Hari ini kita memperingati 1 orang kudus: St. Bonaventura. Dia lahir di Italia tahun 1218, dan ketika masih kecil diberi nama oleh Fransiskus Asisi: Bonaventura, yang artinya: betapa baik kejadian ini. Dia kemudian bergabung denga Ordo St. Fransiskus. Oleh ordonya, dia diutus untuk belajar filsafat dan teologi.
Karena kecerdasan dan kebijaksanaannya, dia dipilih menjadi minister jendral selama 9 kali berturut-turut. Ia berjasa dalam mengatasi perpecahan ordonya dan memperbaiki kebiasaan yang salah dari para anggotanya. Kemudian dia dipilih menjadi uskup di Albano dan Kardinal. Dia meninggal ketika menghadiri konsili di Lyon – Perancis.
Melalui Ef 3: 14-19, Paulus menyapa umatnya: Saudara-saudara, aku sujud kepada Bapa, Pokok dari semua keturunan di sorga dan di atas bumi. Aku berdoa supaya menurut kekayaan kemuliaan-Nya, Ia menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Aku berdoa, supaya kamu bersama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Matius dalam injilnya (Mat 23: 8-12) mewartakan sabda Yesus kepada orang banyak: “Janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Bonaventura telah menggunakan karunia yang diterimanya (kecerdasan dan kebijaksanaan) serta doanya untuk menjaga kesatuan saudara-saudara se-ordonya, memperbaiki tindakan yang keliru dari para anggotanya, dan menggembalakan domba-domba yang dipercayakan kepadanya.
Dia mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengertian dan menterjemahkannya agar banyak orang membalas kasih dan karunia Allah yang mereka terima. Hendaknya kita pun demikian, karunia yang kita terima juga dibagikan kepada sesama agar mereka percaya bahwa Allah hadir dan mengasihi mereka.
Dua, dengan jelas Yesus melarang para murid-Nya dan orang banyak untuk menyebut seseorang sebagai rabi, bapa, atau pemimpin. Mungkin sekali mereka yang disebut rabi “tidak jarang menjadi provokator bagi umat sehingga mereka menyembah berhala. Yang disebut bapa/pemimpin menjadi orang yang gila hormat, otoriter dan berbuat tidak adil.
Maka Yesus menegur sikap yang demikian itu, dan menampilkan sosok pelayan/hamba yang setia dan rendah hati dalam mengabdi sesama. Hendaknya kita pun tergugah untuk bersikap seperti hamba yang siap melayani dengan setia dan gembira hati. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
