Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia (KOSDIK) II diselenggarakan di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta pada 24-26 Juni 2026. Para pemimpin pendidikan Katolik dari seluruh Indonesia berkumpul dalam kegiatan bertema “Berjalan Bersama, Membangun Harapan Pendidikan Katolik Berkelanjutan” itu. Dalam misa pembukaan konferensi, melalui homilinya, Ketua Komisi Pendidikan KWI, Mgr. Fransiskus Nipa menyoroti pentingnya melihat kembali jalannya pendidikan Katolik di Indonesia.
Berikut ini adalah homili lengkapnya.
Selamat sore semua, dan selamat datang dalam Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik di Indonesia yang kedua. Kita semua ini yang hadir ini merupakan presentasi dari insan-insan pendidikan Katolik yang ada di bumi Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Secara konkret kita menghadirkan dinamika atmosfer di lapangan yang ada di Keuskupan kita masing-masing. Tentu saja di bawah wadah yang memfasilitasi kita Komisi Pendidikan KWI, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik, Majelis Nasional Pendidikan Katolik dan Perkumpulan Pimpinan Akademika Vokasi Indonesia.
Beberapa hari kita berada di tempat ini. Ya. Kita berkorban, tidak nonton Piala Dunia. Pasti banyak dari kita ini yang ya, dan kita mempunyai unggulan untuk ke depan, siapa yang akan masuk Grand Final ya.
Baik, saya sapa kita teman-teman semua.
Tentu saja pembukaan Konferensi ini kita tempatkan dalam pesan iman, dalam rangka perayaan Gereja Universal pada hari ini, hari raya kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, secara sederhana kalau kita ambil kalimat singkat dari masing-masing bacaan tadi, dari bacaan pertama, melalui Konferensi Sinodal ini kita mau belajar pada Yesaya “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi.” Menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Kemudian dari bacaan kedua dan dari bacaan Injil, kita mau belajar pada Yohanes Pembaptis yang panggilan hidupnya satu saja yakni selalu menunjuk pada Yesus. Menunjuk pada Yesus, membawa manusia kepada Yesus, membawa insan pendidikan, membawa siswa, membawa mahasiswa kepada Yesus.
Nah, Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan, bagaimana hal itu dapat kita laksanakan secara sangat konkret khususnya dalam refleksi kita dalam Konferensi ini? Kita fokus pada bacaan Injil yang tadi kita dengarkan bersama. Kisahnya kelahiran Yohanes Pembaptis. Dikatakan oleh penginjil bahwa pada hari kedelapan, dia diberi nama Yohanes dan bukan Zakaria. Kepada Zakaria ditanyakan, anak ini akan diberikan nama apa. Lalu, dikatakan oleh penginjil, dia mengambil batu tulis dan menulisnya “Yohanes”. Dengan demikian, apa yang terjadi pada diri Zakaria dikatakan terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya. Mulut untuk memuliakan Tuhan. Sangat simbolis.
Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan, paling tidak ada dua poin yang dapat menjadi bahan permenungan kita pada misa pembukaan konferensi kita ini. Yang pertama, kelahiran Yohanes Pembaptis ditandai dengan begitu banyak keajaiban. Orang tua dari Yohanes Pembaptis sudah lansia. Sudah begitu lama tidak mempunyai anak. Kerinduan yang begitu panjang. Lalu apa yang terjadi? Dikatakan bahwa mereka dihubungi oleh malaikat Tuhan. Namun, apa yang terjadi? Zakaria, dia sulit percaya. Dia ragu-ragu. Dan dikatakan dia bisu. Berapa lama bisunya? Sepanjang dia mengandung Yohanes Pembaptis.
Secara sangat sederhana, mungkin kita dapat menghitung, 9 bulan dia berada di dalam keadaan yang bisu. Tidak bicara. Berada di dalam diam. Merenung. Menyimpan di dalam hati. Pesannya apa,Saudara-saudariku? Tuhan seringkali punya kehendak supaya di dalam hiruk pikuk kesibukan kita,khususnya di dunia pendidikan, kita diajak untuk masuk dalam masa, dalam waktu, dalam saat-saat yang sunyi. Untuk apa? Agar mendengarkan Tuhan secara lebih dalam, secara lebih kuat. Dan dalam kisah kelahiran Yohanes Pembaptis, di sanalah diberikan nama. Pemberian nama juga mempunyai dinamika tersendiri. Melawan kebiasaan yang ada pada saat itu. Ini juga barangkali seringkali menjadi pengalaman konkret kita di keuskupan masing-masing. Di lapangan, bahwa seringkali kita harus bertentangan dengan harapan banyak orang. Dan ketika berada di dalam situasi yang demikian, pasti bukanlah pengalaman yang mudah. Seringkali orang berada di dalam posisi takut untuk berbeda, takut untuk diterima, takut untuk dikritik. Dan di dalam situasi yang demikian orang tergoda untuk memilih diam, masuk dalam zona nyaman.
Zakaria dan Elizabeth berani untuk melawan arus kuat yang ada dengan dasar, dengan alasan,dengan komitmen hanya setia pada kehendak Allah. Dan buah dari semuanya itu tidak hanya bahwa Zakaria sembuh. Tetapi juga membawa berkat bagi banyak orang. Semakin banyak orang terbuka bagi karya keselamatan Allah. Itu yang pertama.
Yang kedua, tokoh besar untuk menyiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Yohanes Pembaptis. Dia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Tetapi yang nomor satu, yang pokok, yang utama adalah Mesias. Maka, seluruh hidupnya diarahkan untuk menunjuk kepada Kristus. Dan inilah yang seringkali kita saksikan dalam lukisan tangan dari Yohanes Pembaptis menunjuk ke arah Yesus,seolah-olah mau mengatakan “janganlah lihat aku, tetapi lihatlah Dia!”
Berbeda dengan pengalaman kita dari hari ke hari, khususnya di dalam dunia kita saat ini. Manusia tergoda untuk mencari perhatian, untuk mengarahkan segalanya pada diri sendiri. Maka, manusia mencari pujian, mau dikenal, mau dilihat, mau diakcui, khususnya melalui medsos sekarang ini.Pencitraan diri luar biasa. Dan di dalam situasi yang demikian, bahkan orang berani untuk melawan kebenaran. Yang penting saya hebat di mata orang lain.
Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan, kebalikan yang disaksikan oleh Yohanes Pembaptis. Dia tidak mengangkat tinggi-tinggi dirinya. Tetapi, dia turun menyiapkan hati orang banyak untuk apa, untuk siap menerima Tuhan. Dan itulah pembelajaran yang dapat kita petik. Bagaimana kita menolak ego kita. Bagaimana kita menolak kemarahan yang sering muncul dalam diri kita, kesombongan yang seringkali begitu kuat di dalam diri kita. Ada kerinduan untuk mau dilihat, untuk mau diangkat orang lain. Dalam situasi yang demikian, pastilah bukan wajah Kristus yang kita bawa, yang kita saksikan.Dalam situasi yang demikian pastilah kita tidak bermaksud untuk mendekatkan orang lain kepada Tuhan, tetapi buahnya adalah orang lain semakin jauh.
Yohanes Pembaptis mengatakan, “la harus semakin besar dan saya harus makin kecil.” Motto,semangat hidup ini memberikan ruang yang lebih besar bagi Tuhan untuk hidup di dalam kehidupan kita dari hari ke hari. Dan di sanalah, manusia akan menemukan apa artinya kehidupan yang sejati.Maka, di dalam perjuangan kita membangun pendidikan Katolik di Indonesia memang dibutuhkan keutamaan-keutamaan dasar, kerendahan hati, taat kepada Tuhan, dan siap untuk membawa orang lain mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bagaimana hal ini akan kita terjemahkan berhadapan dengan tantangan konkret dalam hari-hari konferensi kita ke depan ini, khususnya berkenaan dengan beberapa komponen, yang pertama, tata kelola. Oleh para narasumber, kita akan dibantu untuk merefleksikan hal itu: tata kelola pendidikan Katolik, tata kelola lembaga, tata kelola yayasan, tata kelola sekolah.
Yang kedua, berkenaan dengan kurikulum. Yang ketiga, berkenaan dengan SDM, personalia. Dan kemudian yang keempat, tentu saja berkenaan dengan regulasi yang ada. Regulasi pemerintah di tingkat nasional, di tingkat daerah, provinsi, kabupaten, kota.
Mari, Saudara-saudariku, kita memohon bantuan Tuhan sendiri, Roh Kudus untuk menyertai kita,untuk membimbing kita, untuk berjalan bersama dengan kita. Kita siap untuk mendengarkan suara Roh Kudus. Kita siap untuk diperbarui melalui penguatan kerasulan pendidikan Katolik di Indonesia.Tuhan memberkati.
