana, Romo, anak-anak kami, dengan generasi-generasi muda yang susah sekali untuk dibuat ikut ekaristi?”

Saya mencoba untuk menganalisa, apalagi anak-anak generasi muda zaman sekarang. Mereka enggan ekaristi. Mereka nggak mau diajak ekaristi, karena apa? Karena mereka lihat mama-papanya sebelum ke gereja, setelah dari gereja sama saja. Tetap berantem, tetap julid, tetap galak, tetap egois, tetap yang lain-lain, seolah-olah ekaristi yang dirayakan tidak punya daya ubah.

Saudara-saudara, ingatlah tentang kutipan dari Santo Agustinus tadi. Ketika kita melihat kurban ekaristi, kita tahu siapa yang dikurbankan, kita tahu siapa yang kita terima. Dan untuk itulah kita dipanggil.

Saya izinkan saya bertanya kepada Bapak Uskup, kepada para Imam, kepada para Suster yang kami ketika tahbisan harus merayakan ekaristi setiap hari, merenungkan sabda-Nya.

Itu memang menjadi tugas para imam. Panggilan para imam harus diisi oleh ekaristi. Maka saya sangat sedih ketika para imam, mohon maaf atas nama para imam, kalau Anda sebagai umat merasa imamnya ketika ekaristi asal-asalan, ketika mereka ekaristinya cepat-cepat, ketika mereka ekaristinya tanpa hati. Padahal kalau bacaan pertama hari ini ada perintah dari Allah. V’ahavta et Adonai Eloheicha b’chol l’vavcha uv’chol nafsh’cha uv’chol m’odecha. “Kasihlah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu!”

Jadi, para imam pun harus belajar semakin dalam berelasi dengan Kristus setiap ekaristi.

Jujur, Minggu kemarin, Bapak Uskup, saya sedikit curhat, Bapak Uskup. Bapak Uskup menugaskan saya di STF untuk banyak menulis. Saya berjuang, Bapak Uskup, jadi satu tulisan di jurnal. Tapi yang namanya masukin tulisan ke jurnal itu setengah mati berjuang. Saya berdoa, berdoa, berdoa, berdoa luar biasa. Sampai kemarin ada jawabannya.

Doa saya dikabulkan. Apa yang terjadi, Saudara-saudara? Dengan rasa syukur, dengan ucapan terima kasih yang meledak-ledak saya rayakan ekaristi. Beda loh rasanya. Beda banget. Ketika para imam, seorang imam merayakan ekaristi, sungguh-sungguh

bersyukurnya, betul-betul tahu apa yang disyukuri, umat yang merayakan juga merasakan sesuatu yang beda.

Maka para imam setiap perayaaan ekaristi juga betul-betul harus menghadirkan kuasa kasih Tuhan. Demikian juga dengan para imam, saudara-saudaraku dan juga para umatnya.

Apakah ekaristi yang aku rayakan sungguh-sungguh mentransformasi aku?

Izinkan saya mengutip tiga saja kutipan Kitab Suci bagaimana peristiwa dengan Yesus Kristus mengubah seseorang? Yang pertama tentang Perkawinan di Kana. Kita temukan kisahnya dalam Yohanes bab 2. Saya yakin di sini ada banyak umat yang sudah ikut kursus Kitab Suci, sudah ikut kegiatan Api Kemuliaan Tuhan, nonton video Bible Learning.

Bagaimana dalam perkawinan di Kana? Coba deh perhatikan!  Lihat baik-baik siapa yang berubah di situ! Umat kebanyakan yang nggak pernah baca Kitab Suci atau malas baca Kitab Suci tahunya adalah air diubah menjadi anggur lalu, selesai. Tapi andaikata Anda umat beriman membaca baik-baik Yohanes bab 2 itu yang diubah bukan cuman air jadi anggur, tetapi yang diubah adalah ibu Yesus.

Ketika seorang ibu dia meminta kepada Putranya mereka kehabisan anggur. Di situ Maria tampil sebagai seorang ibu. Seorang ibu minta tolong Anaknya. Salah atau nggak, Ibu-Bapak? Nggak salah daripada minta tolong orang lain. Yang dilakukan oleh Maria sungguh sudah tepat. Dia datang pada Yesus bukan kepada yang lain. Maria sebagai seorang ibu mendorong Yesus lakukan sesuatu. Mumpung ada momennya, mumpung banyak orang saksinya. Lakukan sesuatu, Anakku! Tetapi coba perhatikan jawaban Yesus. Sebuah jawaban yang cuman Maria yang mengerti. “Mau apakah engkau daripadaku, Ibu? Waktuku belum tiba.” Marianya ngomong apa, Yesusnya juga ngomong apa. Saling nggak nyambung. Tetapi kalau Anda perhatikan, Maria saat itu sedang diajak untuk bertransformasi dari seorang ibu menjadi seorang murid Yesus.

Jadi, Saudara-saudaraku yang terkasih, kalau tadi saya berbicara soal ekaristi harus punya daya transformasi, kita bisa dibantu oleh permenungan dari perkawinan di Kana ini. Aku harus berubah dari yang seperti apa menjadi apa. Jangan sampai tahunya cuman ekaristi mentransformasi, tapi nggak tahu harus berubahnya menjadi seperti apa. Mudah-mudahan setiap kita membaca perkawinan di Kana, oh iya-iya, betul ya, ada sebuah panggilan diubah menjadi sesuatu yang lebih berkualitas, Maria tunduk menjadi murid Yesus. Dan apa terjadi, Saudara-saudaraku? Kalau kita lompat ke Yohanes bab 19, di bawah salib Yesus, berdiri ibunya. Di situlah Maria berdiri sebagai seorang ibu. Maka dikatakan ibu-Nya tetap diri Maria, identitas Maria tidak diubah, tetapi ditambah lebih dalam lagi. Sebagai seorang perempuan, ia berdiri di situ dengan tiga perempuan yang lain dan juga sebagai murid Yesus. Makanya juga ada murid terkasih.

Saudara-saudara, transformasi dalam ekaristi membawa kita untuk tahu dan bisa berkembang dalam hidup. Jangan hidup seperti di situ-situ aja. Jangan mau kalau disuruh berpuas diri saja. Coba going deeper with Christ. Lebih dalam, lebih dalam, lebih dalam lagi.

Kalau saya bertanya, siapakah yang menjadi pusat dalam ekaristi? Banyak umat beriman terkecoh, tertipu bahkan ketika mereka hanya melihat imamnya. Siapa yang misa? Bapak Uskup Ignatius Suharyo, aku mau hadir ah. Siapa misalnya? Romo Yustinus Ardianto, aku mau hadir ah. Siapa yang jadi anggota koornya? Siapa prodiakonnya? Siapa tatibnya? Di mana? Berapa orang yang merayakan? Hati-hati yang menjadi pusat dalam ekaristi adalah hanya satu, yaitu Kristus sendiri.

Melalui seorang imam yang memimpin ekaristi, kehadiran-Nya sudah bisa dirasakan pada saat imam mengatakan, “Tuhan sertamu.” Dijawab apa? Coba lebih pakai hati lagi. “Tuhan sertamu juga!”

Sejak awal, Saudara-saudara, umat beriman disadarkan oleh ekaristi, You are not alone.

Kita tidak sendirian. Kita tidak nangis sendirian. Kita nggak berjuang sendirian. Kita lagi nggak jatuh sendirian. Ada sebuah penyertaan Tuhan. Kalau Anda bertanya kepada saya,

Romo Jo, Romo Jo, selain tadi konsekrasi, peristiwa dalam ekaristi yang mana yang sangat menyentuh seorang Romo? Ini jawabannya subjektif. Saya bisa mengatakan ekaristi adalah juga perjalanan rohani saya. Dulu ketika jadi imam pertama kali saya cuma formalitas saja. Ketika hidup saya sudah mulai berat-beratnya, di situ saya mulai menemukan sebuah celah. Ekarisi adalah sebuah tempat saya menemukan kekuatan. Ketika saya menyadari dengan kelemahan, dengan kerapuhan, dengan masalah yang berjibun-jibun itu, saya menemukan ada satu momen yang teramat penting yang sayangnya umat beriman itu lupa, yaitu lagu seperti ini, kalau dalam bahasa Ibraninya Kadosh, Kadosh, Kadosh.  Kadosh, Kadosh, Kadosh Adonai Elohim Tz’va’ot Asher hayah v’hoveh v’yavo.

Itu dalam pencarian saya tentang ekaristi, saya menemukan ada satu titik paling penting, yaitu Kudus. Di mana kalau umat beriman kalau Kudus-nya dinyanyiin udah lirik-lirik jam, makin lama ini, misalnya. Lalu nyanyinya cuman-cuman, Kudus, Kudus,

kuduslah Tuhan. Nggak pakai hati, nggak pakai perasaan. Coba mulai hari ini, Saudara-saudara. Lagu Kudus-kudus itu memang dinyanyikan persis sebelum Doa Syukur Agung, sebelum bagian terpenting dari ekaristi. Setelah orang disadari Tuhan bersama dia mendengarkan firman Tuhan, mendengarkan khotbah dan pewartaan, lalu ada persembahan ditutup dengan Kudus sebelum orang merayakan Doa Syukur Agung.

Kalau saya boleh ungkap ya, ketika Isak melihat langit terbuka, ketika Yakub melihat langit terbuka, ketika Nabi Yehezkiel melihat langit terbuka, ketika penulis kitab Wahyu melihat langit terbuka, mereka mendengar nyanyian ini. Nyanyian Kudus, Kudus, Kudus, Kudus Tuhan Allah segala kuasa. Lagu Kudus adalah sebuah jembatan antara manusia dengan Allah. Saatnya manusia betul-betul siap, langkah terakhir sebelum bersatu dengan Tuhan dalam konsekrasi dan juga penerimaan komuni. Mulai hari ini jangan nyanyiin Kudus asal-asalan. Betul-betul rasakan segenap hati. Bukan karena prestasi kita, bukan karena hebatnya kita, tapi Saudara-saudara, ini tentang unconditional love, kasih yang tak terbatas yang mau menerima aku si pendosa ini.

Kalau Anda lihat, belajarlah dari dua murid di Emaus. Begitu Yesus memecah-mecah roti, sebelum memecah-mecah roti, mereka mendengar pengajaran Yesus. Ada firman yang dibacakan, ada firman yang dihadirkan, ada Tuhan yang menyertai mereka dalam perjalanan. Jangan buru-buru, “Oh, mau hatinya berdebar-debar dulu.” Kalau langkah-langkahnya dilewati, maka rayakan ekaristi dengan sepenuh hati. Setiap bagian demi bagiannya diikuti dengan secara aktif.

Ketika kita membaca misalnya Matius, Lukas, Markus ada secara konsisten dikatakan Yesus menggandakan roti. Coba kalau Anda perhatikan kalau baca Kitab Suci itu coba detil. Jangan baca, baca, baca dari awal sampai akhir terus udah. Kalau Anda baca kisahnya ya mau Matius kek, mau Markus kek, mau Lukas kek, ketika menceritakan secara luar biasa Yesus menggandakan roti, fokusnya bukan pada roti yang dipecah-pecah itu.

Nggak pernah dikatakan rotinya setengah-setengah, rotinya tiga per empat, rotinya baunya harum, nggak kan? Tapi yang lebih difokuskan dari kisah ini adalah bagaimana Yesus melibatkan para murid-Nya. “Berapa roti yang ada padamu?” “Kamu harus bisa memberi mereka makan!”

Dari situ, Saudara-saudara, dari mukjizat penggandaan roti, kita bisa belajar betapa cinta Tuhan itu bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Dia sangat mengasihi kita. Tapi bagaimana Dia mengasihi kita? Lihatlah bagaimana Yesus tidak bertindak seorang diri dalam mukjizat penggandaan roti. Para murid diajak, “Kamu punya berapa?” Yesus nggak melihat bahwa itu kurang ataupun lebih, murah ataupun mahal, cukup ataupun tidak. Tetapi apa yang ada padamu, give it to me, bring it to me. Kamu punya apa? Bawa, bawa, bawa, bawa! Maka Saudara-saudara, setiap kita datang ke gereja merayakan ekaristi, coba bawa sesuatu. Bukan kolekte. Pertama-tama saya lagi nggak ngomong soal kolekte ya, Rp50.000, Rp20.000, Rp100.000. Bukan itu sebetulnya, tapi apa? Kesadaran bahwa engkau dikasihi? Bahwa ada cinta Tuhan yang bekerja dalam dirimu. Bawa, satukan dalam ekaristi, hadirkan, beri pada Tuhan. Tuhan akan mengucap syukur, memecah-mecahnya, lalu melipatgandakannya. Apa yang kurang dari para murid menjadi berkelimpahan dengan mukjizat penggandaan roti ini.

Kisah seorang Josep Susanto

Sebagai seorang imam, saya sudah merayakan ekaristi. Sebagai seorang imam, saya sudah menjalankan tugas-tugas saya, sebagai seorang pengajar. Sebagai seorang imam, saya selalu sudah berjuang untuk menghayati ekaristi. Tapi jangan pernah lupa, ekaristi selalu ditutup dengan yang namanya perutusan. “Pergilah kita diutus!” Diutus ke mana? Diutus menjadi seperti apa? Apakah ekaristi yang dirayakan betul-betul menjadi kekuatan dalam perutusan itu? Itu pertanyaan yang serius. membelenggu kepala saya. Perutusan dalam ekaristi harus aku bawa ke tengah-tengah dunia.

