Dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Kampung halaman di Belikrejo, Gambiranom, Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah; Timin stir mobil sendirian. Perjalanan yang amat panjang membutuhkan waktu tempuh belasan jam hanya dari Jakarta sampai Semarang saja.
Di tengah kemacetan yang terjadi, Timin merasa terhibur oleh sapaan melalui pesan WA dari Gus Qodir. Gus Qodir adalah pengasuh pondok pesantren Roudhotus Sholikhin di Loireng, Demak, Jawa Tengah.
“Kapan turun ke Jawa malih?” begitu bunyi pesan Gus Qodir. “Ashiap Gus, Insya Allah nanti siang saya sampai Roudhotus Solikhin ya” jawab Timin. “Napa nggih?? (Apa iya sih?)” sahut Gus Qodir. “Masak Romo bohong” jawab Timin. “Padahal kalau Kyai banyak yang suka bohong..” sahut Gus Qodir. “Pokoknya hari ini Gus Qodir harus di rumah tidak boleh pergi dan Mbakyukuh harus nyambel terong ” tegas Timin.Begitulah chatting antara Gus Qodir dan Timin. Dan itu menjadi penghiburan bagi Timin dalam rangkaian perjalanannya mudik Lebaran 2026. Gus Qodir memang unik. Sebagai Kiai muda, ia mewarisi spirit mendiang ayahnya, KH. Noer Ahmad Shulhan menjadikan pondok pesantren sebagai ruang pendidikan perdamaian dalam keberagaman dan perbedaan dalam inklusivitas.Timin selalu krasan setiap kali berjumpa Gus Qodir dan keluarganya, juga di pondoknya. Begitulah Lebaran 2026 menjadi momentum bagi Timin bersilaturahim ke Ponpes Roudhotus Sholihin di Demak.
Saat tiba di Pondok Pesantren tersebut, Gus Qodir pun menyambut Timin dengan penuh keramahtamahan dan kasih rahmatan lil alamin. Inilah sharing pengalaman yang indah hadiah Lebaran 2026 bagi Timin. Alhamdulillah. Puji Tuhan Syukur kepada Allah. (Timin)
