Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF merayakan syukur atas 25 tahbisan uskup di Gereja Santa Maria Bunda Kristus, Wedi, Klaten, 28 Juni 2026. Dalam homilinya, ia berbagi pengalaman masa kecilnya yang sangat dekat dengan Gereja dan bagaimana keluarganya menanamkan iman dan panggilan pada anak-anaknya. Berikut ini adalah homili lengkapnya.
Para Romo, Suster, Bruder, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus.
Pada kesempatan yang penuh sukacita dan menggembirakan ini, saya ingin menyampaikan rasa syukur bahwa telah 25 tahun ditahbiskan menjadi uskup di tempat di mana saya dilahirkan sekaligus menjadi paroki di mana saya berasal. Saya berasal dari Desa Pandes, Paroki Wedi. Dan kemudian entah mulai dari mana saya kemarin diminta untuk menulis dalam rangka 70 tahun pesta juga untuk Paroki Wedi ini. Maka itulah yang nanti saya sharingkan sedikit.
Ketika kita membaca teks yang menjadi pencerahan hidup beriman kita pada pagi hari ini, kita mendengar bahwa Allah sungguh-sungguh memperhatikan umat-Nya sejak zaman Perjanjian Lama. Dan kemudian Allah juga tahu segala sesuatu bahwa memang ada abdi Allah yang diutus-Nya agar apa yang dikehendaki oleh Allah bisa terjadi pada umat-Nya. Dan itulah panggilan yang terus-menerus dalam kehidupan menggereja akan selalu ada dalam bentuk yang berbeda-beda tergantung dari zaman masing-masing. Ada panggilan untuk menjadi imam, ada panggilan untuk menjadi biarawan-biarawati, dan juga tidak kalah pentingnya panggilan awam yang sungguh berkarya untuk Gereja melalui bidang kehidupan masing-masing. Dan dengan itulah sungguh-sungguh Allah berkarya melalui pelbagai cara dan memanggil semua orang untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Dan kemudian dalam bacaan yang kedua, kita juga diajak oleh Santo Paulus untuk merenungkan bagaimana kita beriman pada Kristus itu yang ketika kita dibaptis itu disatukan, diajak bersatu dalam baptisan itu dengan kematian-Nya. Dan kemudian sesudah bersatu dalam kematian-Nya itu juga diikutsertakan dalam kebangkitan-Nya. Itulah konsekuensi yang sangat masuk akal ketika diajak untuk hal-hal yang membuat kamu menderita juga tidak kalah pentingnya juga kemudian ikut mulia bahagia bersama dengan Kristus.
Kemudian dalam bacaan Injil kita mendengar bahwa kalau kita mengasihi Allah Bapa juga harus mengasihi Kristus. Dan ketika mengikuti Kristus, kita juga mengikuti apa yang pernah dilaksanakan oleh Kristus mulai dari memanggul salib-Nya dan kemudian mengikuti Yesus dan menomorsatukan atau memprioritaskan Yesus itu sendiri. Dan ternyata itu juga berdampak pada kita semua yang ketika berbuat baik kepada orang lain, bahkan saudara kita yang paling hina sekalipun itu juga dikerjakan untuk Kristus.
Itulah inti iman yang menjadi pencerahan hidup kita. Dan kemudian kalau ini saya terapkan pada kehidupan saya, saya merasa dulu menjadi anak sekolah yang di SD Murukan sesudah lulus dari TK Susteran di sini, lalu sampai di SD Kanisus itu. Yang saya sukai adalah ketika diajak oleh teman-teman untuk menjadi misdinar. Bahwa kalau menjadi misdinar itu ditanggung. Nanti kalau ada misa pesta apapun pasti dapat tempat duduk. Ndak pernah misdinar nggak dapat tempat duduk kalau pas bertugas ya. Itu yang pertama.
Yang kedua, sebenarnya untuk menjadi misdinar itu ada tempat untuk sepak bola di sebelah sana dan itu saya pandang jauh lebih baik dari tempat biasa kami anak desa di Pandes. Itu sepak bolanya menggunakan lapangan jalan di depannya. Itu berarti kalau sedang kemarau, debu-debu pun ikut main sepak bola. Kalau musim penghujan, lumpur pun juga ikut. Dan yang paling menjengkelkan kalau sebentar-sebentar ada sepeda atau sepeda motor lewat. Jadi, kami harus minggir. Itu yang saya alami. Tetapi ketika menjadi misdinar, sepak bola di seberang samping pasturan itu menjadikan saya, wah ini lebih tenang, lebih enak, dan seterusnya.
Waktu itu saya mendapat pembimbing masih Frater, Budyapranoto waktu itu. Dan kami juga diberi cerita-cerita yang menarik bahwa, “Kalau di sini sepak bolanya cuma di lapangan voli. Kalau kalian nanti masuk ke Seminari Mertoyudan, di sana itu lapangan sepak bolanya saja ada dua”. Yang satu yang bagus ukuran nasional begitulah, yang lain itu untuk anak-anak yang di depan. Sekarang sudah tidak ada lagi mungkin ya, tetapi dulu kami mendapatkan dua lapangan itu. Dan sebenarnya itu menjadi tujuan paling pokok bagi saya karena yang namanya seminari itu saya juga belum paham apa itu. Tetapi ada embel-embel bahwa di sana ada dua lapangan sepak bola yang bagus itu jauh lebih menarik daripada yang lain-lain.
Kami berdelapan ujian seminari. Salah satunya juga ada Mas Danang yang juga hadir satu angkatan itu. Kami berdelapan tes di Mertoyudan dan hanya kami berdua yang diterima.
Dan ketika sudah sampai di sana saya melihat dengan kepala sendiri, kepala, mata kepala sendiri. Wah, luar biasa lapangan kok sebagus ini ya. Rumputnya sangat halus dan seterusnya dan seterusnya. Tapi waktu itu kami sudah dipesan oleh Romo Paroki yang mengirim kami. Nanti kalau kamu ditanya, kamu masuk seminari mau apa? Sudah diberi contekannya. Nanti harus dijawab “badhe njembaraken Keraton Dalem”. Itu saya masih ingat persis. Dan kalau bisa menjawab seperti itu akan bisa lulus. Itu masih bahasa Jawa ya pada waktu itu ya.
Maka itulah yang saya hafal ke seminari itu “badhe nderek jembaraken Keraton Dalem”. Sampai sekarang saya masih nderek jembarakan Keraton Dalem sampai di Palangka (Palangkaraya, Red) ini.
Nah, kemudian seiring dengan perkembangan waktu harus kami lulus seminari itu harus memilih antara semua imam yang berkarya di Keuskupan Agung Semarang. Boleh memilih menjadi Projo Keuskupan Agung Semarang, boleh menjadi Jesuit atau SJ, boleh menjadi MSF atau kontemplatif di Rawaseneng. Itu pilihannya ada empat.
Ketika itu saya memilih begini, saya mau menjadi biarawan tetapi berkarya di paroki. Saya tidak mau menjadi projo karena saya mau menjadi biarawan itu. Ceritanya kalau projo kan harus mencari uang sendiri katanya, udah nggak laku itu ya Romo ya, zaman itu ya. Kalau biarawan katanya ditanggung oleh biaranya, katanya begitu waktu itu ya.
Lalu yang kedua, kalau imam itu tidak pakai kaul imam biara, imam diosesan. Sedangkan biarawan memang pakai kaul. Meskipun tidak ada kaul, tetapi ada janji atau semacamnya yang sebenarnya isinya sama. Hanya yang mengucapkan biarawan-biarawati itu, tapi yang melaksanakan imam diosesan katanya waktu itu begitu.
Maka yang kedua, saya tidak mau mengajar atau yang seperti maaf, Romo Yesuit itu ada sekolah Kanisius, ada perguruan tinggi. Saya ingin di paroki, berkarya di paroki. Itu tujuan saya menjadi MSF waktu itu. Nah, ketika akhirnya ditabiskan tahun 81 itu saya juga misa pertama dulu di sini juga karena ada beberapa teman yang dari sini. Kemudian ternyata saya memang ditugaskan di paroki di Balikpapan, tetapi hanya boleh satu tahun. Romo Wignyosumarto itu provinsialnya waktu itu dengan tegas mengatakan ketika tanya kepada saya, “Mo, sesudah ditahbiskan berkarya apa?” “Langsung saya jawab di paroki, Romo”. Lalu beliau dengan sangat diplomatis mengatakan, “Ya, nanti kamu berkarya di paroki.” Tetapi, nah ini, tetapinya ini, yang kurang enak ini. “Tetapi 1 tahun saja di Balikpapan, kamu harus belajar misa bahasa Inggris karena ada banyak orang bule di Balikpapan. Dan kebetulan di sana ada imam-imam OMI dari Italia dan kamu harus belajar bahasa Italia sekalian.”
Wah, saya mulai kaget, di Paroki kok disuruh belajar bahasa Italia ini. Saya mulai curiga dan hanya boleh 1 tahun saja di situ. Eh, ternyata ujung-ujungnya sesudah 1 tahun di Balikpapan ini, saya harus belajar, karena masih kurang ajar gitu ya, disuruh belajar lagi di Roma sampai lima setengah tahun. Dan akhir-akhirnya saya tidak dikembalikan ke paroki, malah disuruh mengajar frater-frater. Lah, kok terbalik dengan apa yang saya harapkan di MSF?
Ini yang saya tidak mengerti. Tuhan ini kok bisa membelokkan ke sana kemari ya. Ke Mertoyudan sebenarnya hanya mau lihat sepak bolanya. Eh, ternyata bisa lolos sampai akhirnya ke MSF. Lalu mau di paroki ternyata dibelokkan lagi untuk mengajar. Saya juga agak jengkel terus terang aja waktu itu ya. Tapi ya harus ketaatan, wong biarawan kok ndak taat, itu kan nggak baik. Akhirnya mengajar.
Tahun pertama masih perjuangan, kedua masih perjuangan. Tapi sesudah tahun ketiga itu saya sangat menikmati mengajar itu. Sudah ada yang dipakai alat-alat untuk semacam sekarang ini PowerPoint itu ya.
Nah, mengajar di Kentungan dengan para frater yang di Wisma Nazaret itu selama 12 tahun. Tetapi baru enak-enaknya mengajar lah kok dipanggil ke Kedutaan Vatikan. Itu saya mulai curiga lagi. Disuruh apalagi ini? Saya sudah taat mengajar. Jadi sekarang ini mau meneruskan mengajar sudah enak. Ternyata ada tugas baru di Palangkaraya. Kemudian Duta Besar mengatakan, “Kamu sudah 12 tahun mengajar, dari sekarang ada tugas lain untuk menjadi gembala di Keuskupan Palangkaraya.”
Saya mengatakan, “Yang Mulia Duta Besar, saya ini sebenarnya punya penyakit”. Saya sudah sakit waktu itu. “Apa?” katanya? “Saya diabetes sejak tahun 87”. “Pulang dari Roma itu saya masih diminta untuk tes kesehatan untuk menjadi dosen tetap di Kentungan itu dan ternyata saya termasuk anggota DM, Diabetes Melitus itu. Dan sampai sekarang melekat pada gelar saya, dari Roma mendapat gelar Dr, dari Elisabeth, rumah sakit, saya mendapat gelar DM, Diabetes Melitus itu. Ya, karena itu sejak tahun 87, maka nanti tahun 2027 saya akan merayakan 40 tahun diabet saya. Ya, itu harus disyukuri juga ya meskipun sudah 24 tahun, eh 40 tahun ya masih baik-baik saja. Singkat kata ketika saya harus berangkat ke Palangkaraya, saya mulai mengenal Keuskupan Palangkaraya itu seperti apa. Karena sebelumnya saya juga belum pernah tinggal di Palangkaraya. Hanya memberi, memberi apa materi untuk para imam-imam baru di Keuskupan Banjarmasin, Palangkaraya dan juga waktu itu belum ada Tanjung Selor, tapi mulai semua yang di daerah MSF itu saya memberi masukan untuk mereka.
Nah, ketika saya sudah sampai di Palangkaraya, saya mau melihat seperti apa Keuskupan Palangkaraya, kemudian berkeliling ketika memberikan krisma dan seterusnya. Tetapi yang paling menarik yang pertama adalah bahwa imamnya seluruh Keuskupan baru 26, projonya baru 5 dan luasnya Keuskupan Palangkaraya itu lebih luas dari seluruh Pulau Jawa. Itu menurut Google. Google mengatakan seluruh Pulau Jawa itu luasnya cuma 51.000 km². Sedangkan keuskupan Palangkaraya itu itu lebih dari 53.000 km², tetapi hanya ada penduduk 2,5 juta. Itu yang pertama saya ketahui.
Yang kedua, ketika saya memberkati gereja di beberapa tempat dan juga memberikan krisma, ternyata koor di seluruh Keuskupan itu baru ada satu kelompok koor di koor di katedral. Seluruh keuskupan hanya satu kelompok koor.Bisa dibayangkan. Jadi ke mana-mana saya diikuti oleh anggota koor ini lah gak ada yang lain, di paroki-paroki belum ada. Jadi kalau memberi krisma dan memberkati apa saja itu koornya ikut.
Kemudian misdinarnya juga paroki pusat dan semuanya itu masih sangat sederhana. Dalam hati saya berpikir lah di Paroki Wedi itu di lingkungan saja koornya ada dua kadang-kadang. Separoki ini ada berapa ya koornya ya? Wah banyak ya. Lah kok di sana itu hanya ada satu. Itu yang luar biasa saya ketahui waktu itu.
Kemudian memang ketika saya bertemu dengan umat itu, saya coba tanya ketika sekarang sudah ada uskupnya, apa yang kalian inginkan atau harapkan? Mulailah litani permohonan itu. Yang pertama, karena belum memiliki institut untuk mendidik calon katekis atau yang sudah ada pernah IPI Filial Malang itu dibubarkan. Maka supaya ada sekolah untuk katekis. Yang kedua, untuk membuka seminari menengah. Yang ketiga, supaya ada rumah sakit. Yang keempat, adalah supaya memiliki pom bensin sendiri. Itu macam-macam ya. Oh ya, masih satu lagi, memiliki radio untuk bisa memberikan macam-macam informasi ke pedalaman. Jadi dengan berbekal, dengan harapan itu saya mulai mengelus dada. Kok jadi seperti ini kalau menjadi uskup di sana ya? Saya pikir hanya diajak keliling untuk krisma dan pemberkatan gereja. Lah, kok harapannya segitunya. Tetapi saya harus bersyukur karena itulah saya tertantang untuk menjadikan harapan mereka menjadi sungguh-sungguh bisa terlaksana. Dan syukur kepada Allah, kecuali yang satu yang tidak saya laksanakan semua sudah ada, kecuali pom bensin. Saya tidak berminat untuk membuka pom bensin bagi keuskupan. Karena itu memang biasa di apa istilahnya, di NTT itu ada keuskupan atau tarekat yang memiliki tempat pom bensin. Tapi saya merasa menurut hukum Gereja tidak perlu. Yang lebih perlu seminari menengah, gitu ya. Nah, atas kemajuan seperti itu atau atas pemenuhan apa yang diharapkan umat, sekarang makin lama saya sudah makin kerasan di Keuskupan Palangkaraya. Terus terang saja. Lebih enak di Palangkaraya daripada di tempat lain di Jawa. Satu, jalannya masih lengang, tidak ada kemacetan.
Jawa ini di mana yang tidak ada kemacetan? Ya, saya kira di kuburan itu ndak macet semua ya atau di sawahlah. Tapi harus jalan kaki ya. Jadi sangat nyaman karena penduduknya yang lebih luas dari seluruh Pulau Jawa itu baru 2,6 juta. Nanti kalau ada yang tidak percaya silakan hitung sendiri ya. Saya baca itu hanya 2,6 juta. Jadi sangat sedikit dibanding itu.
Maka saya merasa bahwa ada beberapa keperluan berkaitan dengan iman, tetapi sekaligus kesejahteraan yang diperlukan. Dari segi iman tentu saja seperti halnya katekis dan imam yang semakin banyak akan membantu perkembangan iman dan kegiatan Gereja-gereja yang memang diperlukan.
Yang kedua, selain perkembangan iman juga harus ada perkembangan kesejahteraan yang meliputi dua segi sekurang-kurangnya. Ada segi pendidikan dan ada segi kesehatan. Dan itu yang saya usahakan bisa dilaksanakan di Keuskupan Palangkaraya, memajukan tempat pendidikan, namanya Yayasan Siswarta di beberapa kota di Palangkaraya. Ada di Pangkalan Bun, ada di Sampit, ada di Kuala Kurun. Dan yang kemudian juga penting adalah karya kesehatan. Maka sudah sekian, sudah sekitar 8 tahun, Rumah Sakit Keuskupan yang dimulai tahun 2005 itu sudah bisa berjalan dengan baik. Dan syukurlah kami dari rumah sakit itu bisa mendapatkan kesehatan dan sekaligus keuntungan juga untuk keuskupan.
Beberapa usaha ini memang kami rasakan semata-mata karena karya Allah, karena kemurahan Allah, karena kasih karunia Allah yang melimpahkan berkat untuk keuskupan. Apa yang menjadi semboyan ketika saya diangkat menjadi uskup yang berbunyi “Permanere in gratia Dei” (Tetap tinggal dalam kasih karunia Allah). Karena ketika saya datang untuk rapat pertama kali di Keuskupan itu terjadi kerusuhan antar suku yaitu suku Dayak dan Madura. Bisa dibayangkan baru mau rapat tahbisan, ada semacam kerusuhan itu. Dan ketika saya berada di katedral di lantai dua, saya melihat ke jalan raya ternyata Brimob mengejar-ngejar orang-orang yang baru keluar dari sungai yang mau demo, mengeluarkan mereka dengan tembakan-tembakan yang sungguh-sungguh. Jadi bukan film itu. Saya juga mengelus dada kok bisa-bisanya begini. Ternyata itu semacam tes atau tantangan karena ketika baru 1 tahun itu bisa reda dan baik. Sehingga tahun kedua ketika kami memulai membuka seminari, seminari itu kami namakan Seminari Menengah Raja Damai, dengan maksud supaya nanti imam-imam yang dididik melalui Seminari Menengah Raja Damai ini akan menjadikan di seluruh Kalimantan Tengah terjadi kedamaian.
Nah, itulah beberapa hal yang menyebabkan saya merasa berkarya sebagai imam, sebagai uskup itu baik. Dan ketika saya mendengar bahwa panggilan sekarang mulai berkurang, kalau zaman saya dulu masih mengirim untuk tes ke Mertoyudan itu delapan dan masih ada yang diterima dan bahkan saya tabisan tahun 81 itu kalau tidak saya salah, saya imam yang ke-28 dari paroki ini. Jadi masih bagus dan lumayan gitu ya. Nah, sekarang kalau saya harus diminta untuk bagaimana mengembangkan panggilan, khususnya untuk imam biarawan-biarawati, saya sharing bagaimana dalam keluarga kami mendapatkan pendidikan iman yang baik. Pertama, diajak aktif ke gereja seperti misdinar. Kedua, ada doa dalam keluarga bersama seluruh keluarga. Dan ketika saya masih SD, kalau sudah habis makan malam, yang lain masih bisa dolan-dolan, kami diharuskan doa malam. Dan yang paling tidak mengenakkan ketika ada Rosario bulan Mei dan bulan Oktober. Kami sebagai anak-anak kalau sudah mulai Rosario itu ya Salam Maria 1, 2, 3, 4 masih okelah. Tapi sudah sampai peristiwa yang kedua, kepala ini sudah mulai ke sana kemari dan yang paling kerap itu ke depan, begini ya. Itu sudah mulai kok ada semacam hipnotis menyebabkan doa kok malah menyebabkan ngantuk ya. Tapi ya itulah cara keluarga mendidik anak-anak yang ternyata melalui doa-doa itulah Allah mengabulkan segala yang kita perlukan. Dan oleh karena itu kalau kita mau mengaktifkan atau menumbuhkan panggilan-panggilan, mulailah kita dari keluarga itu. Usahakanlah agar anak-anak semakin mengenal apa yang menjadi harapan dan keinginan mereka dan arahkanlah kepada hal-hal yang berkaitan dengan Gereja. Kalau saya dulu lebih tertarik misdinar itu karena ada sepak bolanya. Yang lain saya tidak tahu. Kelompok milenial zaman sekarang ini kan hobinya sudah berbeda sekali. Tapi pasti ada
yang diminati dan ada yang menjadikan apa yang diminati dan disenang, senangi itu menjadi sarana untuk panggilan Allah. Tidak usah harus me apa istilahnya, menghafal dulu mau me, jembaraken Keraton Dalem. Itu gak usah sampai situ dulu. Apa saja yang bisa diminati, diarahkan untuk pengabdian Gereja, saya kira itu salah satu kunci bagaimana kita menumbuhkan iman dalam keluarga-keluarga. Memang kesulitan yang kedua adalah bahwa jumlah anak itu memang makin berkurang karena berhasilnya KB. Saya masih dari keluarga KB juga, tapi keluarga besar, bukan keluarga berencana. Dari delapan anak, saya nomor tiga dan kebetulan yang ganjil itu laki-laki, yang genap itu perempuan. Saya anak kelima jadi dapat menjadi imam. Kalau yang genap itu seharusnya bisa jadi suster, tapi belum ada. Itu sekadar sharing. Mudah-mudahan ada yang berguna, ada yang bisa diterapkan untuk kehidupan beriman dan hidup menggereja untuk kita semua.
Sekian. Tuhan memberkati.
