Renungan Harian 11 Oktober 2026

Minggu, 11 Oktober 2026

Hari Minggu Biasa XVIII

Bacaan I          : Yes. 25:6-10a

Bacaan II        : Flp. 4:12-14,19-20

Bacaan Injil     : Mat. 22:1-14 (panjang) atau Mat. 22:1-10 (singkat)

Menanggapi Undangan Pesta Keselamatan

Bagaimana rasanya jika kita diundang untuk pesta? Mungkin ada yang merasa senang, terharu, bingung, menolak, atau terbebani. Pada umumnya orang senang jika berpesta, karena bisa makan enak dan bertemu dengan kawan-kawannya.

Tidak demikian dengan orang-orang yang diundang dalam perumpamaan Kerajaan Surga pada hari ini. Dalam Injil hari ini Sang Raja menyampaikan undangan sampai 3 kali. Mereka tidak datang dan menolak dengan aneka alasan. Ada yang sibuk kerja di ladang, mengurus usahanya, bahkan ada yang menangkap utusan sang raja dan menyiksa lalu membunuhnya.

Kita disadarkan bahwa panggilan Allah disampaikan kepada semua orang yang dipanggil. Setiap orang yang mendengarkan firman Allah, yang mendengarkan undangan Yesus untuk datang kepada-Nya adalah orang yang telah dipanggil.

Ada tiga macam tanggapan terhadap panggilan-Nya ini, yaitu: Pertama, mereka yang telah diundang, tetapi menolaknya. Sebagai contoh, jika sekarang ini orang telah mendengarkan Injil, tetapi menolak undangan Kristus untuk datang pada-Nya dan meminum air hidup, saat ini orang itu tergolong orang semacam ini —orang yang telah diundang, tetapi langsung menolaknya. Alasan mengapa orang menolak undangan itu tidaklah penting. Yang jelas orang itu telah menolaknya.

Kedua, ada orang-orang yang telah menerima undangan itu dan mereka memenuhinya. Mereka adalah orang-orang yang hadir di dalam pesta perkawinan itu. Ketiga, orang-orang yang telah diundang dan hadir ke dalam pesta perjamuan itu, tetapi mereka kemudian dilemparkan keluar karena tidak memenuhi syarat, alasannya adalah karena mereka tidak mengenakan pakaian pesta. Kita termasuk di dalam kategori yang mana?

Setiap tamu undangan tidak bisa masuk tanpa mengenakan pakaian pesta. Pakaian pesta tersebut sudah disediakan baginya saat ia memasuki tempat pesta itu. Pada zaman itu, sebuah pakaian pesta tentu sudah disediakan baginya. Sudah merupakan tradisi pada zaman itu untuk menyediakan pakaian pesta bagi undangan yang tidak mampu untuk membelinya. Sebagai contoh, di Kejadian 45:22 dan Hakim-hakim 14:12, kita diberitahu bahwa para tamu diberi pakaian pesta.

Namun, dengan alasan yang tidak dijelaskan, ia kemudian memutuskan untuk menanggalkan pakaian pestanya, mungkin karena ia merasa kepanasan; atau karena kecerobohannya ia telah mengotori pakaian itu. Ketika pakaian itu menjadi kotor, mungkin ia malu untuk mengenakannya terus.

Tamu undangan ini tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut (ayat 12). Jika ia punya alasan yang baik, tentu ia akan memberi jawaban. Sebagai contoh, ia bisa saja berkata, “Tuan, saya tahu bahwa yang saya kenakan ini bukanlah pakaian pesta, tetapi saya tidak mampu untuk membeli pakaian pesta. Ini adalah pakaian terbaik yang saya miliki. Maafkan saya.” Di dalam terang pengajaran Yesus, yang selalu mengarahkan simpatinya terhadap orang-orang miskin, saya yakin bahwa Tuhan pasti akan memaafkannya. Fakta bahwa ia hanya diam saja menunjukkan bahwa ia tahu bahwa ia tidak memiliki alasan yang bisa diterima.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana sikap kita terhadap undangan Tuhan untuk melayani sesama?#

Yohanes Gunawan, Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli – Semarang

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *