Hari ini kita memperingati 1 orang kudus yaitu St. Atanasius – Uskup dan Pujangga Gereja.
Melalui 1Yoh 5: 1-5 Yohanes menyapa umatnya: Saudara-saudara, setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Matius 10: 22-25a mewartakan sabda Yesus kepada orang banyak: Kamu akan dibenci semua orang karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu di kota yang satu, larilah ke kota yang lain. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.
Seorang murid tidak lebih tinggi daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.
Hikmah yang dapat kita petik:
Satu, Yohanes menyatakan bahwa setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah. Itu berarti kepercayaan itu mulia dan tinggi sekali nilainya. Orang yang demikian punya relasi yang sungguh dekat dengan Allah. Apa yang dikatakan dan dilakukan berasal dari Allah. Maka, dia “lahir/berasal dari Allah”. Semoga apa yang kita katakan dan kita lakukan bersumber dari Allah dan bukan dari kekecewaan/kemarahan/kebencian atau dari kuasa kegelapan.
Dua, Yesus sebagai Guru Agung telah mengingatkan para murid-Nya bahwa mereka akan dibenci/difitnah/sengsara ketika mewartakan Dia atau mengajar atas nama-Nya. Apa yang dikatakan Yesus telah terjadi pada masa itu, pada zaman para bapa gereja, hingga saat ini. Mereka bisa bertahan dalam penderitaan itu karena Allah menyertai bahkan “sudah hadir sebelum semuanya itu terjadi”. Hendaknya kita percaya penuh kepada Allah atas penyertaan dan kesetiaan-Nya yang tidak ada bandingannya. Amin.
Mgr Nico Adi MSC