Jujur ketika saya mau punya ide bikin Rumah Teduh Suryo (RTS), sebuah rumah menampung orang-orang sakit di sini. Ternyata ketika saya mau, Tuhan apa yang harus saya lakukan setelah gonjang-ganjing hidup saya bisa saya lewati? Itu muncul idenya dari ekaristi. Waktu itu saya ingat sekali begitu saya merayakan ekaristi ada sebuah kekuatan baru. “Tuhan, kalau memang ini perutusan daripada-Mu lancarkanlah! Kalau memang bukan Tuhan, hambat Tuhan dengan berbagai macam cara!” Tapi perutusan dalam ekaristi, “Pergilah kamu diutus!” Mewartakan kabar baik, membuat banyak orang mengalami kasih. Maka lahirlah Rumah Teduh Suryo ini. Kegiatan ini sebetulnya sudah saya lakukan sejak tahun 2017, meskipun RTS baru munculnya 2024, 2025. Kegiatan ini sejak zaman pandemi, sejak saya dinyatakan sehat, sejak saya sembuh, lalu saya mau apa? Hidup sudah seperti ini, sudah dikasih kesempatan kedua, lalu mau apa? Sebuah kegelisahan dari batin seorang imam, mau apa kalau kamu sudah disembuhkan? Saya nggak bisa cuman diam saja. Maka sejak 2017 waktu itu setelah dioperasi, setelah dibiopsi, setelah keluar hasil biopsinya, apa yang harus saya lakukan, Tuhan? Mulailah saya rajin ke Rumah Sakit Carolus untuk mendatangi orang-orang sakit ini.

Ternyata, Saudara-saudara, kesibukan saya, aktivitas saya untuk mengunjungi orang-orang sakit ini membuat saya semakin mencintai ekaristi. Jadi, bukan cuma nambah-nambah kesibukan seorang Romo Yosep. Ini saya pakai tas itu baru pulang kuliah, eh baru pulang ngajar di tempat kuliah naik motor gitu masuk ke RSCM lihat orang-orang, mau siapapun agamanya saya hanya berkata, “Tuhan, Engkau telah menyembuhkan saya, pasti, Engkau juga bisa menyembuhkan dia.” Itu doa saya kalau saya letakin tangan di atas orang-orang sakit supaya kebaikan Tuhan juga boleh dirasakan oleh mereka.

Kisah ekaristi berbicara soal kasih yang tanpa batas, kasih yang unconditional. Justru semakin berisi penghayatan saya tentang kasih ini. Setiap saya berjumpa dengan pasien-pasien ini, dengan orang tua-orang tua pasien. Di sini muncul tadi saya ceritakan ada Mama Zaneta. Saking senangnya diundang ke sini, anaknya, bayinya ditinggal di RTS sama bapaknya. Itu dari Flores senang luar biasa merayakan seperti ini. Ketika saya melihat mama-papa Zaneta, keluarga muda punya anak, punya gangguan jantung, sakit, anak yang tidak sempurna, anak yang mungkin jauh dari apa yang mereka doakan ketika mereka menikah. Tetapi kadang-kadang fakta kehidupan terlalu pahit untuk diterima. Bagaimana dengan orang yang anaknya sakit? Kemudian juga ada kakaknya dari Yulius. Kakak Yulius ini punya adik. Adiknya itu kena kanker di matanya. Baru saja operasi. Seorang kakak yang mau menemani adiknya. Seorang kakak yang mau punya kasih kepada adiknya.

Sayang sekali nggak bisa hadir di sini ada namanya Avalena, seorang bayi dengan kanker hati. Hatinya rusak, harus ditransplantasi. Cuma cocok sama hati neneknya.

Jadi seorang bayi, ibunya lagi hamil, bayi ini kena kanker hati harus tranplantasi hati. Dicek, dicek, dicek cocoknya sama neneknya. Lalu neneknya disiapkan untuk transplantasi hati. Apa yang terjadi? Neneknya kelebihan berat badan. Berat badannya 82 kilo. Sementara untuk bisa operasi transplantasi hati beratnya harus 55 kilo. Kalau Anda aja disuruh turun 1 kilo aja susah banget kan? Hari ini turun 1 kilo, besok nambah 3 kilo susah. Tapi nenek Avalena ini karena kasih dengan cucunya ini, dia olahraga, dia diet, dia berjuang supaya cucunya bisa nerima donor hati dari dia. Buat saya kalau tanpa kasih, tanpa cinta, rasanya sulit. Nggak banyak orang mau berkorban. Nggak banyak orang mau menyerahkan secara ikhlas selain kalau dibayar. Dengan manusia zaman sekarang, berani bayar berapa? Berani ngasih duit berapa, donor ginjal, donor ini dan itu, semuanya pakai duit.

Tapi saya bisa melihat dengan aktivitas saya di Rumah Teduh Suryo, saya menemukan orang-orang hebat ini yang kasihnya, cintanya tidak bisa saya pungkiri. Dari mereka justru saya belajar tentang kasih, tentang pengorbanan yang murni. Ketika saya bawa kisah-kisah mereka dalam ekaristi, setiap saya berkata, “Ya, Allah yang Maharahim.” Kata-kata itu bukan sekadar teori lagi. Kata-kata itu bukan tentang rumusan-rumusan ekaristi, tapi kata-kata itu sudah menjadi bagian dalam diri saya. History menjadi His Story menjadi My Story.

Saudara-saudaraku yang terkasih, andaikata setiap orang mengalami pengalaman kasih, Paus Fransiskus dalam surat, dalam ensiklik-ensikliknya dari Laudato Si, dari Laudate Deum, dari ensiklik Dilexit Nos,  itu berbicara soal krisis. Krisis yang menggila di tengah dunia ini di mana udah diomongin, udah diwartakan, udah diajarkan. Tapi rasa-rasanya manusia terlalu lemah untuk beranjak dari krisis itu. Banyak alasan-alasan dikemukakan.

Tetapi Paus Fransiskus secara jeli disempurnakan oleh Paus Leo XIV, bagaimana semuanya ini soal krisis hati manusia yang begitu lemahnya. Manusia kehilangan kemampuan untuk mengenal kasih. Manusia tidak mampu lagi, menjadi lumpuh, ketika harus melakukan kasih dan pengorbanan. Maka dari itu, Saudara-saudara, ekaristi kudus, roti yang diambil, dipilih, dipecah, diberkati, lalu dibagi. Itulah semangat ekaristis.

Tahun depan Gereja KAJ akan berbicara soal tahun ekaristi, kata Romo Yus tadi. Tapi saya sangat berharap ini udah bulan 2, udah berakhir, besok sudah bulan Maret. Ini di depan saya ada tanaman-tanaman sahabat-sahabat, bunga-bunga, daun-daun ini. Satu hal yang saya sangat khawatir, Bapak Uskup, tahun akan berlalu begitu cepatnya tahun ini. Jangan sampai keutuhan alam ciptaan, semangat ekologis langsung berganti, langsung diganti dengan ekaristi. Saya sangat mengharapkan, sangat menghargai bagaimana panitia secara sadar tidak menggunakan bunga-bunga potong, tetapi secara sederhana kalau Anda lihat, belajarlah dari tumbuh-tumbuhan mereka di sini. Diambil dari taman, diambil dari tukang bunga atau tukang kebun. Mereka saja punya arti. Mereka ada, mereka tumbuh untuk menghiasi panggung ini. Kita bisa belajar dari setiap makhluk. Setiap makhluk punya tujuan, punya perannya masing-masing. Ketika ekaristi, kita disadarkan akan peran itu, Saudara-saudara.

Maka dari itu, saya bersyukur hari ini karena Tuhan baik sama saya. Saya bersyukur sebagai seorang imam 20 tahun saya tidak pernah berhenti merayakan ekaristi dan itu menjadi kekuatan hidup seorang imam dan saya yakin juga menjadi kekuatan buat Anda semua.

Kita nyanyi bareng-bareng. Saya mau dengar suara Anda lebih bergema lagi di ruangan ini. “Maukah kau jadi roti yang terpecah bagi-Ku? Maukah kau jadi anggur yang tercurah bagi-Ku? Maukah kau jadi saksi membritakan Injil-Ku? Melayani, mengasihi lebih sungguh”.

Kadosh, Kadosh, Kadosh Adonai Elohim Tz’va’ot Asher hayah v’hoveh v’yavo. Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah segala kuasa. Jadilah kebenaran dalam hidup anak-anak-Mu di sini. Biarlah mereka semakin mencintai ekaristi kudus. Biarlah ekaristi bukan menjadi tontonan buat kami, tapi Engkau mampu mentransformasi hidup kami dalam nama Yesus. Tuhan Yesus memberkati!

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *