Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Bendiktus Abas. Ia lahir sekitar tahun 489, di Nursia Italia Tengah, kakak kadung dari St. Skolastika. Dia dikirim ke Roma untuk studi, tetapi kemudian memilih hidup sebagai pertapa bersama dengan teman-temannya. Dia mendirikan pertapaan yang kemudian dikenal sebagai Ordo Benediktin. Peraturan kehidupan membiara dia perbaharui. Dia meninggal tahun 547 dan di makamkan di Monte Casino.
Dalam Ams 2: 1-9 diserukan: Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menunjukkan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.
Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
Matius dalam injilnya (Mat 19: 27-29) mewartakan: Ketika itu Petrus berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Benediktus meski diberi dukungan dan perutusan untuk studi di kota besar, lebih memilih di pegunungan dan bertapa. Di sana bersama dengan teman-temannya di dalam keheningan dan doanya, dia menemukan pengetian tentang Allah yang hidup dan kehadiran-Nya. Pengalaman iman itu mendorong dia untuk membaharui kehidupan di pertapaannya. Karena kuasa Allah dan kekuatan doanya, biaranya berkembang dan tetap hidup sampai sekarang. Hendaknya kita pun yakin bahwa ketika Allah dan doa kita menjadi sumber kekuatan, pekerjaan kita akan berkembang.
Dua, Yesus menegaskan bahwa apa yang ditaburkan orang dengan kesetiaan dan kegembiraan, hasilnya akan mengagumkan. Hendaknya kita selalu percaya akan hal ini. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
