Keuskupan Timika memulai Lokakarya Pendidikan dengan menghadirkan berbagai para pemangku kepentingan seperti para ahli pendidikan, pelaku pendidikan, pimpinan tarekat, pastor, yayasan pendidikan, pemerintah dan korporasi. Dalam sambutannya, Uskup Timika Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA menegaskan kembali tentang filosofi pendidikan supaya kembali menjadi roh dalam penyelenggaraan pendidikan di Keuskupan Timika. Lokakarya berlangsung di Timika, 14-16 April 2026.
Berikut ini adalah petikan sambutannya.
KIta patut bersyukur dan mengucapkan pujian kepada Tuhan karena kuasa-Nya lah, karena bimbingan Roh Kudus-Nya lah, acara ini boleh terselenggara hari ini setelah persiapan 2-3 bulan lalu.
Karena bimbingan, penyertaan Tuhan menyertai kita semua, semua tamu undangan, para narasumber, tim ahli yang diundang dan juga para peserta lain yang hadir di sini. Kita menyerahkan seluruh rangkaian diskusi kita mulai hari ini sampai hari Kamis nanti dalam bimbingan dan tuntunan Roh Kristus, Roh kebangkitan agar menjiwai kita, berdiskusi, menghasilkan ide-ide bersama untuk kemajuan pendidikan di Tanah Papua dan khususnya kita di Keuskupan Timika.
Pada kesempatan ini, saya mau menyampaikan beberapa pokok pikiran tentang persoalan pendidikan serta mengajak pada semua pihak, institusi-institusi, pihak yang terkait di dunia pendidikan baik dari keuskupan maupun dari pemerintah, swasta lebih khusus PT Freeport Indonesia, dan seluruh lapisan masyarakat.
Kata pendidikan dari bahasa Yunani, paideia, yang artinya pengasuhan anak, sebagaimana diulas oleh A. Setyo Wibowo, SJ dalam bukunya Paideia: Filsafat Pendidikan Politik Platon. Namun, pengertian ini mengalami pergeseran makna pada masa perkembangan kebudayaan Helenistik dan Romawi. Maka, arti paideia pada masa ini berarti proses pendidikan nilai-nilai, keutamaan tertinggi bagi kemanusiaan. Fokus utama sistem pendidikan ini adalah penekanan pada keseimbangan dan keselarasan antara pikiran, jiwa dan roh manusia. Dalam bukunya Politeia, Platon menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah sebuah aktivitas peristrophe, yaitu proses mengarahkan kebiasaan hidup seharian kepada sumber utama sebagai landasan dan tujuan hidup manusia. Aktivitas peristrophe sekaligus mengandaikan periagoge, pedagogi, pendidikan, proses bergerak ke arah yang harus bertolak dari sumber utama, yang mendasari hidup manusia menuju kepada puncak tujuan sejati hidup manusia. Jadi menurut Platon, pendidikan sejati atau hakikat pendidikan bukan sekadar demi hidup praksis saat ini di dunia ini, melainkan suatu proses belajar terus menerus dalam perjalanan hidup di dunia ini sehingga meraih akhir hidup sebagai seorang manusia sejati.
Proses pendidikan adalah cara seseorang diajar dan belajar agar keluar dari ruang gelap yang menaunginya menuju kepada perubahan pemahaman dan kesadaran atas eksistensi dirinya sehingga ia dapat mencapai puncaknya yaitu ruang terang yang menjadi sumber dan tujuan hidup manusia. Ruang terang yang menjadi sumber dan tujuan hidup manusia adalah ide yang sejati, ide yang cemerlang dan abadi.
Selain itu kata pendidikan juga dari bahasa Latin educare, terdiri dari dua kata edere artinya memberi makan, dan ex ducere artinya menarik keluar. Dari pengertian ini, mengandung dua aspek penting dalam dunia pendidikan, memberi makan, memupuk dan merawat, menumbuhkan seorang manusia dari usia janin hingga remaja atau dewasa, latihan menumbuhkan potensi-potensi atau bakat-bakat seseorang manusia dalam upaya pendewasaan diri atau kepribadian sebagai manusia yang utuh.
Dua aspek penting dalam dunia pendidikan adalah memberi makan atau memupuk dan menumbuhkan seorang anak manusia dengan makanan ilmu pengetahuan, nilai-nilai etika moral, spiritualitas, dan sosial serta melatih seseorang anak agar telenta atau bakatnya dikembangkan sehingga menjadi berdaya guna ketika ia menuju kepada dewasa. Sedangkan sasaran utama yang harus dicapai oleh dunia pendidikan adalah kedewasaan atau kematangan seorang manusia sebagai manusia dalam proses kepribadian, kerohanian, dan intelektual serta ketrampilan.
Persoalan besar pendidikan dewasa ini
Persoalan atau problem pendidikan dewasa ini sebagaimana yang disoroti pada sebuah artikel yang ditulis oleh Dr Albertus Heriyanto, adalah seorang dosen STFT Fajar Timur dalam Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan STFT Fajar Timur, Oktober 2018, baginya persoalan utama yang menghancurkan prinsip dan tujuan pendidikan adalah ideologi ekonomi. Karena ideologi ekonomi ini lebih mendominasi sehingga menggiring sistem pendidikan untuk menjawab kebutuhan pasar kerja. Kebutuhan pasar kerja adalah hukum ekonomi yang menanamkan modal demi keuntungan yang sebesar-besarnya. Ideologi ekonomi ini melihat pendidikan bukan semata-mata demi pembentukan karakter dan pengembangan kepribadian serta martabat manusia sebagai manusia, melainkan sekadar mencetak manusia sebagai pekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dunia pasar. Bagi ideologi ini materi atau uang menjadi orientasi sistem pendidikan dewasa ini, bukannya pendidikan sebagai sekolah persemaian nilai-nilai luhur manusia.
Kurikulum pendidikan dewasa ini tidak menggodok nilai-nilai luhur manusia tersebut tetapi memuat materi-materi yang berorientasi pada dunia kerja. Karena pergeseran paradigma pendidikan ini menyebabkan kemerosotan pada tiga aspek utama yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang tidak mendapatkan perhatian yang seimbang.
Sistem pendidikan formal saat ini lebih memperhatikan aspek kognitif intelektual pengetahuan daripada aspek afektif dan psikomotorik. Bahkan lebih parah lagi bahwa aspek kognitif dikerdilkan melalui metode menghafal berbagai teori, bukan metode menguraikan, memahami, menganalisa dan memecahkan masalah. Dengan demikian disimpulkan bahwa tujuan pendidikan dewasa ini sekadar menekankan aspek teknis yang mengarah kepada tujuan pragmatis ekonomis, bukan tujuan pendidikan yang sebenarnya atau yang sesungguhnya. Karena tujuan hakiki sebuah sistem pendidikan adalah mengajar, mendidik, metodik didaktik para murid agar mampu mengembangkan aspek potensi diri, bakat kemampuan dan kepribadian yang utuh sebagai manusia. Sistem pendidikan formal dewasa ini cenderung menjadikan subjek didik sebagai objek atau alat untuk memenuhi ambisi-ambisi kepentingan ideologi politik, ekonomi dan politik kekuasaan. Salah satu ideologi yang membunuh roh pendidikan sejati adalah ideologi ekonomi konsumtif, konsumerisme, hedonisme, dan materialisme. Ideologi ini mendominasi dengan ideologi politik kekuasaan. Sistem pendidikan yang menjadikan anak didik sebagai objek pendidikan oleh Paulo Freire menyebutnya banking education system. Sistem pendidikan bank adalah sebuah sistem pendidikan yang mematikan kreativitas dan inovasi peserta didik karena metode yang digunakan oleh pengajar adalah mendiktekan sejumlah rumusan-rumusan ajaran atau dogma agama dan ilmu pengetahuan lainnya yang out of death alias tidak relevan dengan situasi, kondisi dan konteks sosial budaya subjek didik.
