Merawat Bumi Bisa Dimulai Dengan Tindakan-tindakan Kecil

Uskup Tanjungkarang Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo dalam acara Earth Hour 2026, 28 Maret 2026, menyoroti maraknya kerusakan yang menimpa Bumi rumah kita bersama. Untuk menyikapinya, menurutnya, perlu memakai sudut pandang iman, yakni melihat dari motivasi Allah menciptakan alam.

“Kalau dari sudut pandang iman ya kita harus kembali ke motivasi awal Allah menciptakan alam ini untuk kita manusia. Karena kita makhluk yang berakal budi yang bisa mengerti, untuk memaknai apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah, dari sudut pandang iman berarti ya kalau dulu Allah menciptakan segalanya baik ya dan itu untuk manusia, nah sebetulnya tugas kita menjaga alam itu tetap baik adanya,” kata Uskup yang biasa disapa Mgr Avin itu.

Terkait dengan bumi yang sudah terlanjur rusak, Mgr Avin mengatakan, kita tidak bisa menolak, menerima fakta dan kenyataan tersebut. “Kita berada dalam situasi dan kondisi di mana alam sudah rusak pada zaman kita,” ungkapnya.

Meski bumi terlanjur rusak karena adanya pencemaran dan eksploitasi, kita tetap mempunyai tugas untuk memelihara. “Karena ada tugas dari Allah untuk memelihara dan melestarikan alam ciptaan ini, berarti tugas itu tetap ada dan sekarang menjadi tugas kita bersama,” kata Mgr Avin.

Ada beberapa krisis yang antara satu tempat dengan tempat lain berbeda-beda seperti kebakaran hutan, curah hujan yang terlalu tinggi hingga mendatangkan banjir, aneka macam polusi seperti polusi air, tanah, dan udara. Namun, menurut Mgr Avin, yang paling besar terjadi adalah krisis kemanusiaan. Apalagi ketika penyebab krisis tersebut adalah manusia. “Karena yang bisa tadi memaknai hidup ini adalah manusia, maka sebetulnya ini menjadi krisis kemanusiaan,” ungkap Mgr Avin.

Menurutnya, krisis kemanusiaan terjadi karena manusia salah kaprah dalam menikmati anugerah Tuhan. Manusia menikmati anugerah itu dengan cara sangat egois. “Lalu ada paradoks di situ bahwa manusia sendiri yang merusak, lalu manusia sebetulnya yang menjadi korban,” katanya.

Ada kecenderungan manusia tidak menyadari bahwa sebagai perusak, ia pula yang bisa menjadi korban.  “Nah, ini yang mungkin kurang disadari sehingga kalau ada yang sampai menulis bahwa ini dunia sedang menuju katastrofe, itu ada kerusakan yang sangat besar yang mungkin tidak bisa diperbaiki. Ada yang mengatakan dunia menuju domesday. Itu semacam kiamatnya dunia. Ada yang mengatakan bahwa dunia atau bumi ini sedang melakukan bunuh diri,” kata Mgr Avin.

Menurutnya, kalau misalnya bumi sedang bunuh diri ini sebetulnya bukan buminya tapi manusianya. “Di balik dari apa namanya tugas untuk merawat bumi, ternyata ya ada godaan besar manusia untuk secara serakah mengambil semua yang ada di bumi ini tanpa berpikir panjang bahwa nanti akan menghancurkan bumi ini,” ungkapnya.

Ketika dibandingkan antara daya kerusakan lingkungan dengan banyaknya manusia yang sadar untuk merawat seperti tidak seimbang. Ketika individu atau komunitas berusaha merawat bumi, di sisi lain ada pihak-pihak yang merusak bumi dengan kekuatan berskala besar. Kalau tidak hati-hati orang yang sudah punya niat baik merawat bumi bisa frustasi karena merasa tidak berguna.

“Kalau kita ngambili sampah itu tidak akan sebanding dengan mereka yang membuang sampah langsung bergunung-gunung begitu kan. Padahal kita ngambil satu-satu sampah plastik atau kalau kita punya gerakan menanam pohon ya itu langsung tidak sebanding dengan kerusakan karena pembukaan atau pembabatan hutan yang masif itu. Jadi kalau dipikir memang ya seperti tidak berguna ya, ya pasti mendatangkan frustrasi. Tapi kalau kemudian kita berhenti pada frustrasi, putus asa dan menyerah, tidak ya, artinya kita tidak berbuat apa-apa ya. Kalau pada akhirnya tadi dunia menghancurkan diri sendiri, bumi sudah makin apa hancur total, ya tidak boleh nyalahkan siapa-siapa kalau akhirnya kita semua menjadi korban. Begitu ya. Maka sekecil apapun kita buat dan itu juga saya kira bisa menjadi prinsip karena tadi juga banyak dibuat ilustrasinya tidak ada perubahan besar tanpa mulai dari langkah-langkah yang kecil. Saya sepakat dengan itu. Nah, yang penting adalah kita ya bertahan kalau kita melakukan sesuatu yang baik,” katanya. Frustasi bisa dipupus dengan melakukan berbagai upaya yang bisa membawa pengharapan.

Menurutnya, ketika anak-anak muda diberi pemahaman dan narasi yang baik akan pentingnya merawat bumi, mereka juga bisa peduli dan ikut prihatin. “Kalau tadi anak-anak muda sudah diajak untuk memahami dan menyampaikan narasi dengan baik, mereka sudah dilatih untuk peduli, untuk prihatin, saya kira nanti juga menjadi kesempatan kita untuk memperluas lingkaran pengaruh ya. Artinya apa yang kita buat secara kecil-kecil individu atau kelompok-kelompok kecil nanti bisa menjadi gerakan masyarakat ya. Dan akhirnya kita punya sarana sekarang ini media sosial yang bisa menunjukkan bahwa oh ada sesuatu yang baik dari sana. Itu menjadi bukti, menjadi bukti bahwa ternyata juga bisa diatasi ya,” ungkapnya.

Untuk menjaga semangat merawat bumi, itu bisa dilakukan dengan tetap setia dan rutin melakukan tindakan-tindakan kecil tanpa harus menghakimi orang lain yang belum mau melakukan tindakan-tindakan konkret. Misalnya, tetap secara rutin mengambil sampah seperti di jalan, meski orang lain tidak peduli.  “Saya kira nanti juga akan apa istilahnya menjadi pengaruh bagi orang lain untuk juga melakukan yang sama. Apalagi kalau sudah dari usia dini diberi, katakanlah, pendampingan semacam itu. Ya, saya kira sudah banyak buku juga sudah menulis bagaimana sekolah ramah lingkungan, tempat ibadah juga ramah lingkungan dan RT misalnya mengadakan lomba membuat lingkungan ramah, apa RT ramah lingkungan.  Yang penting kita tidak mengadili siapapun. Artinya kita tetap melakukan sesuatu yang baik ya. Karena kalau sudah mulai menghakimi, menyalahkan, lalu kita tidak berbuat apa-apa ya sama saja kita percuma begitu,” katanya.

Salah satu gerakan merawat bumi secara global adalah Earth Hour, mematikan lampu serta perangkat elektronik selama 1 jam. Menurut Mgr Avin, Earth Hour kalau dilakukan seluruh dunia secara masif, mungkin bisa memberikan kesempatan bumi untuk bernapas, mendinginkan dirinya, dan terjadi penghematan energi yang sangat signifikan.

Namun, selain menghemat energi, Mgr Avin juga mengajak untuk menghemat air, misalnya ketika mandi. “Nah kalau belum butuh mandi ya tidak harus mandi. Nah itu salah satu cara untuk hemat air begitu. Ya, kadang kita ini lupa karena serakah dan ego egoisnya kita itu ya maunya itu menikmati secara puas, apapun ya sepuas-puasnya. Padahal mandi kan sebetulnya juga dua gayung cukup kali ya. Yaitu kita pakai apa namanya kanebo. Ini ada uskup setaraf dengan mobil untuk membersihkan dirinya dengan kanebo. Tapi saya kira itu sangat perlu karena saya suka di kebun, di hutan ya yang penting ya. Nah kalau orang mungkin sudah mulai protes kok uskupnya bau ya saya akan cari minyak wangi,” katanya.

Ia pun berpesan supaya kita tidak lelah untuk berbuat baik dan memikirkan nasib generasi mendatang. “Kita tidak berhenti di masa kita,” katanya. Menurutnya, kita harus memikirkan generasi mendatang, generasi yang pada saat ini belum bersuara. “Nah, dari krisis itu sebetulnya kita punya hutang besar untuk generasi yang akan datang. Kalau kita mewariskan sesuatu yang buruk, yang sudah hancur lebur untuk generasi yang akan datang itu betapa egoisnya kita. Nah, maka mari mungkin pesan yang saya kira penting, kita ingat anak cucu kita walaupun mereka belum ada. Tapi kita berusaha mewariskan bumi yang indah untuk mereka,” pesan Mgr Avin.

 

Bagikan:

Recommended For You

About the Author: redinspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *