Hari ini kita memperingati 1 orang kudus, yaitu St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja. Dia lahir tahun 540 di Roma dari keluarga kaya raya. Ibunya dihormari sebagai orang kudus.
Pada usia 33 tahun dia menjadi prefek kota Roma. Jabatan politik itu, dia tinggalkan karena dia bertekad hidup membiara. Dia dipilih sebagai Abas tahun 586, dan berjuang untuk membebaskan kaum budak. Tahun 590 dia dipilih menjadi Paus, dan berjuang untuk membebaskan kaum miskin dan budak. Sebagai Paus beliau menyebut diri “hamba dari para hamba Allah”. Karena tulisan-tulisannya yang berbobot, beliau diberi gelar Pujangga Gereja. Beliau wafat tahun 604.
Melalui 2Kor 4: 1-2.5-7 Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
Lukas dalam injilnya (Luk 22: 24-30) mewartakan: Ketika itu, terjadilah pertengkaran di antara para murid Yesus, tentang siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja para bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut para pelindung. Sedangkan kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
Siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Meski demikian, Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan. Kamulah yang tetap tinggal bersama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku. Bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi dua belas suku Israel.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, sebagaimana Paulus bertindak tulus dan terbuka bahwa dia menerima tugas pelayanan itu dari Allah sehingga hidupnya dibaktikan untuk melayani sesama, demikian pula Paus Gregorius. Dia membela kaum miskin dan budak. Hendaknya kita pun bertekad untuk menolong mereka yang miskin dan tidak berdaya dengan rela hati.
Dua, meski Yesus adalah Anak Allah, tokh menyamakan diri-Nya dengan para pelayan melalui tindakan-Nya yang mudah disapa, tidak menuntut upah, mau jalan kaki bersama para murid-Nya, bahkan mencuci kaki para murid-Nya. Tindakan itu ternyata tidak merendahkan martabat-Nya.
Hendaknya kita sadar bahwa meski hadir di antara orang miskin, makan seadanya, berpakaian biasa-biasa, mencuci piring, membersihkan halaman rumah, tidak menurunkan nilai martabat kita. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