Persoalan berikut dunia pendidikan dewasa ini adalah institusi pendidikan yang dijadikan tempat untuk berburu status sosial, yang dilabelkan dengan berbagai macam gelar akademis, berbagai gelar akademis yang diperoleh di berbagai perguruan tinggi. Tidak melalui proses studi yang valid. Proses yang ditempuh dengan menggunakan logika pasar. Jual beli gelar dan ijazah. Berbagai perguruan tinggi menjual programnya kepada siapa saja untuk dibelinya dengan uang sehingga gelar yang diperolehnya adalah gelar belian, bukan karena hasil studi yang valid dan bermutu. Oleh sebab itu outputnya adalah akhirnya pemimpin-pemimpin yang tidak berkualitas leadership-nya, sangat rendah dan kemampuan daya kritis pun minim. Dr Arbertus Heryanto menyebut mentalitas status sosial ini dengan istilah penyakit kepegawaian. Yang dimaksud penyakit kepegawaian adalah orang yang merindukan untuk bisa sekolah agar bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai, sebagai pegawai negeri. Sedangkan Romo Mangun, Romo Mudji Sutrisno menyebutnya menjadi pejabat atau masuk struktur birokrasi. Karena demi jabatan dan demi birokrasi ini maka pegawai ramai-ramai mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh berbagai perguruan tinggi melalui pendekatan logika pasar yaitu menjual dan membeli gelar dan ijazah dengan pangkat S1, S2, S3 dan seterusnya. Para mahasiswa yang notabene pegawai negeri PNS mengikuti pengajaran melalui materi-materi yang disajikan secara tidak ideal, tidak memenuhi prosedur dan kriteria sistem pendidikan dan pengajaran yang benar. Metode pendidikan menyangkut kepegawaian ini mengkerdilkan visi dan misi pendidikan yang sesungguhnya.
Persoalan mendasar dan sedang dihadapi oleh sekolah-sekolah Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) di seluruh wilayah Keuskupan Timika adalah merosotnya mutu atau kualitas pendidikan yang dilihat dari mutu dan kualitas output anak didik. Selain mutu output anak didik juga minimnya mutu dan kualitas guru, para pendidik serta minimnya kualitas sarana prasarana pendukung proses pendidikan ini. Selain itu juga faktor manajemen yayasan yang kurang baik, kurang memadai sehingga tidak mendukung pihak dan juga pihak orang tua yang tidak mendukung anak didiknya secara maksimal untuk mengikuti pendidikan dan juga faktor pengaruh negatif lingkungan sosial yang ikut merusak pengembangan mentalitas bagi anak didik baik di wilayah Keuskupan Timika ini maupun di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah.
Demikian juga persoalan berikut yang dihadapi oleh Keuskupan, khususnya YPPK adalah persoalan macetnya pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah-wilayah konflik seperti di Intan Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan seterusnya. Karena konflik bersenjata ini menyebabkan pengungsian internal, displace person. Karena itu dapat dikatakan bahwa kita Gereja dan pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat kehilangan generasi (lost generation) yang tidak mengenyam pendidikan dengan baik dan bermutu. Demikian juga halnya dengan persoalan pendidikan di wilayah pesisir seperti wilayah masyarakat Kamoro dan sekitarnya, ratusan bahkan ribuan anak-anak usia sekolah, baik di wilayah konlfik maupun di pesisir tidak bisa mengenyam pendidikan yang memadai. Hal ini sangat menyedihkan hati kita semua. Pertanyaannya apa yang kita semua harus lakukan untuk mengatasi krisis ini? Apakah kita diam saja? Atau kita abaikan saja, bersikap masa bodoh sajakah kita? Dasar pendidikan pada dasarnya manusia tercipta, lahir, hidup dan berkembang melalui pendidikan sejak manusia diciptakan oleh Sang Pencipta sekaligus dididik oleh Sang Pencipta dan dipercayakan sistem pendidikan dan pengajaran ini kepada manusia untuk mengembangkan dirinya. Dasar ini oleh Romo Darminta SJ menyebutnya akar dan sayap. Yang dimaksud dengan akar adalah nilai-nilai yang dididik dalam sebuah sistem pendidikan yang benar. Sedangkan sayap adalah dimensi kebebasan manusia yang dimiliki oleh setiap manusia sejak ia dilahirkan. Maka, yang mendasari suatu sistem pendidikan baik pendidikan informal, formal maupun pendidikan nonformal adalah pendidikan nilai yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran, pembentukan karakter dan kepribadian manusia. Inilah pada dasarnya nilai-nilai dasarnya memiliki karakter hierarkis atau piramida nilai material, psikologis, sosial, intelektual, spiritual, rohani. Dengan kata lain nilai dimulai dari yang manusiawi menuju kepada yang ilahi, menuju kepada yang kekal.
Dasar pendidikan sebagaimana dijelaskan terdahulu merupakan implementasi dan perwujudan cita-cita, perwujudan dari cinta kasih kita sebagai manusia yang diciptakan, manusia kepada manusia, dan manusia kepada Sang Pencipta. Karena hakikat Allah adalah cinta itu sendiri, maka wujud pendidikan adalah perwujudan cinta yang benar. Cinta kepada sesama, cinta kepada alam, dan cinta kepada Tuhan Sang Pencipta, melalui dunia pendidikan. Maka, menjadi pendidik atau guru adalah panggilan cinta untuk mencintai anak-anak didik, bukan menjadikan anak didik sebagai objek pengajaran.
Prinsip-prinsip pendidikan
Ada dua aspek yang diuraikan dari asal kata sebagaimana dijelaskan tadi dapat disampaikan dan diterima oleh anak didik, subjek didik, maka diperlukan berbagai prinsip dasar pendidikan. Pertama, prinsip metodik didaktik, yaitu prinsip yang menghubungkan dengan metode mengajar atau metode mendidik. Metode mengajar adalah jalan yang harus dipakai dan dilalui agar anak didik dapat memahami atau mengerti dan menghayati isi materi pengajaran dan nilai-nilai yang disampaikan oleh para pendidik atau para guru. Menurut Romo Mangunwijaya, tugas utama guru atau pendidik adalah mengenali potensi dan bakat anak-anak, mengarahkan dan mendampingi proses perkembangan bakat tersebut dan menemukan potensi, menemukan metode-metode yang tepat agar anak didik mampu mengeksplorasi bakat-bakatnya secara kreatif demi perkembangan yang integral. Berkaitan soal bakat, Romo Mangun membagikannya ke dalam tujuh potensi atau bakat yang menjadi modal dasar setiap anak yang digali dan dikembangkan. Pertama, karakter. Karakter di sini berkaitan dengan potensi nilai-nilai religiositas seperti sikap ketakwaan, mental, spiritual, etika, moral pada diri anak.
Yang kedua, adalah bakat atau modal bahasa. Yaitu bakat ekspresi diri dalam berkomunikasi, berintegrasi baik secara tertulis maupun lisan dan kemampuan membaca.
Ketiga, bakat atau modal anak dalam hal identitas dan orientasi diri meliputi pengenalan terhadap lingkungan keluarga, masyarakat serta ketertarikan pribadi yang khas dan cita-cita hidupnya.
Keempat, adalah bakat atau modal logika dasar dan kemampuan berfikir secara logis.
Kelima, adalah bakat atau modal pengenalan terhadap perkakas atau persoalan alat-alat dalam kehidupan sehari-hari.
Keenam, adalah bakat atau modal kemampuan bekerja sama dalam tim dan berorganisasi.
Ketujuh, adalah bakat dan modal kinestetik adalah bakat atau minat olah raga dan mengenal norma-norma kehidupan.
Prinsip komunikasi dan relasi yang berhubungan dengan cara berkomunikasi dan cara berelasi dengan anak didik dan prinsip ini berkaitan dengan dialog percakapan, tanya jawab, sharing serta narasi-narasi yang disampaikan oleh pengajar kepada anak. Prinsip mengenal dunia psikologis dan dunia mental anak didik. Prinsip yang berhubungan dengan dunia mentalitas anak didik, latar belakang keluarga, latar belakang budaya, latar belakang sosial dan seterusnya.
Prinsip visi, berhubungan dengan cara pandang tentang masa depan anak didik. Seorang anak didik tidak sekedar dididik, diajarkan kebenaran-kebenaran saja, sejumlah ilmu pengetahuan dan nilai-nilai hidup manusia, tapi juga dia mendidik anak itu sesuai dengan visi yang dimiliki oleh anak bersangkutan. Visi misi selaras dengan bakat atau talenta yang dimiliki oleh anak dengan karakteristiknya yang ditemukan dalam diri anak tersebut. Visi ini berkaitan dengan tujuan akhir yang hendak dicapai oleh seorang pendidik bersama subjek pendidik atau para guru dan anak murid. Tentang hal ini, Romo Mangun menegaskan kita harus berhasil membina jiwa yang eksploratif, yang selalu bernafsu ingin mencari, ingin menambah pengetahuan, dinamis, tidak berhenti, pendidikan kita harus diarahkan agar mitra didik siswa sadar bahwa pertanyaan yang dapat diajukan lebih penting daripada seribu jawaban atas pertanyaan yang ada. Tapi sebelum tentu tepat bagi mereka, mendidik anak-anak untuk bertanya adalah lebih penting daripada menjawab pertanyaan. Selain visi itu berhubungan dengan tujuan tetapi juga berhubungan dengan motivasi yang dimiliki oleh anak didik maupun oleh pihak pendidik. Prinsip ketegasan dan hukuman sebagai metode psikologis pembentukan kesadaran atas diri, atas nilai-nilai yang diajarkan.
Tujuan pendidikan
Menurut Plato terdapat dua tujuan utama pendidikan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu lewat pendidikan sebuah negara melestarikan dirinya, mewariskan kebudayaan yang dimilikinya supaya generasi mendatang bisa survive atau melebihi generasi pendahulunya. Maka model pendidikan yang ditawarkan adalah model pendidikan kader atau sekolah kader. Sedangkan tujuan khususnya adalah mendidik dan membentuk karakter atau watak generasi penerus supaya menjadi manusia sejati, karena memiliki kesadaran moral yang tinggi dan kemampuan akal budi atau intelektual yang berdaya kritis, analitis, kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab. Plato menyebut manusia sejati yang dibentuk melalui sistem pendidikan yang benar yaitu manusia utama, yang mampu membangun masyarakat dan negara dengan baik dan bertanggungjawab.
Ide Plato ini dipertegas lagi oleh Romo Mangun bahwa mengajar dan mendidik berarti membina dan mengembangka jiwa bereksplorasi, mendorong kemampuan berkreasi yakni kemampuan menemukan ide-ide, menciptakan karya-karya inovatif dan menjelajah wilayah-wilayah yang lebih baru dengan tahap menghargai warisan budaya dan tradisi. Kemampuan menghargai warisan budaya dan tradisi serta mengembangkan hal-hal baru adalah jiwa harmoni atau integral. Manusia integral adalah pribadi yang memiliki kesadaran (self consciousness) dan kemampuan (powerness), meyakini dan menghargai kebinekaan multidimensional kehidupan, pandangan, kemungkinan, keyakinan , keterkaitan, kenyataan beragam dalam kehidupan sehari-hari. Dapat simpulkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya demi kepentingan diri sendiri, kepentingan ekonomi semata, melainkan juga demi pertahanan dan memperjuangkan nilai-nilai dasar hidup manusia secara kolektif dan menyeluruh. Maka, melalui sistem pendidikan yang baik dan benar, dapat mendidik subjek didik atas nilai-nilai kemanusiaan, membentuk karakter dan kepribadian yang utuh sehingga kelak anak-anak didik dapat menjadi manusia yang berkepribadian, yang handal, berpikir yang kritis, berani dan bertanggung jawab.
Peran para pendidik
Prinsip utama keberadaan seorang pendidik atau guru bukanlah penentu masa depan anak didik, juga bukan orang yang tahu segala-galanya, melainkan mendidik sebagai pendidik atau guru adalah fasilitator, motivator, penunjuk arah, serta pembimbing anak didiknya, bukan sekadar mengajar.
Menurut Romo Mangunwijaya, tanggungjawab utama seorang guru atau pendidik adalah menggali dan memekarkan bakat atau modal potensi khas yang ada di dalam diri anak didik. Maka, tugas utama seorang pendidik bukannya mengajarkan banyak ilmu pengetahuan pada anak didik melainkan mengenal dan menggali potensi atau bakat-bakat yang dimiliki setiap anak didiknya.
Dan selanjutnya guru memberikan motivasi dan mengarahkan anak didik agar mengembangkan bakat atau modal potensi yang ada pada diri anak. Sebagaimana gagasan Plato tentang metodologi pendidikan, yang tepat bagi anak-anak usia dini termasuk anak-anak usia sekolah dasar SD adalah mengembangkan pendidikan kepekaan. Artinya mengembangkan aspek afektif, emosional, psikomotorik, gerak, kreativitas. Dan oleh karena itu tugas utama seorang pendidik atau guru adalah menggarami dan membangkitkan, mengembangkan potensi atau bakat dan modal yang sudah dimiliki seorang anak. Maka diupayakan kurikulum yang tepat. Guru perlu memiliki sikap rendah hati untuk belajar terus menerus mengenai anak didiknya. Para guru perlu sabar, tabah dengan terus mencari metode-metode dan cara-cara yang tepat untuk mengenali dan mengembangkan modal dasar atau bakat-bakat yang dimiliki oleh seorang anak, anak didiknya. Selain peran krusial yang dimiliki oleh para pendidik sebagaimana dijelaskan di atas, peran lain yang tidak kalah pentingnya adalah sikap, komitmen, pengorbanan diri seorang guru dan kesetiaan. Dengan kata lain, teladan hidup seorang guru yang memperlakukan anak didik dengan penuh cinta dan kasih sayang menjadi modal utama dalam membimbing dan mendidik anak-anak didiknya. Keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak didiknya bukan terletak pada kemampuan anak menjawab semua pertanyaan yang disajikan, melainkan keberhasilan itu terletak pada kemampuan seorang anak didik mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki oleh murid serta kemampuan guru membuat anak didiknya menjadi heran dan kagum terhadap apa yang ditemukan di dalam dirinya, kemudian mampu mengajukan berbagai pertanyaan yang dicari dan ditemukan jawabannya sendiri.
Tujuan lokakarya pendidikan ini, pertama, melalui lokakarya ini keuskupan dan khususnya Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) mendapatkan insight, masukan, sharing pengalaman dari berbagai pihak baik pihak yayasan pendidikan Katolik lainnya baik yang ada di tanah Papua maupun di luar tanah Papua maupun pihak-pihak terkait di dunia pendidikan sehingga memotivasi keuskupan secara khusus YPPK dan pihak pelaksana pendidikan guna memajukan visi dan misi pendidikan YPPK Keuskupan Timika yang lebih maju sesuai dengan tuntutan zaman.
Dua, diperlukannya suatu evaluasi yang menyeluruh terhadap sistem pendidikan yang dijalankan oleh semua pihak terlebih khusus pihak Keuskupan Timika, dalam hal ini Yayasan Pendidikan dan juga pihak pelaksana pendidikan, persekolahan Katolik yang ada di seluruh wilayah Keuskupan Timika.
Ketiga, setelah mengevaluasi, sharing dan mendengarkan semua masukan diperlukan penataan, perbaikan dan pembaharuan sistem yayasan dan pihak pelaksana pendidikan Katolik di seluruh wilayah Keuskupan Timika agar visi dan misi YPPK ini dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan harapan dan impian kita semua.
Keempat, menandaskan hasil rekomendasi tim ahli dapat dijadikan bahan acuan dan referensi baik keuskupan dan YPPK serta pihak pelaksana untuk menyusun suatu grand design pengembangan pendidikan di seluruh wilayah keusskupan Timika. Grand design ini mencakup langkah-langkah strategis yang diambil berupa kebijakan-kebijakan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang tepat dan berguna demi memajukan pendidikan bagi anak-anak kita dan masa depan negeri ini.
Kelima, melalui lokakarya ini diharapkan dapat menghasilkan pengertian, kesepahaman antara para pemangku kebijakan dan pelaku pendidikan seperti pemerintah daerah baik provinsi, kabupaten-kabupaten, pihak swasta, perusahaan PT Freeport dan semua lapisan masyarakat bersama yayasan-yayasan khususnya yang berbendera Katolik agar membangun suatu sinergi dan kerja sama melalui suatu nota kesepakatan bersama berupa memorandum of understanding atau MOU untuk mengatur tentang hal-hal baik soal pendanaan, fund rising, beasiswa, pendidikan, mutu guru, persoalan manajemen serta infrastruktur lainnya. Dengan kerja sama ini diharapkan dapat menunjukkan kemajuan pendidikan bagi anak-anak kita dan masa depan masyarakat kita di wilayah Provinsi Papua tengah ini, khususnya wilayah kita, keuskupan Timika yang kita cintai ini.
Demikian, Tuhan Yesus memberkati kita semua.
