Renungan Harian 12 Juli 2026

Minggu, 12 Juli 2026

Hari Minggu Biasa XV

Bacaan I          : Yes. 55:10-11

Bacaan II        : Rm. 8:18-23

Bacaan Injil     : Mat. 13:1-23 (panjang) atau Mat. 13:1-9 (singkat)

Menabur Benih Kebaikan

Bacaan Injil pada hari Minggu Biasa ke-15 ini mengisahkan pengajaran Tuhan Yesus kepada orang banyak dan para murid mengenai perumpamaan seorang penabur (Italia: Parabola del Seminatore). Teks yang kita renungkan saat ini ditulis oleh Santo Matius. Ada teks yang paralel dalam dua Injil Sinoptik yang lain terkait dengan perumpamaan Seorang Penabur, yaitu Injil Markus dan Lukas.

Dalam Injil Markus 4:13, misalnya, ditegaskan bahwa perumpamaan ini adalah perumpamaan fondasi atau dasar karena Yesus berkata, “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?”

Apa yang dibicarakan di dalam perumpamaan ini? Yesus berbicara tentang seorang penabur yang sedang menaburkan benih. Ini adalah gambaran yang sangat umum di daerah-daerah pertanian. Benih itu jatuh di beberapa tempat yang berbeda-beda: di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik atau subur.

Benih itu adalah Firman Allah. Orang yang mewartakan Firman Allah adalah penaburnya. Setiap kali Anda memberi kesaksian demi Kristus atau mewartakan Firman Allah, maka Anda sedang menabur benih.

Penabur yang pertama adalah Yesus sendiri. Namun sesudah itu, kita semua yang mewartakan Injil adalah penabur. Itu sebabnya para murid juga disebut sebagai penabur benih. Tugas mereka adalah menabur benih. Tugas kita semua di zaman modern ini juga menabur benih. Benih apa? Benih persaudaraan, benih kepedulian, dan benih kasih.

Jika benih adalah Firman Allah, dan penabur adalah orang yang mengabarkannya, lalu apa arti tanah? Tanah, yang menerima benih, sebagaimana yang dijelaskan oleh Yesus, adalah hati. Hati seseorang digambarkan seperti tanah, tempat benih ditabur. Hal ini dapat dilihat di Matius 13:19 “Benih ditaburkan ke dalam hati seseorang”.

Ini berarti bahwa berbagai macam tanah yang digambarkan di dalam perumpamaan ini merupakan gambaran dari berbagai macam sikap hati manusia, yaitu: di pinggir jalan (hati yang yang lembek), di tanah yang berbatu-batu (hati yang keras), di tengah semak duri (hati yang diliputi kekhawatiran), dan di tanah yang baik atau subur (hati yang terbuka atau rendah hati).

Melalui Yesus, Allah mengkomunikasikan kasih-Nya kepada kita manusia. Dalam Ekaristi, kita selalu mengenangkan kasih Allah itu. Kita menghadirkan kembali kasih Allah dalam diri Yesus yang telah menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya untuk keselamatan kita.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana hati kita terhadap kasih Allah itu selama ini? Kita termasuk jenis tanah yang mana? Apa upaya yang dibuat agar hati kita menjadi tanah yang subur?

Marilah kita mohon agar kita dapat menjadi penabur benih yang baik, kita menjadi tanah yang baik (hati yang terbuka dan rendah hati), dan dapat maneges kersa Dalem Gusti (memahami kehendak Tuhan) atas pengalaman hidup yang kita hadapi.#

Yohanes Gunawan, Pr

Rektor Seminari Tahun Orientasi Rohani Sanjaya,

Jangli – Semarang

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *