Rayakan HPS, Paroki Wedi Kobarkan Semangat Ngopéni-Lestari

Pagi mulai hangat. Umat mulai berdatangan ke Gereja Santa Maria Bunda Kristus (SMBK) Wedi, Minggu, 18 Oktober 2026. Sebagian dari mereka membawa alat-alat kerja seperti cangkul, sabit, parang, garpu, dan caping. Bahkan sehari sebelumnya telah ada satu unit traktor pertanian di halaman gereja yang akan dimintakan berkat. Alexius Andoyo pagi itu datang dengan kendaraan roda tiganya yang sehari-hari dipakai untuk bekerja di sawah. Di kendaraan itu beberapa perkakas pertanian seperti penyedot air dan semprotan turut diangkutnya. Semua alat pertanian itu akan dimintakan berkat pada Misa Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 itu.

Sementara itu, beberapa umat di antaranya juga hadir bersama binatang peliharaannya seperti anjing, burung, kura-kura, dan ayam. Mereka tergerak untuk memintakan berkat pada misa bertema “Ngopéni-Lestari” tersebut.

Dalam homili misa Sabtu sore, 17 Oktober 2026, Pastor Paroki SMBK, Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr menyampaikan, Hari Pangan Sedunia menjadi semangat untuk mengupayakan ketahanan pangan, mensyukuri rahmat Tuhan, dan juga berbagi berkat kepada sesama. Tema HPS 2026 adalah “Sinodalitas: Mendengarkan Suara Bumi dan Penghuninya”. Menurutnya, tema tersebut mengungkapkan pandangan Gereja bahwa bumi adalah saudara kita yang bisa bersuara. “Kita diajak untuk juga mendengarnya!” kata Romo Edy. Dalam kesempatan itu, Romo Edy mengajak supaya yang didengar tidak hanya rintihan atau tangisan bumi dan penghuninya.

“Banyak referensi yang diungkapkan tentang tangisan dan rintihan bumi dan penghuninya. Tetapi bagaimana kita mengupayakan juga ada sukacita yang kemudian menghadirkan suatu produktivitas sehingga kita bisa bersyukur bersama dengan saudara-saudari kita dengan berbagi,” ungkapnya.

Romo Edy berpesan salah satu cara yang bisa dilakukan dalam merayakan HPS adalah menghidupi semangat memelihara, ngopeni. Semangat ini bisa dikenalkan sejak anak-anak. Anak-anak diajak untuk memelihara, misalnya memelihara tanaman. “Tolong anak-anak itu tidak hanya diajari methik, memanen, tetapi juga diajari untuk menanam dan merawat. Ini menurut saya salah satu upaya mendengarkan dan juga berkomunikasi dengan bumi itu, ngopéni,” katanya.

Berkomunikasi atau mendengarkan bumi dan penghuninya, menurutnya sangat penting.  “Itu perlu ada juga semangat dan juga gerakan untuk memelihara, untuk juga melestarikan, bukan hanya memanen dan rampung,” ungkapnya.

Ia pun menceritakan beberapa upayanya dalam menanam dan merawat tanaman bersama para relawan di gereja. Meski beberapa kali mengalami kendala, karena terus berjuang, toh akhirnya bisa tumbuh dengan baik. Salah satunya adalah tanaman padi yang ditanam dalam media  galon bekas air mineral. Belajar dari hal itu, ia melihat semangat merawat dan mendengarkan bumi adalah perjuangan dan niat yang besar.

Ia pun menyinggung tentang sampah. Menyikapi sampah, menurutnya, tidak hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Hal itu mesti diimbangi dengan upaya memilah sampah dan mengelolanya. Misalnya yang anorganik dikumpulkan dan digunakan kembali sebagai pakan ternak. “Ini juga butuh kesadaran,” ungkapnya.

Di Paroki Wedi, menurutnya, mendengarkan bumi itu mau dihidupi dengan semangat memelihara atau ngopéni. Maka, tema yang diangkat pada Misa HPS di Paroki Wedi adalah “Ngopéni-Lestari”. “Semangat memelihara dan juga ada keberlanjutannya,” katanya.

Pemberkatan Hewan Peliharaaan

Mendengarkan bumi, lanjutnya, menjadi panggilan bersama. “Tidak hanya petani, tetapi semua saja. Di rumah itu pasti ana lemahé. Ada space, ruang yang bisa kita manfaatkan dan kita maksimalkan. Bagaimana budaya memelihara, ngopéni, dan juga lestari ini kita upayakan,” katanya.

Romo Edy pun bercerita, baru-baru ini, ia menanam bawang merah dengan media polibag di kebun pastoran. Tidak mudah. “Butuh kerelaan, butuh niat yang sungguh untuk mewujudkan ngopéni dan lestari,” katanya.

Maka, ia mengajak umat untuk mohon rahmat Tuhan agar yang diserukan Gereja tersebut sungguh juga menjadi semangat kita untuk ngopéni. “Terlebih juga dalam Injil kita diajak menempatkan diri kita. Apa yang harus kita berikan pada Tuhan, ya, kita berikan pada Tuhan. Ngajéni, menghormati, bekti, itu juga wujud kita itu memberikan hak Allah. Dan juga kita ikut memperjuangkan kesejahteraan bersama itu juga kita memberikan hak pada kaisar atau negara yang mengupayakan untuk kesejahteraan bersama. Semoga apa yang kita sadari ini semakin bisa kita wujudkan. Kita mulai dari sekitar rumah kita,” harapnya.

Tak hanya misa dan pemberkatan hewan, tanaman dan alat kerja, panitia juga menyelenggarakan expo. Dalam expo tersebut panitia menghadirkan kelompok-kelompok dan individu yang selama ini sudah menghidupi gerakan merawat seperti Ngudi Kompos, Kelompok Petani Brambang, Peternak Kambing, Peternak Bebek Petelur, Paguyuban Dekorasi dan Tata Rias Altar (DiTA), Timpel Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup (KCLH), Kelompok Penggemar Burung, dan Kelompok Pertanian Terpadu Panjurung Pawon.

Kepada INSPIRASI di lokasi expo, Romo Edy menyampaikan,  gerakan memelihara dan melestarikan dilakukan tidak hanya supaya generasi sekarang menikmati tetapi juga generasi mendatang. “Semoga menjadi gerakan kita mendengarkan suara bumi dan penghuninya yaitu suara yang kreatif produktif kita sebagai pujian syukur pada Tuhan,” ungkapnya.

Dalam perayaan HPS, panitia juga menggelar lomba konten video yang merekam kegiatan kelompok-kelompok yang bergerak dalam upaya merawat dan melestarikan ciptaan. Diharapkan dari kisah mereka, muncul inisiatif dari umat untuk turut merawat ciptaan.

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *